Nasib Iran di Piala Dunia 2026: Bisa Jadi Tidak Berangkat, Geopolitik Jadi Penentu

3 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Situasi partisipasi Timnas Iran di Piala Dunia 2026 terus menjadi sorotan hangat, di tengah ketidakpastian yang disebabkan oleh faktor geopolitik dan keamanan. Meski telah memastikan tiket ke putaran final, nasib Iran untuk berlaga di Amerika Serikat masih menggantung.

Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, secara konsisten menyuarakan keraguan akan keikutsertaan timnya, bahkan sempat menyatakan bahwa kondisinya tidak memungkinkan. Pernyataan ini memicu kekhawatiran di kalangan penggemar sepak bola global.

FIFA sendiri telah menegaskan harapan agar semua tim yang lolos tetap berpartisipasi, namun Iran menuntut jaminan keamanan dan relokasi pertandingan sebagai syarat mutlak.

"Kami telah berdiskusi mengenai tim nasional, kondisi mereka, dan juga telah membentuk sebuah komite," kata Donyamali, Selasa (21-4-2026) waktu setempat.

"Hari ini kami juga menggelar pertemuan dalam kerangka pembahasan tersebut, dan kami menjalankan kewajiban hukum kami."

"Kami harus siap. Dalam kondisi apa pun, bisa saja diputuskan untuk tidak berangkat. Namun, jika diputuskan berangkat, kami juga harus siap agar kehadiran kami menjadi kehadiran yang kuat," lanjut sang menpora.

Geopolitik dan Ancaman Keamanan Jadi Penghalang

Ketegangan geopolitik yang memanas, terutama antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, menjadi alasan utama di balik potensi absennya Iran dari Piala Dunia 2026. Pemerintah Iran, melalui Menteri Olahraga Ahmad Donyamali, secara tegas menyatakan bahwa kondisi saat ini tidak memungkinkan bagi timnya untuk berkompetisi di negara yang dianggap tidak aman atau hostile.

Donyamali menjelaskan bahwa pemerintah telah membentuk komite khusus untuk memantau seluruh perkembangan situasi keamanan dan dinamika politik. Keputusan akhir akan didasarkan pada kondisi terkini, melibatkan pemerintah dan kemungkinan juga Dewan Keamanan Nasional.

Pada 11 Maret 2026, Donyamali bahkan sempat menegaskan negaranya tidak memiliki kondisi yang memungkinkan untuk mengikuti Piala Dunia 2026, sebagai respons atas situasi politik dan konflik yang sedang berlangsung. Namun, pernyataan terbarunya pada 21 April 2026 mengindikasikan bahwa keputusan belum sepenuhnya final.

Presiden Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI), Mehdi Taj, juga mempertanyakan partisipasi Iran di turnamen tersebut setelah serangan terbaru, menambah daftar kekhawatiran akan keamanan tim.

Dalam upaya mencari solusi, Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) mengajukan permohonan resmi kepada FIFA untuk memindahkan tiga laga fase grup mereka—melawan Belgia, Mesir, dan Selandia Baru—dari Amerika Serikat ke Meksiko. Namun, permintaan relokasi venue ini ditolak oleh FIFA pada 17 Maret 2026, dengan alasan logistik yang terlalu rumit. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, turut mengonfirmasi penolakan tegas FIFA terhadap permintaan pemindahan tersebut. FIFA menegaskan bahwa semua tim yang lolos kualifikasi diharapkan bertanding sesuai jadwal resmi, dengan upaya menjaga netralitas dan menghindari keputusan bernuansa politik. Presiden FIFA, Gianni Infantino, menunjukkan dukungan terbuka kepada Timnas Iran, menyatakan keyakinannya bahwa Iran tetap akan tampil dan menegaskan bahwa kehadiran mereka merupakan bagian dari integritas kompetisi. Ia berharap situasi akan damai saat Piala Dunia dimulai, menekankan pentingnya memisahkan olahraga dari politik. Namun, jika Iran mundur dari Piala Dunia 2026, FIFA akan mengenakan denda sebesar 250 ribu franc Swiss (sekitar Rp5,4 miliar), dan denda akan meningkat menjadi 500 ribu franc Swiss (sekitar Rp10,8 miliar) jika pengunduran diri dilakukan kurang dari 30 hari sebelum turnamen. Iran juga terancam tidak dapat ikut serta di kompetisi berikutnya, yaitu Piala Dunia 2030.

Read Entire Article
Bisnis | Football |