Indonesia Jajaki Kerja Sama LPG dengan Rusia

2 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah Indonesia tengah menjajaki kerja sama dengan Rusia untuk memenuhi kebutuhan liquefied petroleum gas (LPG) dalam negeri.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya diversifikasi sumber energi, setelah sebelumnya pemerintah memastikan kerja sama dengan Rusia untuk bahan bakar minyak (BBM) hampir mencapai tahap finalisasi.

“Selain itu, kita juga melakukan komunikasi terkait dengan LPG,” ujar Bahlil di Istana Negara, Kamis (16/4/2026).

Menurut Bahlil, kebutuhan LPG nasional saat ini mencapai sekitar 7 juta ton per tahun. Sebagian besar kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.

Karena itu, pemerintah berupaya mencari alternatif sumber pasokan agar ketergantungan terhadap impor dapat ditekan.

Ia menyebutkan, pembahasan kerja sama LPG dengan Rusia masih membutuhkan beberapa tahap komunikasi lanjutan.

“Masih butuh komunikasi dua atau tiga tahap, tapi kalau crude-nya saya pikir udah hampir final,” jelasnya.

Pemerintah berharap kerja sama ini dapat segera terealisasi guna memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga stabilitas pasokan LPG di dalam negeri.

Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tak Naik, Ini Penjelasan Menteri Bahlil

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG subsidi meski situasi geopolitik global, khususnya di Timur Tengah, tengah memanas. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

"Pemerintah berupaya agar harga BBM dan LPG subsidi di Indonesia tidak mengalami kenaikan dan kami terus mencari jalan keluar," kata Bahlil dikutip dari Antara, Minggu (12/4/2026). 

Ia menambahkan, kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan Indonesia mencapai swasembada energi dan pangan.

Untuk mendukung target tersebut, Kementerian ESDM terus berupaya menekan ketergantungan impor energi dengan mengoptimalkan sumber daya dalam negeri.

"Kita akan berdayakan sumber daya alam yang kita punya, sehingga swasembada energi bisa tercapai," ujarnya.

Bahlil memastikan stok energi nasional dalam kondisi aman. Ketersediaan BBM diperkirakan cukup hingga 20 hari ke depan, sementara LPG sekitar 10 hari, sehingga pasokan tetap terjaga di tengah dinamika global.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi dan LPG 3 kg guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Tantangan yang Dihadapi

Meski demikian, tantangan masih terlihat dari tingginya kebutuhan energi dalam negeri. Konsumsi BBM Indonesia mencapai sekitar 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari pada periode 2024-2026.

Dari jumlah tersebut, konsumsi bensin diperkirakan mencapai 100 ribu kiloliter per hari, sedangkan solar sekitar 111 ribu kiloliter per hari pada 2026.

Sementara itu, produksi BBM domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Kondisi ini membuat Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Bahlil menyebutkan, lebih dari 59 persen kebutuhan BBM nasional masih dipenuhi dari impor, yang sebagian besar berasal dari Singapura dan Malaysia.

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus fokus pemerintah dalam mendorong kemandirian energi di masa mendatang.

Read Entire Article
Bisnis | Football |