Harga Emas Dunia Turun di Tengah Ketidakpastian Timur Tengah

7 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin (4/8/2026) di tengah ketidakpastian terkait perang di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi. Pelaku pasar juga menantikan serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) pekan ini untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Mengutip CNBC, Selasa (4/8/2026), harga emas spot turun 0,3% menjadi US$ 4.029,84 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus terkoreksi 0,5% ke US$ 4.029,00 per ounce.

Analis Marex, Edward Meir, mengatakan harga emas masih bergerak dalam kisaran yang relatif sempit selama lebih dari satu bulan terakhir.

"Harga emas telah bergerak dalam kisaran yang sempit selama lebih dari satu bulan, yakni sekitar US$ 4.000 hingga US$ 4.200 per ounce. Faktor yang menopang harga emas saat ini adalah ekspektasi pasar terhadap kemungkinan inflasi kembali meningkat, terutama pada Juli ketika data terbaru diperkirakan akan membalikkan sebagian besar penurunan inflasi yang terjadi pada Juni," kata analis Marex, Edward Meir.

Menurut Meir, ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan inflasi menjadi salah satu faktor yang menopang harga emas, terutama jika data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi kembali meningkat setelah sempat melandai pada Juni.

Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada sikap para pejabat Federal Reserve setelah rapat kebijakan moneter pekan lalu.

Keputusan The Fed

Tiga pejabat Federal Reserve yang menyatakan berbeda pendapat dalam rapat kebijakan minggu lalu kembali menegaskan pada Jumat bahwa penundaan kenaikan suku bunga berisiko membuat inflasi tetap berada di atas target 2% bank sentral AS.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, juga menyampaikan bahwa bank sentral siap kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sentimen tersebut muncul setelah harga minyak dunia melonjak tajam bulan lalu. Kontrak Brent sempat naik lebih dari 20% setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas serta serangan terhadap sejumlah kapal tanker di sekitar Oman meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi.

Kenaikan harga energi dinilai dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama guna menekan inflasi.

Kondisi tersebut biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi.

Pembicaraan Iran dengan AS

Sementara itu, Iran pada Senin menyatakan tidak sedang melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat maupun merencanakan pertemuan apa pun. Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyebut adanya pembicaraan sebagai alasan pembatalan rencana serangan.

Pelaku pasar kini menunggu sejumlah data penting dari AS pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan versi ADP serta data nonfarm payrolls (NFP). Kedua indikator tersebut diperkirakan akan menjadi acuan penting dalam menilai langkah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Di kawasan Asia, bank sentral Korea Selatan mengumumkan akan membeli emas dari produsen lokal sebagai upaya mendiversifikasi sumber pasokan sekaligus menambah cadangan logam mulia negara tersebut.

Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya juga berada di zona merah. Harga perak spot turun 0,8% menjadi US$ 57,18 per ounce, platinum melemah 1,6% ke US$ 1.616,42 per ounce, sedangkan paladium terkoreksi 1,8% menjadi US$ 1.251,16 per ounce.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |