AC Milan: Alasan Rafael Leao dan Christian Pulisic Belum Klik di Lini Depan

1 week ago 21

Liputan6.com, Jakarta - AC Milan memasuki fase krusial Liga Italia dengan persoalan yang belum terpecahkan di lini serang. Duet Rafael Leao dan Christian Pulisic belum menunjukkan koneksi yang diharapkan meski keduanya diproyeksikan sebagai ujung tombak utama.

Pelatih Massimiliano Allegri menilai keduanya memiliki kemampuan untuk membongkar pertahanan, membuka ruang bagi rekan setim, serta mencetak gol sekaligus menciptakan peluang. Realitas di lapangan menunjukkan mereka lebih sering bekerja sendiri-sendiri daripada membangun kombinasi.

Jumlah pertandingan Liga Italia yang tersisa semakin menipis sehingga waktu untuk membentuk kerja sama efektif menjadi sangat terbatas. Kondisi ini membuat efektivitas serangan belum sebanding dengan potensi yang dimiliki dua pemain tersebut.

Masalah Kebugaran Menghambat Konsistensi

Cedera menjadi faktor utama yang mengganggu kesinambungan duet Leao dan Pulisic sepanjang musim. Ketika salah satu pemain tersedia, yang lain justru harus menepi karena masalah fisik.

Leao sempat terganggu nyeri pangkal paha yang muncul perlahan dan tidak pernah benar-benar pulih. Pulisic menjalani musim dengan rangkaian masalah fisik mulai dari pergelangan kaki, hamstring, hingga bursitis yang menjadi kendala terbarunya.

Akibatnya, mereka hanya beberapa kali tampil bersama sebagai starter di liga. Laga melawan Parma akhir pekan kemarin menjadi pertandingan keempat di mana keduanya turun sejak menit awal secara bersamaan.

Pola Main Individual Masih Dominan

Dalam laga terakhir itu, di mana Milan kalah 0-1 dari Parma di San Siro, peluang yang tercipta menunjukkan kurangnya koneksi langsung antara dua penyerang tersebut. Pulisic mendapatkan peluang dari umpan Alexis Saelemaekers dan Adrien Rabiot, sementara Leao mengenai tiang gawang dari situasi umpan silang Rabiot.

Situasi itu menegaskan bahwa kontribusi mereka datang dari skema yang terpisah, bukan hasil kombinasi satu sama lain. Mereka lebih terdorong menyelesaikan peluang individu daripada membangun serangan bersama.

Secara statistik, produktivitas keduanya masih berada di jalur positif. Pulisic mencetak rata-rata satu gol setiap 112 menit, sedangkan Leao sudah menyamai total golnya musim lalu meski musim ini belum berakhir.

Angka tersebut memperlihatkan kualitas personal tetap terjaga meski kerja sama belum optimal. Akan tetapi, rancangan utama duet ini adalah menjadi pasangan yang saling menghidupkan permainan dalam satu sistem.

Kondisi ini membuat AC Milan masih mencari formula terbaik agar dua bintang lini depan itu bisa klik dan dapat saling melengkapi. Jika kebugaran stabil dan pola bermain lebih terintegrasi, potensi mereka sebagai duet bisa menjadi pembeda dalam sisa musim Liga Italia.

Sumber: Sempre Milan

Klasemen Serie A/Liga Italia

Real Madrid: Aduan Benfica atas Federico Valverde Ditolak UEFA

Read Entire Article
Bisnis | Football |