Atalanta Dibantai 1-6, Pelatih Tegaskan Tak Akan Parkir Bus Lawan Bayern!

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Atalanta mengalami nasib tragis setelah dihancurkan Bayern Munchen dengan skor mencolok 1-6 pada babak 16 besar Liga Champions. Sang pelatih, Raffaele Palladino, memberikan pernyataan mengejutkan mengenai filosofi taktik militan timnya.

Tragedi memilukan tersebut terjadi pada pertandingan leg pertama di markas Bergamo pada Rabu, 11 Maret 2026 dini hari WIB. Skuad asuhan Palladino tampak benar-benar tidak berdaya meredam gempuran serangan mematikan dari raksasa Jerman.

Perbedaan kualitas individu antar pemain dianggap menjadi penyebab utama di balik hasil yang menyakitkan ini. Enam gol yang bersarang di gawang tuan rumah menjadi bukti nyata keunggulan kualitas serangan skuad Bavaria.

Walaupun menelan kekalahan yang sangat memalukan, sang juru taktik enggan menyerah begitu saja pada keadaan. Palladino secara terbuka menolak untuk menyalahkan skema permainan terbuka yang selama ini ia terapkan.

Kualitas Top Bayern Munchen

Bayern Munchen tampil sangat mengesankan dengan perpaduan serangan sayap yang terorganisir dan mematikan. Ketajaman para penyerang lawan membuat barisan pertahanan Atalanta kocar-kacir hampir di sepanjang pertandingan.

Palladino mengakui dengan jujur bahwa level permainan lawan sangat sulit diredam hanya dengan pendekatan taktik semata. Ia merasa belum pernah bertemu tim dengan kualitas distribusi bola dan kecepatan selevel Bayern.

"Pertama-tama mari ucapkan selamat kepada Bayern. Mereka tim yang sangat kuat, terkadang mereka benar-benar tidak bisa dihentikan," ungkap Raffaele Palladino dalam keterangannya.

Mental Baja Tolak Skema Parkir Bus

Sistem penjagaan satu lawan satu atau man-to-man marking yang menjadi andalan Atalanta terbukti menjadi bumerang fatal di laga ini. Namun, pendekatan berani tersebut merupakan kunci dari rentetan keberhasilan La Dea pada masa sebelumnya.

Juru taktik asal Italia itu secara tegas menolak opsi untuk beralih ke sistem pertahanan zona yang lebih rapat. Ia lebih memilih anak asuhnya terus berjuang secara heroik daripada harus menumpuk banyak pemain di lini belakang.

"Ini adalah pengalaman yang akan membuat kami terus berkembang. Saya akan melakukannya dengan cara yang sama jika kami bermain lagi," ujar sang pelatih dengan penuh keyakinan.

Palladino menegaskan bahwa timnya tidak akan pernah bertahan secara zona dan siap menerima segala konsekuensi dari hasil tersebut. Baginya, pilihannya hanya dua: memenangkan pertandingan atau belajar dari kesalahan untuk validasi komitmen taktik tim.

Bam Adebayo Pecahkan Rekor Poin Kobe Bryant di NBA, Cetak 83 Poin

Read Entire Article
Bisnis | Football |