Saat Liga Champions 'Memaksa' Hansi Flick dan Mikel Arteta Beradaptasi

1 month ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Fase liga Liga Champions musim ini mencapai titik penentuan pada rangkaian laga tengah pekan. Dengan 36 tim berada dalam satu klasemen besar, setiap gol berpotensi menggeser posisi secara drastis hingga peluit akhir dibunyikan.

Di tengah dinamika tersebut, perhatian tidak hanya tertuju pada pemain di lapangan. Peran pelatih di pinggir lapangan menjadi semakin krusial, terutama saat situasi pertandingan menuntut respons cepat dan tepat.

Mengutip laman resmi UEFA, analisis dari unit game insights menyoroti bagaimana intervensi pelatih kini menjadi bagian yang lazim di Liga Champions modern. Sejumlah contoh dari laga terkini menunjukkan dampak nyata perubahan taktik terhadap hasil akhir.

Flick Mengubah Struktur Permainan Barcelona

Kebangkitan Barcelona pada Matchday 6 melawan Eintracht Frankfurt menjadi contoh jelas dampak perubahan struktur permainan. Pada babak pertama, Barcelona menempatkan banyak pemain di area serang dengan bentuk 3-2-2-3 saat menguasai bola.

Pendekatan tersebut tidak berjalan mulus setelah mereka tertinggal satu gol. Kepadatan pertahanan Frankfurt membuat Barcelona kesulitan menemukan ruang di sepertiga akhir lapangan.

Pedri menggambarkan situasi itu usai laga. “Frankfurt bertahan sangat dalam, dan itu membuat segalanya menjadi rumit.”

Perubahan datang di babak kedua ketika Hansi Flick mengganti Fermin Lopez dengan Marcus Rashford. Flick menjelaskan alasan di balik keputusan itu.

“Kami butuh lebar permainan. Kami butuh Rashford untuk menarik mereka hingga ke garis gawang dan mengubah bentuk pertahanan mereka.”

Dengan beralih ke formasi 4-3-3 dan posisi full-back yang lebih dalam, tekanan Frankfurt terangkat ke area lebih tinggi. Situasi itu membuka ruang bagi Barcelona untuk menyerang lini belakang yang kini hanya terdiri dari empat pemain, termasuk saat Jules Kounde memanfaatkan celah yang muncul.

Arteta Memperkuat Pertahanan Arsenal

Pada Matchday 7, keputusan taktis juga diambil Mikel Arteta saat Arsenal menghadapi Inter. Dalam posisi unggul 2-1, Arteta memasukkan Declan Rice pada menit ke-64 untuk menggantikan Eberechi Eze.

Secara sistem, Arsenal tetap menggunakan formasi 4-3-3. Namun, karakter Rice yang lebih defensif memberi perlindungan tambahan bagi dua bek tengah Arsenal.

Sebelum pergantian itu, Arteta membiarkan bek tengahnya menghadapi dua penyerang Inter dalam duel satu lawan satu. Pendekatan agresif tersebut sejalan dengan pressing intens yang diterapkan Arsenal sepanjang laga.

Kehadiran Rice mengubah keseimbangan tersebut. Ia memberikan lapisan perlindungan ekstra dengan pergerakan menutup ruang di sekitar bek tengah, tanpa menghilangkan intensitas tekanan Arsenal.

Pep Guardiola sebelumnya pernah memuji kemampuan Arteta membaca pertandingan. “Ia memiliki bakat khusus untuk menganalisis apa yang terjadi dan menemukan solusinya.”

Arteta sendiri menegaskan dampak kolektif dari keputusan tersebut. “Pemain inti memberi dampak, pemain pengganti juga memberi dampak, dan itulah semua bahan yang Anda butuhkan pada akhirnya.”

Lanjut Baca:

AC Milan Bidik Nathan Ake, Opsi Baru di Lini Belakang Rossoneri

Read Entire Article
Bisnis | Football |