16 Besar Liga Champions 2025/2026: Mengapa 4 Wakil Inggris Gugur dan Kebobolan Banyak Gol?

4 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Dominasi Premier League di Eropa kembali dipertanyakan. Enam wakil Inggris sempat mencatat sejarah dengan lolos ke fase gugur Liga Champions 2025/2026.

Namun, harapan itu runtuh di babak 16 Besar. Hanya Arsenal dan Liverpool yang mampu melangkah ke perempat final.

Empat tim lainnya harus angkat koper. Manchester City, Chelsea, Newcastle, dan Tottenham tersingkir dengan kekalahan mencolok.

Secara keseluruhan, keempat tim tersebut kebobolan 28 gol, menunjukkan bahwa itu adalah pengalaman yang memalukan bagi klub-klub Premier League.

Newcastle kebobolan delapan lagi, begitu juga dengan Chelsea. Tottenham juga harus kebobolan tujuh kali lawan Atletico Madrid. Sementara, gawang Man City lima kali dibobol Real Madrid.

Kegagalan ini bukan sekadar soal kualitas. Ada faktor lain yang mulai menjadi sorotan serius: padatnya jadwal kompetisi domestik.

Jadwal Padat Jadi Beban Nyata

Klub-klub Premier League menghadapi kalender yang sangat padat. Mereka harus bersaing di liga, piala domestik, dan kompetisi Eropa secara bersamaan.

Beban ini berdampak langsung pada kondisi fisik pemain. Kelelahan menjadi masalah yang sulit dihindari.

Manajer Chelsea, Liam Rosenior, mengungkapkan situasi tersebut. Ia menyebut timnya kelelahan setelah memainkan lebih dari 100 pertandingan dalam 18 bulan tanpa istirahat.

Keluhan serupa juga datang dari Pep Guardiola. Ia bahkan menyebut jadwal yang ada sebagai bencana bagi para pemain.

Tanpa Jeda, Inggris Kalah dari Eropa

Berbeda dengan Premier League, liga-liga lain memiliki jeda musim dingin. Liga di Prancis, Jerman, dan Spanyol memberi waktu istirahat 10 hingga 17 hari.

Kondisi ini memberi keuntungan signifikan. Pemain memiliki waktu untuk pemulihan fisik dan mental.

Sementara itu, klub Inggris terus bermain tanpa henti. Hal ini membuat mereka memasuki fase krusial dengan kondisi yang tidak ideal.

Arne Slot bahkan menilai tidak adanya jeda musim dingin di Inggris sebagai faktor yang tidak membantu.

Dampak Fisik dan Cedera yang Tak Terelakkan

Padatnya jadwal berdampak pada menit bermain pemain. Delapan pemain dengan menit bermain terbanyak di Liga Champions berasal dari klub Inggris.

Virgil van Dijk menjadi contoh paling nyata. Ia memimpin daftar pemain dengan beban menit tertinggi.

Beban ini meningkatkan risiko cedera. Tottenham menjadi salah satu tim yang paling terdampak oleh masalah ini.

Ketika fisik tidak optimal, performa ikut menurun. Hal ini terlihat dari banyaknya gol yang kebobolan oleh klub-klub Inggris.

Alarm untuk Premier League

Kegagalan ini menjadi sinyal peringatan. Premier League harus mulai mengevaluasi struktur kompetisinya.

Ambisi bersaing di semua ajang harus diimbangi dengan manajemen beban pemain. Tanpa itu, risiko kelelahan akan terus menghantui.

Jika tidak ada perubahan, situasi serupa bisa terulang. Klub-klub Inggris akan kesulitan bersaing di level tertinggi Eropa.

Liga Champions musim ini menjadi bukti nyata. Dominasi tidak cukup tanpa manajemen fisik yang tepat.

Sumber: BBC Sport

5 Pemain Muda Terbaik di Dunia Sepak Bola Saat Ini, Punya Potensi Jadi Legenda Dunia

Read Entire Article
Bisnis | Football |