Daftar 10 Wanita di Atas 50 Tahun Paling Berdampak di Bidang Investasi

7 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Pada awal 2026, survei menunjukkan 70% wanita mengatakan mereka merasa semakin tidak terlihat seiring bertambahnya usia. Namun, daftar tahunan Forbes, yakni ‘50 Over 50’ yang menunjukkan pencapaian 50 wanita di atas usia 50 tahun mengatakan hal yang berbeda.

Melansir Forbes, Jumat (21/8/2026), dalam daftar yang dikategorisasikan dalam empat kategori utama ini, yakni dampak, inovasi, investasi, dan gaya hidup, wanita-wanita tersebut melakukan pekerjaan paling ambisius, berdampak, dan luar biasa di usia 50 tahun ke atas. 

Berikut adalah 10 wanita yang berusia 50 tahun ke atas paling berdampak dalam kategori investasi pada 2026 versi Forbes:

Lara Abrash (58)

Chairman Deloitte

Lara Abrash memimpin dewan direktur Deloitte AS, organisasi layanan profesional terbesar di negara tersebut, memimpin perusahaan yang memiliki 180.000 tenaga profesional dan pendapatan tahunan lebih dari US$ 30 miliar, atau Rp 535,6 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.853). Sejak dipilih pada 2023, dia telah menuntun Deloitte dalam perkembangan pesat artificial intelligence (AI), teknologi baru, dan perubahan dunia kerja. Abrash juga memimpin Deloitte Foundation.

Beverly Anderson (62)

Presiden & CEO, BECU

Seorang veteran layanan keuangan, Beverly Anderson, menjadi kepala BECU pada 2022. BECU adalah sebuah koperasi kredit yang asetnya mencapai hampir US$ 30 miliar, atau Rp 535,6 triliun dan 1,4 juta nasabah, sehingga menjadi salah satu dari lima koperasi kredit teratas di AS.

Sebelum bergabung dengan BECU, Anderson memimpin divisi solusi konsumen global Equifax dan mendapat jabatan pimpinan di Wells Fargo dan American Express. Dia juga menjadi dewan di Expedia dan Harvard Business School African-American Alumni Association.

Daftar Selanjutnya: Hilda Applbaum hingga Jane Buchan

Hilda Applbaum (65)

Principal Investment Officer & Portfolio Manager, Capital Group

Hilda Applbaum adalah principal investment officer American Funds Income Fund of America milik Capital Group senilai US$ 145 miliar, atau Rp 2.590 triliun, salah satu reksa dana paling atas dalam kategorinya. Menurut Morningstar, selama 15 tahun, reksa dana ini telah mencatatkan imbal hasil rata-rata 8,6% per tahun dan mengungguli 98% reksa dana sejenis, termasuk imbal hasil sebesar 17,8% berdasarkan nilai aktiva bersih (NAV) pada 2025 yang melampaui indeks acuan.

Dengan pengalaman investasi selama empat dekade, salah satu strategi Applbaum adalah membeli saham yang membagikan dividen dari perusahaan-perusahaan yang sedang mengalami kesulitan lalu menunggu, kadang bertahun-tahun, untuk pemulihannya.

Leigh Brady (60)

CEO, State Employees’ Credit Union (SECU)

Selama empat dekade, Leigh Brady telah bangkit dari akuntan entry-level ke pemimpin wanita pertama State Employees' Credit Union di Carolina Utara. Kini, Brady mengawasi koperasi kredit terbesar kedua di AS, yang memiliki 3 juta nasabah di Carolina Utara, dan memiliki aset sekitar US$ 60 miliar, atau Rp 1.072 triliun. Brady menjadi CEO pada 2023 setelah menjabat sebagai chief operating officer, chief human resources, dan communications officer organisasi tersebut.

Jane Buchan (62)

Pendiri & CEO, Martlet Asset Management

Jane Buchan telah membangun dua perusahaan sukses di investasi alternatif dan sektor hedge fund. Pada tahun 2000, dia mendirikan Pacific Alternative Asset Management Company (PAAMCO), yang berkembang menjadi PAAMCO Prisma, yang memiliki aset US$ 32 miliar, atau Rp 571,9 triliun aset.

