Pengakuan Declan Rice: Dapat Pesan dari David Beckham Usai Cetak Gol Free Kick Sensasional

5 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Performa impresif Declan Rice bersama Arsenal membuat namanya melambung tinggi musim ini. Gelandang Timnas Inggris itu tak hanya disebut-sebut sebagai kandidat peraih Ballon d'Or, tetapi juga mulai dibandingkan dengan legenda sepak bola Inggris, David Beckham.

Julukan dan sorotan media datang bertubi-tubi. Wajah Rice kini terpampang di berbagai sudut London, simbol betapa besarnya pengaruh sang gelandang dalam perjalanan Arsenal memburu empat gelar sekaligus alias quadruple musim ini.

Nama Rice makin melambung setelah dua gol tendangan bebas spektakulernya ke gawang Real Madrid musim lalu. Momen itu bahkan mendapat pengakuan langsung dari Beckham.

“Dia mengirim pesan ke Instagram saya. Itu gila, karena dia punya momen-momen tendangan bebas terbesar dalam sejarah,” ujar Rice.

Bagi Rice, eksekusi bola mati bukan sekadar teknik, melainkan soal insting dan rasa. Ketika menempatkan bola untuk situasi set piece, ia mengandalkan feeling, memperhitungkan arah, kecepatan, dan efek bola dalam hitungan detik.

Kemampuan itu kini menjadi salah satu kekuatan utama Arsenal. Di bawah arahan Mikel Arteta dan pelatih bola mati Nicolas Jover, The Gunners menjelma sebagai salah satu tim paling mematikan di Eropa dalam situasi bola mati.

Rice sendiri mengakui, peran barunya sebagai eksekutor sepak pojok dan tendangan bebas bermula dari pemusatan latihan musim dingin di Dubai dua tahun lalu. Sejak saat itu, kontribusinya meningkat drastis, baik dalam mencetak gol maupun menciptakan assist.

Mimpi Quadruple dan Realistis Soal Ballon d’Or

Didatangkan dari West Ham United dengan mahar fantastis 105 juta poundsterling pada 2023, Rice memang bergabung dengan Arsenal untuk satu tujuan utama: meraih trofi.

Kini, Arsenal masih bertarung di empat kompetisi dan bersaing ketat di papan atas Premier League. Akhir pekan ini, mereka menghadapi laga penting melawan Chelsea yang bisa menentukan arah perburuan gelar.

Meski namanya masuk dalam bursa Ballon d’Or, Rice tetap membumi. Ia sadar, penghargaan individu hanya akan datang jika timnya meraih kesuksesan kolektif.

“Melihat pemenang Ballon d’Or sebelumnya, mereka selalu memenangkan trofi besar. Saya ingin tim sukses lebih dulu. Jika itu membawa saya ke percakapan tersebut, tentu luar biasa,” katanya.

Perjalanan Rice menuju puncak tidak instan. Ia sempat dilepas akademi Chelsea pada usia 14 tahun, momen yang bisa saja menghancurkan mental pemain muda mana pun. Namun, ia memilih bangkit bersama West Ham, hingga akhirnya menjadi kapten dan mengantar klub tersebut meraih gelar Eropa sebelum hijrah ke Arsenal. “Saya jujur saja, tidak pernah benar-benar membayangkan akan berada di posisi ini,” aku Rice. “Saya selalu percaya pada kemampuan sendiri, tapi yang membedakan saya adalah hati dan keinginan untuk terus berkembang.” Filosofi itu ia pegang teguh, termasuk nasihat sang ayah, Sean, yang selalu menekankan pentingnya peningkatan setiap musim. Mentalitas pantang menyerah itu terlihat jelas pekan lalu, ketika kesalahannya sempat berujung gol penyeimbang Tottenham. Alih-alih terpuruk, Rice bangkit dan membantu Arsenal menang telak 4-1.

Read Entire Article
Bisnis | Football |