Final Carabao Cup: 3 Catatan saat Arsenal Tumbang tanpa Playmaker, City Menang Lewat Detail Kecil

10 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Manchester City keluar sebagai juara Carabao Cup 2025/2026. Mereka menaklukkan Arsenal dengan skor 2-0 di Wembley, Minggu (22/3) dini hari WIB. Dua gol Nico O’Reilly menjadi pembeda dalam laga ini.

Pertemuan dua tim teratas Premier League ini menyajikan duel dengan tensi tinggi. Namun, pertandingan tidak sepenuhnya berjalan atraktif. Babak pertama berlangsung hati-hati dari kedua tim.

Situasi berubah drastis selepas jeda. Manchester City tampil dominan dan mampu menekan Arsenal secara konsisten. Momentum pertandingan sepenuhnya beralih ke kubu Pep Guardiola.

Bagi Arsenal, laga ini menjadi pukulan telak. Harapan meraih trofi pertama sejak 2020 pupus. Kekalahan ini juga membuka kembali keraguan soal konsistensi mereka di fase krusial musim.

Duel Kiper Kedua: Detail Kecil yang Mengubah Segalanya

Kedua manajer tetap setia kepada kiper yang membantu mereka mencapai final di Wembley, dengan kiper cadangan David Raya dan Gianluigi Donnarumma mempertahankan posisi mereka.

Keputusan Mikel Arteta memberi Kepa Arrizabalaga kesempatan untuk menebus kekalahan di final Piala Carabao, setelah menderita dua kekalahan di pertandingan ini selama masa baktinya di Chelsea.

Kesalahan penanganan Kepa dari umpan silang Rayan Cherki secara langsung menyebabkan gol pembuka Man City beberapa saat sebelum O'Reilly mencetak gol lagi.

Kesalahan itu adalah titik terendah Kepa dalam penampilannya di final. Kepa juga mendapat kartu kuning karena menarik Jeremy Doku.

Guardiola dan Makna Emosional di Balik Trofi

Pep Guardiola tidak menyembunyikan kekagumannya pada piala domestik Inggris, baru-baru ini memuji Carabao Cup, saudara kandung yang jauh lebih tua dan tidak disponsori.

“Saya menyukai Piala FA, itu adalah bagian dari hidup saya ketika saya masih kecil. Saya lebih suka bermain di kandang, tetapi pertandingan tandang di Piala FA adalah yang terbaik," ucapnya beberapa waktu lalu.

"Saya pikir setelah 10 tahun, saya tidak menyukai beberapa hal di negara ini, tetapi ada banyak hal yang saya sukai dan ini adalah salah satunya,” tegasnya.

Mungkin itulah mengapa kemenangan ini tampak sangat berarti bagi Guardiola. Pelatih City ini tidak pernah menjadi pelari di pinggir lapangan, lebih sering mengepalkan tinju dan berbalik dengan gembira ke bench, tetapi ia tidak bisa menahan diri setelah kedua sundulan O’Reilly.

Arsenal Tanpa Playmaker: Serangan Tumpul dan Mudah Terbaca

Arsenal telah dicerca oleh banyak orang karena gaya permainan mereka yang dianggap tidak menarik, yang didasarkan pada fisik yang superior dan taktik bola mati yang rumit.

Arsenal tidak memainkan Eberechi Eze dan Martin Odegaard di final, dua playmaker utamanya. Walau masih bisa mengkreasi peluang lewat Kai Havertz, Arsenal jelas mengalami kebuntuan pada banyak momen.

Situasi makin pelik ketika Man City punya solusi pada setiap skema bola mati The Gunners. Pada akhirnya, tanpa dua plyamaker utama di lapangan, Arsenal benar-benar kesulitan mencari jalan keluar.

Sumber: FotMob

Luke Shaw Bikin Manchester United Kembali Pantau Incaran Lama

Read Entire Article
Bisnis | Football |