Bank Sentral Borong 244 Ton Emas, BI Tak Mau Kalah

4 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Pembelian emas sebagai instrumen keuangan safe haven turut dilakukan oleh bank sentral dunia pada awal 2026, termasuk Bank Indonesia (BI). Hal tersebut turut membuat permintaan emas tetap bertahan di tengah volatilitas dan tekanan geopolitik global. 

Head of Asia Pacific & Global Head of Central Banks World Gold Council Shaokai Fan melaporkan, total pembelian emas oleh bank sentral pada kuartal I 2026 mencapai 244 ton, naik 3 persen secara tahunan (YoY).

"Bank Indonesia juga termasuk salah satu bank sentral yang turut membeli, dan secara total Bank Indonesia membeli 2 ton emas," ujar Shaokai dalam sesi media briefing, Rabu (13/5/2026).

Tak hanya membeli, beberapa bank sentral dunia pun melakukan aksi jual emas di triwulan pertama tahun ini. Shaokai mencontohkan Turki, yang menjualnya untuk mempertahankan konversi nilai mata uang mereka. 

"Kemudian contoh lainnya adalah Rusia, mereka menjual emas untuk mendanai perang dengan Ukraina," imbuh dia memberikan contoh lain. 

Namun, Shaokai menambahkan, secara umum masih sedikit sekali bank sentral yang memilih untuk menjual emas. Sebagian besar bank sentral di dunia masih dalam fase akumulasi. 

Permintaan Emas Naik 2%

Secara umum, World Gold Council mencatat, permintaan emas pada kuartal I 2026 lebih tinggi 2 persen (YoY) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. 

Mengacu pada catatan itu, Shaokai menekankan kenaikan permintaan sebesar 2 persen turut menandakan lonjakan dalam volume emas. 

"Namun untuk nilai dari emas itu sendiri, ternyata meningkatnya lebih dari 74 persen. Tentunya ini tidak terlepas dari kinerja harga emas yang sangat baik," ungkap dia. 

Jadi Kebutuhan AI

Bukan hanya sebagai instrumen safe haven, emas pun banyak dilirik oleh industri teknologi sebagai bahan baku. Khususnya digunakan untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI), semisal dalam pembuatan microchip.    

"Ini segmen yang mungkin lebih kecil, tapi juga penting untuk kita perhatikan. Secara umum, pada kuartal 1, pertumbuhan segmen ini mencapai 1 persen secara year on year," kata Shaokai. 

"Ini tentunya berkaitan erat dengan meningkatnya permintaan akan teknologi AI. Karena memang emas juga digunakan dalam microchip. Itu semua tentunya turut mendukung resiliensi dari sektor ini," tutur dia. 

Harga Emas Amblas Hari Ini Usai Rencana Kesepakatan Damai AS-Iran Tak Jelas

 Sebelumnya, harga emas berada di bawah tekanan pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta) karena memudarnya harapan akan kesepakatan perdamaian Iran. Hal ini mendorong harga minyak lebih tinggi, menambah kekhawatiran tentang inflasi dan prospek kenaikan suku bunga global.

Dikutip dari CNBC, Rabu (13/5/2026), harge emas turun 1% menjadi USD 4.685,99 per ons. Sedangkan harga emas AS untuk kontrak pengiriman bulan Juni turun 0,7% menjadi USD 4.693,90.

“Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko bahwa bank sentral AS dan bank sentral lainnya mungkin harus menaikkan suku bunga untuk melawan apa yang pasti akan muncul sebagai stagflasi. Jadi emas merespons hal itu,” kata Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek.

Harga minyak naik lebih dari 3% karena harapan akan kesepakatan damai dengan Iran memudar setelah Presiden Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran sedang dalam kondisi kritis karena Teheran menolak proposal AS untuk mengakhiri konflik.

Data menunjukkan bahwa harga konsumen AS naik untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan April, mengakibatkan kenaikan inflasi tahunan terbesar dalam hampir tiga tahun dan semakin memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tidak berubah untuk sementara waktu.

Emas sebagai Lindung Nilai

Meskipun emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi seringkali memberi tekanan pada aset yang tidak menghasilkan imbal hasil ini.

Ahli Strategi Logam Mulia UBS Investment Bank Joni Teves, mengatakan pihaknya mempertahankan prospek bullish pada emas karena pendorong mendasar tetap utuh.

“Kami masih yakin harga dapat pulih dari level saat ini dan terus mencetak rekor tertinggi baru tahun ini,” tambahnya.

Fokus juga tertuju pada Indeks Harga Produsen atau Producer Price ⁠Index (PPI) AS yang dijadwalkan akan dirilis pada hari Rabu dan pertemuan antara Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing, yang dijadwalkan berlangsung dari Kamis hingga Jumat.

Read Entire Article
Bisnis | Football |