Real Madrid Memecat Xabi Alonso Dinilai Sebagai Langkah yang Salah

1 month ago 28

Liputan6.com, Jakarta - Real Madrid kembali berada dalam pusaran perbincangan seiring keputusan mengakhiri kerja sama dengan Xabi Alonso. Keputusan ini diambil sehari setelah kekalahan 2-3 dari Barcelona pada final Piala Super Spanyol.

Langkah tersebut memicu respons dari Manuel Pellegrini, pelatih Real Betis yang pernah menangani Real Madrid. Ia menilai keputusan klub tidak mencerminkan penilaian menyeluruh terhadap proses kerja pelatih.

Sebagai figur yang pernah berada di posisi serupa, Pellegrini merasa situasi ini bukan hal baru di Real Madrid. Ia melihat pola penilaian yang kerap berlangsung singkat dan minim toleransi waktu.

Pellegrini Ungkap Rasa Simpati pada Alonso

Pellegrini menyampaikan empatinya terhadap Alonso yang datang dengan latar belakang kuat sebagai pelatih muda. “Saya merasa sangat kasihan kepada Xabi, karena dia adalah pelatih yang datang dengan karier yang brilian,” ujar Pellegrini.

Menurutnya, penilaian terhadap Alonso terlalu cepat dan tidak proporsional. “Menurut saya, menilai pekerjaan seseorang hanya dalam tiga atau empat bulan bukanlah hal yang tepat,” kata pelatih asal Chile tersebut.

Akan tetapi, Pellegrini mengakui tidak memiliki gambaran penuh mengenai kondisi internal klub. Ia menyampaikan bahwa ada kemungkinan faktor lain yang melatarbelakangi keputusan tersebut.

“Saya juga tidak memiliki semua informasi internal mengenai alasan di balik keputusan yang menurut saya kurang tepat ini,” ujarnya. Pernyataan itu menunjukkan adanya batas penilaian dari pihak luar.

Pemecatan Alonso terjadi setelah performa tim menurun sepanjang Desember dan munculnya isu ketidaknyamanan di ruang ganti. Kondisi tersebut membuat manajemen menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pengganti meski minim pengalaman melatih di level tertinggi.

Real Madrid Masih Bertahan di Tiga Kompetisi

Pellegrini menegaskan bahwa Real Madrid sejatinya masih memiliki pijakan kompetitif yang solid. Ia mengingatkan bahwa posisi tim belum sepenuhnya tertutup dari target musim ini.

“Baik atau buruk, Real Madrid masih terlibat di tiga kompetisi, tertinggal empat poin dari pemuncak klasemen, masih tampil di Liga Champions, dan masih berada di Copa del Rey,” ujar Pellegrini.

Namun, tekanan tinggi kerap membuat kesabaran menjadi barang langka di klub sekelas Real Madrid. Pellegrini menilai manajemen memiliki peran besar dalam menentukan arah jangka menengah tim.

“Semua proses membutuhkan waktu untuk berkembang, kadang turun, kadang naik,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa nasib pelatih sangat bergantung pada kedewasaan manajemen dalam memberikan kesempatan.

Pandangan tersebut berangkat dari pengalaman pribadi Pellegrini saat menangani Real Madrid pada musim 2009/2010. Kala itu, ia tetap kehilangan jabatan meski membawa tim finis di posisi kedua dengan perolehan poin tinggi.

Sumber: Madrid Universal

Klasemen La Liga/Liga Spanyol

Lanjut Baca:

Kenapa Barcelona Hapus Pengumuman Joao Cancelo? Ini Alasan Sebenarnya

Read Entire Article
Bisnis | Football |