7 Manajer MU Pasca Sir Alex Ferguson: Dari David Moyes hingga Ruben Amorim

1 month ago 32

Liputan6.com, Jakarta - Manchester United (MU) kembali membuat keputusan besar dengan memecat Ruben Amorim pada Senin, 5 Januari 2026. Pengumuman resmi itu dirilis langsung dari Old Trafford.

Amorim mengakhiri masa jabatannya yang dimulai sejak November 2024. Ia sempat membawa Setan Merah melaju ke final Liga Europa pada Mei lalu.

Namun, posisi MU di peringkat keenam Premier League serta pernyataan emosional Amorim usai laga lawan Leeds menjadi pemicu utama keputusan klub.

Kepergian Amorim menegaskan satu fakta lama. Sejak Sir Alex Ferguson pensiun, Manchester United belum menemukan sosok manajer jangka panjang.

Berikut adalah kiprah para manajer MU setelah era Sir Alex berakhir, siapa yang paling sukses?

David Moyes: Awal yang Tak Sesuai Harapan

David Moyes ditunjuk sebagai penerus langsung Sir Alex Ferguson pada Juli 2013. Beban ekspektasi langsung berada di pundaknya.

Namun, performa Manchester United justru merosot tajam. Tim kehilangan identitas dan konsistensi sejak awal musim.

Moyes hanya bertahan hingga April 2014. Ia memimpin 51 laga dengan rasio kemenangan 52,94 persen.

Louis van Gaal: Trofi Ada, Kritik Tak Hilang

Louis van Gaal datang pada Juli 2014 dengan reputasi besar. Ia diharapkan membawa stabilitas dan filosofi permainan baru.

Van Gaal sukses mempersembahkan trofi Piala FA 2015/2016. Namun, gaya bermain defensif menuai kritik keras.

Ia memimpin 103 pertandingan. Rasio kemenangan berada di angka 52,43 persen sebelum akhirnya dilepas.

Jose Mourinho: Pragmatis dan Sarat Prestasi

Jose Mourinho ditunjuk pada Mei 2016. Pendekatan pragmatis langsung terlihat sejak awal masa jabatannya.

Tiga trofi berhasil diraih, termasuk Liga Europa 2016/2017. MU juga finis runner-up Premier League.

Namun, konflik internal jadi masalah besar. Mourinho dipecat pada Desember 2018 setelah 144 laga.

Ole Gunnar Solskjaer: Romantisme Tanpa Trofi Besar

Ole Gunnar Solskjaer awalnya datang sebagai manajer interim. Atmosfer positif langsung terasa di ruang ganti.

MU tampil atraktif dan konsisten di papan atas. Namun, kegagalan meraih trofi besar jadi catatan krusial.

Solskjaer memimpin 168 pertandingan. Rasio kemenangannya berada di angka 54,17 persen.

Ralf Rangnick: Transisi yang Gagal Total

Ralf Rangnick ditunjuk sebagai manajer interim pada Desember 2021. Ia membawa konsep gegenpressing.

Namun, ide tersebut sulit diterapkan dalam waktu singkat. Tim tampil tanpa arah jelas.

Rangnick hanya memimpin 29 laga. Rasio kemenangan rendah, yakni 37,93 persen.

Erik ten Hag: Struktur Kuat, Konsistensi Rapuh

Erik ten Hag datang pada Mei 2022 dengan reputasi sukses bersama Ajax. Ia membawa disiplin dan struktur permainan.

Beberapa trofi domestik berhasil diraih. Namun, performa liga naik turun dan inkonsisten.

Ten Hag memimpin 128 pertandingan. Ia dilepas pada Oktober 2024 setelah tekanan terus meningkat.

Ruben Amorim: Harapan Baru yang Cepat Padam

Ruben Amorim ditunjuk pada November 2024. Ekspektasi tinggi langsung mengiringi kedatangannya.

Ia membawa MU ke final Liga Europa. Namun, performa Premier League tak kunjung stabil.

Dalam 63 laga, Amorim hanya meraih 24 kemenangan. Rasio kemenangan 38,10 persen mengakhiri perjalanannya lebih cepat.

Read Entire Article
Bisnis | Football |