Alvaro Arbeloa Tegas Bela Vinicius Junior: Rasisme Tak Bisa Ditoleransi, UEFA Harus Bertindak

3 weeks ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, melontarkan pernyataan keras terkait dugaan tindakan rasisme yang menimpa Vinicius Junior. Ia menegaskan bahwa tidak ada alasan apa pun yang bisa membenarkan tindakan rasis di lapangan sepak bola.

Pernyataan tersebut disampaikan Arbeloa jelang laga La Liga kontra Osasuna, menyusul insiden yang terjadi pada pertandingan tengah pekan lalu. Saat itu, Vinicius diduga menjadi korban pelecehan rasial dari pemain lawan, Gianluca Prestianni.

Arbeloa mengungkapkan bahwa winger asal Brasil itu sempat merasa sedih dan geram atas kejadian tersebut.

“Dia sedih, seperti kita semua, dan sangat tersinggung. Itu tindakan rasis yang tak ingin kita lihat lagi. Tidak ada tempat untuk itu di olahraga ini. Kita punya kesempatan besar untuk memastikan hal ini tidak dibiarkan begitu saja,” ujar Arbeloa.

Insiden tersebut membuat wasit mengaktifkan protokol anti-rasisme dan pertandingan sempat tertunda sekitar 10 menit. Meski demikian, laga akhirnya dilanjutkan setelah keputusan diambil langsung oleh Vinicius.

“Itu keputusan Vinicius. Jika dia bilang kita harus meninggalkan lapangan, maka kami semua akan masuk ke ruang ganti tanpa ragu. Saya sangat bangga dengan respons tim. Cara kami mendukungnya dan tetap melanjutkan pertandingan menunjukkan solidaritas yang luar biasa,” tegas Arbeloa.

Respons atas Komentar Mourinho

Isu ini semakin melebar setelah mantan pelatih Madrid, Jose Mourinho, mengomentari peristiwa tersebut. Mourinho disebut mengalihkan fokus pembahasan dari dugaan rasisme ke selebrasi Vinicius yang dianggap memancing reaksi suporter.

Arbeloa, yang dikenal memiliki hubungan baik dengan Mourinho, memilih berhati-hati. Namun ia dengan jelas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap narasi yang menyudutkan Vinicius.

“Kita semua melihat apa yang terjadi. Jangan sampai kita mengubah topik. Vini mencetak gol luar biasa dan merayakannya seperti yang sudah sering kita lihat, menari, mengekspresikan kegembiraan. Banyak pemain melakukan itu selama bertahun-tahun,” katanya.

“Kita tidak bisa menggambarkan korban sebagai provokator. Apa pun yang dilakukan Vinicius di lapangan tidak pernah membenarkan tindakan rasis.”

Desakan untuk UEFA: Jangan Sekadar Wacana

Kasus ini kini berada dalam penyelidikan UEFA. Jika terbukti bersalah, pelaku terancam sanksi minimal larangan bermain 10 pertandingan. Namun hingga kini, bukti yang tersedia masih terbatas pada kesaksian Vinicius dan Kylian Mbappe.

Arbeloa mendesak UEFA agar menunjukkan komitmen nyata dalam memerangi rasisme. “Sekarang ada di tangan UEFA. Ini waktunya menunjukkan bahwa perjuangan melawan rasisme bukan sekadar kata-kata. Saya percaya harus ada sanksi. Ini momen penting untuk menjadi titik balik,” ujarnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |