Bos Saudi Aramco: Pasar Minyak Tak Akan Normal hingga 2027

5 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - CEO perusahaan minyak terbesar dunia, Saudi Aramco Amin Nasser, memperingatkan pasar minyak dunia tidak akan kembali normal hingga 2027 apabila gangguan di Selat Hormuz terus berlangsung melewati pertengahan Juni.

Peringatan tersebut disampaikan Nasser dalam paparan kinerja kuartal pertama perusahaan.

“Jika Selat Hormuz dibuka hari ini, pasar tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali seimbang. Dan jika pembukaannya tertunda beberapa minggu lagi, maka normalisasi baru akan terjadi pada 2027,” ujar Nasser kepada investor dikutip dari CNBC, Selasa (12/5/2026).

Hingga kini, Amerika Serikat dan Iran disebut belum semakin dekat menuju kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump bahkan mengatakan gencatan senjata dengan Iran kini berada dalam kondisi “life support” setelah menolak proposal terbaru dari Teheran untuk mengakhiri konflik.

Sebelum perang pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Namun sejak awal Maret, Iran disebut berhasil menutup sebagian besar jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global tersebut.

Menurut Nasser, tantangan terbesar saat ini adalah terganggunya armada kapal tanker global yang menjadi tulang punggung distribusi energi dunia.

600 Kapal Tertahan

Nasser mengatakan lebih dari 600 kapal, sebagian besar kapal tanker minyak dan produk energi, kini tertahan di kawasan Teluk Persia akibat gangguan di Selat Hormuz.

Selain itu, sekitar 240 kapal lainnya masih menunggu di luar Selat Hormuz untuk mendapatkan akses pelayaran.

Menurut dia, sebagian kapal kemungkinan akan beralih ke wilayah lain karena terlalu lama menganggur di kawasan tersebut.

Armada kapal tanker global juga disebut berada dalam kondisi “kacau” karena banyak kapal berada di lokasi yang tidak semestinya. Akibatnya, kapal-kapal perlu dipindahkan dari berbagai wilayah dunia untuk menormalkan kembali rantai pasok energi.

“Bahkan dalam skenario paling optimistis, rantai pasok energi dan komoditas tetap membutuhkan beberapa bulan untuk kembali ke lalu lintas sebelum konflik karena kapal harus mengubah rute atau menghindari terlalu lama menganggur,” kata Nasser.

Ia memperkirakan pasar minyak dunia kehilangan sekitar 100 juta barel pasokan setiap pekan selama Selat Hormuz masih ditutup.

Saat ini, hanya dua hingga lima kapal yang melintas setiap hari di Selat Hormuz, jauh turun dibanding sekitar 70 kapal per hari sebelum perang terjadi.

Kehilangan 1 Miliar Barel

Menurut Nasser, pasar minyak dunia sejauh ini sudah kehilangan lebih dari 1 miliar barel pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.

Namun, kerugian bersih berhasil ditekan menjadi sekitar 880 juta barel berkat pengalihan ekspor melalui jaringan pipa timur-barat milik Saudi Aramco serta pelepasan cadangan minyak strategis oleh sejumlah negara.

Pipa timur-barat Saudi Aramco atau Petroline memungkinkan pengiriman minyak mentah ke Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz. Nasser mengatakan kapasitas pipa tersebut kini ditingkatkan menjadi 7 juta barel per hari.

Meski demikian, persediaan minyak global disebut terus menurun dengan cepat, terutama untuk produk seperti bensin dan bahan bakar pesawat.

Kondisi itu dinilai mengkhawatirkan karena terjadi menjelang musim liburan dan perjalanan musim panas di sejumlah negara.

“Persediaan bisa mencapai level yang sangat kritis menjelang musim berkendara dan perjalanan musim panas,” ujar Nasser.

Ia menegaskan gangguan pelayaran di Selat Hormuz telah memicu guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.

“Tekanan terhadap pasokan global semakin meningkat setiap harinya,” kata Nasser.

Read Entire Article
Bisnis | Football |