Suku Bunga The Fed Naik, Ini Dampaknya ke Kartu Kredit, KPR hingga Tabungan

7 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan setelah pertemuan September. Keputusan ini diambil ketika harga konsumen AS atau inflasi kembali naik pada Agustus di tengah perang dengan Iran.

Kebijakan tersebut juga diambil meski Presiden Donald Trump terus mendorong agar suku bunga diturunkan.

Dikutip dari CNBC, Kamis (17/9/2026), dalam upaya mengendalikan inflasi, Federal Open Market Committee (FOMC) yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh menaikkan suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4%.

Kenaikan ini diperkirakan berdampak luas terhadap perekonomian AS, mulai dari bunga kartu kredit, kredit kendaraan, KPR hingga rekening tabungan.

Federal funds rate merupakan suku bunga yang digunakan bank saat meminjam dan meminjamkan dana satu sama lain untuk jangka waktu semalam.

Masyarakat tidak meminjam langsung dengan suku bunga tersebut. Namun, kebijakan The Fed sangat memengaruhi biaya pinjaman dan imbal hasil tabungan konsumen.

Dampak ke Keuangan Konsumen

Secara umum, suku bunga pinjaman konsumen jangka pendek berkaitan erat dengan prime rate, yang biasanya sekitar 3 poin persentase di atas federal funds rate.

Sementara itu, suku bunga jangka panjang lebih banyak dipengaruhi ekspektasi inflasi dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Kenaikan 25 basis poin ini merupakan kenaikan pertama sejak Juli 2023. Kebijakan tersebut akan mendorong prime rate naik dan membuat biaya pembiayaan sejumlah pinjaman konsumen meningkat.

Ekonom Kepala Moody's Mark Zandi mengatakan, rumah tangga yang lebih kaya dan umumnya lebih tua cenderung lebih mampu menghadapi kenaikan suku bunga.

"Rumah tangga yang lebih kaya dan umumnya lebih tua akan lebih mampu menghadapi suku bunga yang lebih tinggi, karena mereka cenderung tidak perlu meminjam dan, jika memiliki utang, biasanya berupa KPR berbunga rendah yang mereka kunci selama pandemi," kata Zandi.

"Mereka juga lebih mungkin memiliki rekening tabungan yang akan menghasilkan bunga lebih tinggi," lanjutnya.

Analis Keuangan Konsumen LendingTree Matt Schulz mengatakan kenaikan suku bunga menjadi kabar baik bagi penabung, tetapi sebaliknya bagi peminjam.

Kartu Kredit

"Kenaikan suku bunga merupakan kabar baik bagi penabung, tetapi buruk bagi peminjam. Artinya, Anda akan mendapatkan imbal hasil lebih baik dari rekening tabungan berbunga tinggi dan deposito, tetapi juga akan menghadapi bunga kartu kredit yang lebih tinggi," ujar Schulz.

Sebagian besar kartu kredit memiliki suku bunga variabel sehingga sangat terkait dengan kebijakan The Fed. Ketika federal funds rate naik, prime rate ikut meningkat dan bunga kartu kredit biasanya menyusul dalam beberapa siklus tagihan.

"Pemegang kartu harus memperkirakan APR kartu kredit mereka naik seperempat poin dalam beberapa bulan ke depan setelah langkah The Fed," kata Schulz.

"Bagi kebanyakan orang, kenaikan suku bunga satu kali ini mungkin hanya menambah satu atau dua dolar pada tagihan bulanan. Namun, bagi mereka yang sudah kesulitan membayar utang kartu kredit, kenaikan berapa pun tentu tidak diinginkan," lanjutnya.

Menurut analisis situs keuangan pribadi WalletHub, kenaikan 25 basis poin secara keseluruhan dapat membuat pengguna kartu kredit membayar sekitar US$ 2 miliar tambahan bunga dalam 12 bulan ke depan.

Dampak ke KPR

Berbeda dengan kartu kredit, pemilik KPR dengan bunga tetap 15 tahun dan 30 tahun tidak langsung terkena dampak kenaikan suku bunga The Fed.

Hal ini karena suku bunga KPR tetap lebih banyak mengikuti imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun dan kondisi pasar obligasi secara umum.

Namun, kenaikan imbal hasil obligasi dapat mendorong bunga KPR baru ikut naik. Michele Raneri, Wakil Presiden sekaligus Kepala Riset dan Konsultasi AS TransUnion, mengatakan hal tersebut berkaitan dengan tingginya sensitivitas imbal hasil obligasi terhadap ekspektasi inflasi.

Imbal hasil Treasury AS meningkat karena pasar memperkirakan harga barang dan jasa akan lebih tinggi. Imbal hasil Treasury 10 tahun bahkan sempat menembus 5% pada Selasa, level tertinggi dalam 19 tahun.

"Sebagai gambaran, peminjam yang membiayai KPR baru rata-rata sebesar US$ 389.367 dengan APR rata-rata 6,78% dapat melihat pembayaran bulanan meningkat sekitar US$ 65 jika suku bunga KPR naik seperempat poin," kata Raneri.

Sementara itu, KPR dengan bunga mengambang (ARM) dan home equity line of credit (HELOC) lebih langsung terpengaruh kebijakan The Fed karena mengikuti prime rate. Sebagian besar ARM menyesuaikan bunga setahun sekali, sedangkan HELOC dapat berubah segera.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |