Kisah Haru Igor Thiago: Dari Hidup Susah Kini Jadi Senjata Rahasia Brasil di Piala Dunia 2026

18 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan mengejutkan dibuat Carlo Ancelotti saat merilis daftar 26 pemain Timnas Brasil untuk Piala Dunia 2026. Di tengah deretan nama besar seperti Vinicius Junior, Rodrygo, hingga Endrick, muncul satu nama yang membuat banyak penggemar bertanya-tanya: Igor Thiago.

Striker milik Brentford itu memang bukan sosok yang sejak awal diprediksi akan masuk skuad utama Selecao. Namun, performa impresifnya di Premier League membuat Ancelotti yakin bahwa Igor Thiago layak mendapatkan tempat di turnamen terbesar dunia tersebut.

Perjalanan menuju Piala Dunia 2026 pun tidak datang dengan mudah bagi pemain berusia 24 tahun itu. Igor Thiago harus melewati jalan panjang penuh penolakan, kemiskinan, hingga cedera berat sebelum akhirnya mengenakan jersey kuning Brasil di panggung terbesar sepak bola dunia.

Kini, kisah hidup Igor Thiago menjadi salah satu cerita paling inspiratif di skuad Brasil. Dari anak keluarga sederhana di Gama hingga dipercaya Carlo Ancelotti sebagai salah satu striker Tim Samba, semuanya terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Dari Kehidupan Sulit hingga Hampir Menyerah Mengejar Mimpi

Igor Thiago lahir di Gama, kota satelit Brasilia, pada tahun 2001 dalam keluarga sederhana. Sejak kecil, ia bermimpi menjadi pesepakbola profesional dan banyak terinspirasi oleh sang kakak, Maycon, yang usianya terpaut 15 tahun lebih tua.

Hidup Igor berubah drastis ketika ayahnya meninggal saat ia masih berusia 13 tahun. Kehilangan sosok panutan membuat masa remajanya dipenuhi tekanan emosional dan kesulitan ekonomi yang sangat berat.

Ibunya, Maria Diva, hanya bekerja sebagai petugas kebersihan jalanan dengan penghasilan minimum. Situasi itu membuat keluarga mereka beberapa kali kesulitan membeli makanan, pakaian, hingga membayar listrik rumah.

Igor Thiago bahkan harus bekerja sejak usia muda demi membantu keluarganya bertahan hidup. Ia pernah menjadi asisten tukang batu, pekerja kios pasar, hingga penyebar brosur supermarket sambil tetap mencoba mengejar mimpi sebagai pesepakbola.

"Ibu saya mendapat upah minimum dan tidak dapat menghidupi empat orang. Saya mencoba membantu dengan segala cara yang saya bisa. Terkadang kami tidak punya apa-apa untuk dimakan atau dipakai. Kami harus meminjam, dan kami dipermalukan, bahkan oleh kerabat," katanya kepada ESPN pada 2024 silam.

Perjuangannya juga dipenuhi penolakan dari berbagai klub yang ia datangi untuk trial. Kegagalan demi kegagalan sempat membuat Igor Thiago frustrasi dan berhenti berlatih sepak bola untuk sementara waktu.

Namun, dukungan sang ibu membuatnya bangkit kembali dan tidak menyerah pada keadaan. “Ibu saya memberi saya kekuatan untuk tidak meninggalkan mimpi saya. Dia memberi saya energi untuk terus maju. Dia meminta saya untuk tidak menyerah karena janji yang telah saya buat kepadanya sejak lama,” katanya.

Dengan dukungan keluarganya, Igor Thiago mulai berlatih di rumah, berlari 10 kilometer setiap hari. Ia kemudian diundang untuk bergabung dengan tim junior di Vere, sebuah klub yang berkompetisi di divisi ketiga kejuaraan negara bagian Parana.

Igor Thiago lantas menunjukkan performa gemilang di tim U-17 Vere dengan memenangkan gelar juara negara bagian di kategorinya pada tahun 2018. Ia memimpin Vere meraih gelar juara junior pertama mereka sebagai pencetak gol terbanyak dengan 13 gol.

Awal Karier di Cruzeiro Tidak Berjalan Mulus

Performa apik bersama tim junior Vere akhirnya membuka jalan besar bagi Igor Thiago. Pada tahun 2019, ia mendapatkan kesempatan emas bergabung dengan akademi Cruzeiro, salah satu klub besar Brasil.

Namun, kedatangannya justru bertepatan dengan masa kelam Cruzeiro. Klub tersebut terdegradasi dari Brasileirao untuk pertama kalinya dalam sejarah dan mengalami krisis finansial yang sangat serius.

Dalam situasi yang kacau itu, Igor Thiago kesulitan berkembang secara maksimal. Ia sempat mengalami tekanan mental besar karena merasa tidak dihargai selama menjalani proses adaptasi di tim utama.

Meski begitu, ia perlahan mulai mendapatkan kesempatan bermain bersama skuad senior Cruzeiro di Serie B. Igor Thiago mencetak empat gol pada musim 2021, tetapi klub tetap gagal promosi ke kasta tertinggi Brasil.

