Pakuwon Mall Surabaya Dipagari, Simak Alasannya

10 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Pemasangan pagar di area Pakuwon Mall Surabaya belakangan menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Pasalnya, pusat perbelanjaan tersebut sebelumnya memiliki area yang relatif terbuka dan telah beroperasi selama bertahun-tahun tanpa pagar di sejumlah sisi.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD Jawa Timur sekaligus Marketing Director PT Pakuwon Jati Tbk Sutandi Purnomosidi menegaskan, pemasangan pagar tersebut tidak berkaitan dengan kekhawatiran akan adanya peristiwa tertentu. Salah satu pertimbangannya justru menyangkut keselamatan pengunjung dan masyarakat yang melintas.

Sutandi menjelaskan, area Pakuwon Mall memiliki sisi terbuka yang panjangnya mencapai sekitar 1,5 kilometer. Kondisi tersebut memungkinkan orang menyeberang dan memasuki kawasan dari berbagai titik sehingga berpotensi membahayakan pejalan kaki.

"Satu, yang jelas Pakuwon itu bukan peramal. Kita enggak tahu mau terjadi apa," kata Sutandi, dikutip dari akun instagram pribadinya, Jumat (31/7/2026).

Menurut dia, pemasangan pagar juga bukan hal baru di pusat perbelanjaan yang dikelola Pakuwon. Sejumlah mal lainnya telah menggunakan pagar sejak lama dengan jenis dan desain yang berbeda-beda.

Sutandi mencontohkan Royal Plaza yang telah memiliki pagar sejak berdiri sekitar 20 tahun lalu. Namun, usia pagar yang sudah lama membuat fasilitas tersebut perlu diperbarui.

Sejumlah Mal Sudah Dipagari

Sutandi mengatakan, penggunaan pagar juga diterapkan di Blok M Plaza, Jakarta. Desain pagar di lokasi tersebut kemudian menjadi salah satu acuan untuk pagar di Pakuwon Mall.

"Justru prototipnya pagar Pakuwon Mall itu nyontoh Blok M Plaza. Nah, ini yang menjadi identitas kita semua sekarang," ujar Sutandi.

Selain itu, pagar telah digunakan di sejumlah bagian Tunjungan Plaza, termasuk TP 4 dan TP 5. Hanya saja, material yang digunakan berbeda, yakni berupa kaca. Sementara itu, Pakuwon City Mall juga sudah memiliki pagar dengan model BRC atau pagar kawat.

Menurut Sutandi, perkembangan kawasan dan fasilitas membuat pengelola perlu melakukan pembaruan. Terlebih, kawasan Pakuwon City dan pusat perbelanjaan yang dikelola perusahaan terus berkembang.

"Sekarang berkembangnya zaman, terus Pakuwon City sendiri sudah semakin maju. Kita harus perbaiki, kita harus upgrade. Nah itu aja sih, simple as that," kata dia.

Karena itu, ia menilai masyarakat tidak perlu mengaitkan pemasangan pagar dengan kemungkinan terjadinya peristiwa negatif.

"Overthinking. Kita berharap semua baik-baik saja," ujar Sutandi.

Bicara Kondisi Ekonomi

Dalam kesempatan yang sama, Sutandi juga menanggapi kondisi ekonomi yang menjadi perhatian masyarakat. Ia menilai situasi saat ini tetap perlu dihadapi dengan optimisme meski kondisi yang dirasakan setiap kelompok masyarakat dapat berbeda.

"Ekonomi baik-baik saja. Baik-baik saja. Bagi sebagian orang baik-baik saja. Bagi sebagian orang ya. Cuman kita harus selalu optimis lah ya. Optimis," ujar dia.

Menurut Sutandi, masyarakat tidak perlu terus-menerus larut dalam kekhawatiran karena hal tersebut dapat membangun pandangan negatif terhadap kondisi yang dihadapi.

"Kita memang hidup di Indonesia. Kita di Indonesia. Orang Indonesia mau apa? Ya udah kita harus realita ya kita hadapi," tuturnya.

Dengan demikian, pemasangan pagar di Pakuwon Mall disebut sebagai bagian dari peningkatan fasilitas sekaligus upaya menjaga keamanan pengunjung, bukan karena adanya antisipasi terhadap kejadian tertentu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |