Jakarta, CNN Indonesia --
Keterlibatan Indonesia dalam inisiasi damai yang digagas Amerika Serikat, Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) menjadi sorotan karena risiko, reputasi dan ketidakhadiran Palestina, sebagai korban paling terdampak.
Jauh sebelum itu, Indonesia pernah ikut misi damai buatan AS yang disebut Komisi Internasional untuk Pengawasan dan Kontrol (International Commission for Control and Supervision/ICCS).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ICCS merupakan hasil negosiasi ketat Amerika Serikat dan Veitnam Utara untuk mengakhiri Perang Vietnam. Tokoh kunci dalam kesepakatan ini yakni penasihat keamanan AS Henry Kissinger dan anggota politbiro Vetnam Utara Le Duc Tho.
Pembentukan ICCS
Negosiasi tersebut dimulai pada 1968 di Paris. Namun, dalam prosesnya kedua pihak saling mengajukan tuntutan dan pembicaraan berlangsung alot.
Saat itu, Vietnam Utara ingin pemerintahan koalisi di selatan, sementara AS ingin penarikan mundur pasukan Vietnam Utara sebelum mereka pergi.
Lalu pada 1972, Vietnam Utara mulai melunak usai pasukan AS mengebom di sejumlah wilayah. Sekutu Vietnam yakni China dan Uni Soviet juga menekan negara Asia Tenggara itu karena ingin memperbaiki hubungan dengan Negeri Paman Sam.
Di tahun tersebut, draf kesepakatan damai hampir rampung. Namun, Presiden Vietnam Selatan Nguyen Van Thieu menolak keras gegara diangga pro-komunis.
Rincian badan pengawas mulai difinalisasi pada Januari. Kemudian pada 27 Januari, empat pihak yang terdiri dari Amerika Serikat, Republik Vietnam (selatan), Republik Demokratik Vietnam (utara), dan Pemerintahan Revolusioner Sementara (Viet Cong) menandatangani kesepakatan bertajuk "Agreement on Ending the War and Restoring Peace in Viet Nam."
Dalam pasal 16 di kesepakatan itu, mengatur soal pembentukan ICCS termasuk menunjuk pihak untuk membentuk Komisi Militer Gabungan Empat Pihak.
"Para Pihak yang berpartisipasi dalam Konferensi Paris tentang Viet-Nam harus segera menunjuk perwakilan untuk membentuk Komisi Militer Gabungan Empat Pihak," demikian ayat 1 pasal 16, dikutip situs resmi PBB.
AS mengusulkan Kanada dan Indonesia, sebagai negara non-komunis yang dianggap netral.
Vietnam Utara sementara itu mengusulkan Polandia dan Hungaria sebagai sesama negara sosialis atau komunis.
Pasukan ini bertugas mengawasi gencatan senjata, penarikan pasukan AS, pertukaran tawanan perang, dan menjaga zona demiliterisasi.
Pasukan Garuda mulai gabung
Indonesia dilaporkan menyatakan siap bergabung sejak Januari. Lalu pada Februari 1973, Kontingen Garuda IV diterbangkan ke Saigon.
Dalam pengawasan itu, ada salah satu insiden paling tragis yang melibatkan tentara Indonesia.
Kejadian tersebut berlangsung pada 7 April 1973. Ketika itu, helikopter ICCS ditembak jatuh di dekat Lao Bao.
"Sebuah helikopter ICCS ditembak jatuh pada tanggal 7 April di wilayah Viet Cong, menewaskan seluruh 9 orang di dalamnya, termasuk seorang warga Kanada, Kapten CE Laviolette, dua warga Hongaria, satu warga Indonesia, dua petugas penghubung Viet Cong, dan tiga awak pesawat," demikian laporan di situs resmi Kanada.
Dari berbagai sumber personel militer Indonesia yang tewas adalah Letkol Gunawan Salam. Ia kemudian mendapat penghargaan anumerta, sebagai penghormatan yang gugur saat bertugas demi negara.
Hari-hari setelah itu, situs resmi Kanada melaporkan masih terjadi penculikan personel ICCS. Pasukan mereka Kapten Ian Patten dan Fletcher Thomson, diculik Viet Cong di timur Saigon.
Kedua personel itu disandera 17 hari, dan bebas setelah melalui negosiasi alot.
Kanada memandang ICCS tak efektif dalam mengawasi gencatan senjata atau menjaga perdamaian di Vietnam. Mereka hanya berpartisipasi selama dua bulan dan menarik diri pada Juli 1973.
"Ketika tidak ada peningkatan yang nyata dalam prospek keberhasilan selama periode ini, Kanada akhirnya menyatakan akan menarik diri efektif pada 31 Juli 1973," demikian situs Kanada.
Dua tahun kemudian, Indonesia menarik diri seluruh pasukan dari ICCS pada April 1975 usai Saigon jatuh ke Vietnam Utara.
(isa/bac)

13 hours ago
9






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5361596/original/000746300_1758788384-eliano.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439892/original/057085000_1765411943-Ketua_Bidang_Ketenagakerjaan_Asosiasi_Pengusaha_Indonesia__Apindo__Bob_Azam-1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432516/original/073839000_1764810828-AP25337701874227.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5106243/original/021351500_1737600451-IMG-20250123-WA0003.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5001181/original/090178400_1731373008-Pekerja_di_kebun_kelapa_sawit_sedang_memuat_TBS_ke_atas_truk__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5285267/original/086412000_1752663311-20250716-Inflasi-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432343/original/_-_Gregory_S._Widjaja_dan_Teresa_Wibowo__Direktur_PT_Aspirasi_Hidup_Indonesia_Tbk__bersama_perwakilan_Pemerintah_Kota_Jakarta_Barat__saat_simbolisasi_AZKO_Berbagi_Cahaya_untuk_Warga_Kembangan_Sela.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5219631/original/022997400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5442493/original/086892300_1765540230-20251212BL_Timnas_Indonesia_U-22_Vs_Myanmar_SEA_Games_2025-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5420990/original/096741500_1763861245-liverpool.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5322252/original/039243200_1755738000-taa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4544916/original/073192300_1692571729-AP23232705384145.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5422001/original/013196600_1763966343-inter_vs_milan_2025-3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425687/original/015827900_1764234657-AP25330795389555.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5428542/original/053185900_1764544104-WhatsApp_Image_2025-12-01_at_00.38.43__1_.jpeg)