Tekanan yang ia rasakan saat itu bahkan membuatnya memiliki pikiran gelap. “Ada hal-hal yang tidak diketahui siapa pun yang saya alami di Cruzeiro. Saya berpikir: besok saya akan menabrakkan mobil saya dan itu saja, karena saya tidak peduli, tidak ada yang menghargai saya,” ungkapnya, masih pada ESPN.

Bulgaria dan Belgia Jadi Titik Balik Kariernya

Kesempatan baru datang ketika Cruzeiro menjual Igor Thiago ke Ludogorets di Bulgaria pada tahun 2022. Transfer itu mungkin tidak terdengar glamor, tetapi justru menjadi titik balik penting dalam perjalanan kariernya.

Di Bulgaria, Igor Thiago cepat beradaptasi dengan lingkungan baru meski harus menghadapi bahasa, budaya, dan cuaca yang sangat berbeda. Ia perlahan berkembang menjadi striker utama Ludogorets dan membantu klub meraih berbagai gelar domestik.

Musim 2022/23 menjadi momen ledakan performanya di Eropa. Igor Thiago mencetak 20 gol dan 11 assist saat Ludogorets menyapu bersih gelar liga, piala domestik, dan super cup Bulgaria.

Penampilan impresif itu membuat Club Brugge tertarik memboyongnya ke Belgia pada musim panas 2023. Bersama klub raksasa Belgia tersebut, Igor Thiago kembali menunjukkan kualitasnya sebagai striker haus gol.

Ia sukses membawa Club Brugge menjuarai Jupiler Pro League dan mencapai semifinal Conference League. Igor Thiago juga tampil luar biasa dengan torehan 29 gol dan enam assist sepanjang musim 2023-24.

Cedera Berat tak Menghentikan Igor Thiago di Premier League

Brentford kemudian memecahkan rekor transfer klub demi merekrut Igor Thiago dari Club Brugge. Nilai transfer sebesar 30 juta pounds menunjukkan betapa besar kepercayaan klub Premier League itu terhadap potensinya.

Sayangnya, awal kariernya di Inggris berjalan sangat sulit. Igor Thiago mengalami cedera meniskus serius saat pramusim dan harus menepi selama lebih dari empat bulan usai menjalani operasi lutut.

Belum selesai dengan masalah tersebut, ia kembali terkena infeksi sendi langka yang membuatnya harus absen lebih lama lagi. Situasi itu membuat musim debutnya di Brentford nyaris berakhir tanpa kontribusi berarti.

Meski begitu, Igor Thiago kembali membuktikan mentalitasnya yang luar biasa. Setelah Bryan Mbeumo dan Yoane Wissa hengkang, ia mengambil tanggung jawab besar sebagai mesin gol utama Brentford.

Performa Igor Thiago langsung meledak di Premier League musim 2025-26. Ia mencetak 22 gol liga dan bersaing dengan Erling Haaland dalam perebutan Sepatu Emas Inggris.

Pelatih Brentford, Thomas Frank, bahkan sempat mengomentari cedera langka yang dialami sang striker. “Risiko terkena infeksi sendi sangat, sangat kecil, tetapi tampaknya kebalikannya terjadi pada pemain Brentford — alih-alih peluang dua persen, peluangnya adalah 98 persen,” katanya, seperti dilansir Sportsmole.

Alasan Igor Thiago Bisa Jadi Senjata Rahasia Brasil

Dengan tinggi mencapai 190 sentimeter, Igor Thiago menawarkan profil striker yang berbeda dibanding mayoritas penyerang Brasil saat ini. Ia memiliki kekuatan fisik, duel udara, dan kecepatan yang sangat berguna untuk pertandingan dengan tekanan tinggi.

Carlo Ancelotti tampaknya melihat Igor Thiago sebagai solusi alternatif ketika Brasil menghadapi pertandingan sulit di Piala Dunia 2026. Kehadirannya memberi dimensi baru di lini depan Selecao yang selama ini lebih mengandalkan pemain lincah dan cepat.

Selain kuat sebagai target man, Igor Thiago juga dikenal aktif membuka ruang bagi rekan-rekannya. Pergerakannya tanpa bola sangat membantu pemain seperti Vinicius Junior atau Rodrygo untuk menyerang area kosong.

Kemampuan finishing-nya juga semakin matang sejak bermain di Premier League. Insting mencetak gol dan positioning yang tajam membuatnya menjadi ancaman serius di dalam kotak penalti lawan.

Yang paling penting, Igor Thiago memiliki mentalitas kuat hasil dari perjalanan hidupnya yang penuh rintangan. Dari hidup miskin, mengalami penolakan, cedera panjang, hingga akhirnya masuk skuad Brasil untuk Piala Dunia 2026, semuanya membentuk karakter petarung yang kini dipercaya Carlo Ancelotti.

(Sportsmole)

Read Entire Article
Bisnis | Football |