Pada 2018, PAAMCO memisahkan strategi beta alternatifnya menjadi Martlet Asset Management, sebuah hedge fund swasta yang dipimpin Buchan sebagai CEO dan co-CIO. Pada 2025, Buchan juga menjadi Chairman Standards Board for Alternative Investments, sebuah aliansi yang terdiri dari 150 manajer aset alternatif dan lebih dari 100 investor institusional.

Daftar Selanjunya: Wendy Cai-Lee hingga Ellen Copper

Wendy Cai-Lee (52)

Pendiri & CEO, Piermont Bank

Wendy Cai-Lee berusia 45 tahun saat dia mendirikan Piermont Bank di tahun 2019, dan menjadi wanita Asia-Amerika pertama yang meluncurkan bank komersial AS. Dia mendirikan Piermont untuk entrepreneur, bisnis yang berkembang pesat, dan aplikasi fintech, termasuk platform finansial tempat kerja, Stream.

Kini dia memimpin bank yang memiliki aset US$ 500 juta, atau Rp 8,9 triliun. Sebelumnya, dia menghabiskan hampir tiga dekade di layanan keuangan, termasuk jabatan di JPMorgan Chase, Citi, Deloitte, dan East West Bank.

Margaret Chen (58)

Global Head of Endowment & Foundation Practice, Cambridge Associates

Margaret Chen merupakan investor di Cambridge Associates dengan aset US$ 616 miliar, atau Rp 11.007 triliun selama 25 tahun. Tugasnya adalah mengawasi kerjasama perusahaan tersebut dengan yayasan dan nirlaba yang berupaya meningkatkan dana abadi mereka.

Sebelumnya dia memimpin divisi portofolio CIO yang dikelola pihak ketiga dalam perusahaan tersebut. Di luar pekerjaannya sebagai investor, Chen adalah Chairman Boston Youth Symphony Orchestras dan Advisory Council for the Beach Museum of Art di Kansas State University.

Ellen Cooper (61)

Presiden & CEO, Lincoln Financial

Sebelum keputusan besarnya di tahun 2022 untuk menjadi presiden dan CEO konglomerat asuransi Lincoln Financial, Ellen Cooper bermimpi menjadi bintang Broadway. Dia bertransisi dari jurusan tari ke fokus bisnis, dan dia bergabung dengan Tillinghast, EY, kemudian Goldman Sachs.

Sejak bergabung Lincoln pada 2012, Cooper menghabiskan lebih dari 14 tahun di posisi pimpinan, dan telah memimpin perusahaan untuk melayani lebih dari 17 juta pelanggan dan mengatur lebih dari US$ 32 miliar, atau Rp 571,6 triliun di saldo rekening.

Daftar Selanjutnya: Tracie Cordeiro hingga Denise Dresser

Tracie Cordeiro (51)

Presiden & CEO, Friendship Bridge

Sebagai presiden dan CEO Friendship Bridge, Tracie Cordeiro menjalani organisasi nirlaba yang menyediakan keuangan mikro, edukasi, dan layanan kesehatan preventif untuk perempuan di pedesaan Guatemala melalui model Microcredit Plus mereka.

Diperuntukkan bagi perempuan, organisasi ini memberikan pinjaman rata-rata sekitar US$ 320, atau Rp 5,7 juta yang dipadukan dengan pelatihan dan dukungan, sekaligus mempertahankan tingkat pelunasan pinjaman hampir 98%, sehingga membantu keluarga membangun ketahanan finansial jangka panjang.

Sebagai seorang akuntan publik yang bersertifikasi dan sebelumnya memiliki jabatan pimpinan di KPMG, Honeywell, dan Opera Australia, Cordeiro memperluas akses peluang ekonomi bagi perempuan di komunitas yang membutuhkan.

Denise Dresser (55)

CRO, OpenAI

Denise Dresser bergabung dengan OpenAI sebagai chief revenue officer pada bulan Desember dan mengawasi strategi pendapatan untuk perusahaan induk ChatGPT yang berkembang pesat. Kini, OpenAI mendapat pendapatan US$ 2 miliar, atau Rp 35,7 triliun setiap bulan, dan 40% di antaranya datang dari pelanggan korporat, mengungguli raksasa industri seperti Meta dan Alphabet.

Sebelum bergabung dengan OpenAI, Dresser menghabiskan 14 tahun di Salesforce, terakhir sebagai CEO di Slack, yang diakuisisi Salesforce pada 2021. Sebelumnya, dia adalah konsultan di firma akuntansi Arthur Andersen.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |