Chelsea Babak Belur di Kandang Brighton, Gestur Enzo Fernandez Tuai Kecaman

2 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Kekalahan kembali menambah luka bagi Chelsea dalam lanjutan Premier League 2025/2026. Bertandang ke markas Brighton di Amex Stadium, Rabu (22/4/2026) dini hari WIB, The Blues harus pulang dengan hasil mengecewakan setelah takluk tiga gol tanpa balas.

Tuan rumah tampil lebih agresif sejak menit awal dan mampu mengontrol jalannya pertandingan. Brighton mengunci kemenangan lewat gol Ferdi Kadioglu, Jack Hinshelwood, serta Danny Welbeck yang memastikan tiga poin tetap berada di kandang.

Hasil ini memperpanjang tren negatif Chelsea. Tim asal London tersebut kini tercatat sudah lima pertandingan liga secara beruntun gagal mencetak gol, catatan terburuk mereka sejak 1912. Situasi ini semakin menegaskan bahwa klub tengah berada dalam fase krisis performa.

Tak hanya hasil di lapangan, suasana juga memanas di tribun. Pendukung Chelsea yang hadir di stadion meluapkan kekecewaan mereka, seiring posisi tim yang terus melorot ke peringkat ketujuh klasemen dengan koleksi 48 poin, terpaut tujuh angka dari zona kompetisi Eropa.

Gestur Enzo Picu Kritik Tajam

Sorotan tajam justru muncul setelah laga berakhir. Gelandang sekaligus kapten Chelsea, Enzo Fernandez, terlihat mendatangi suporter dengan gestur mengangkat bahu dan membuka kedua tangan, seolah menunjukkan kebingungan atas situasi tim.

Aksi tersebut langsung menuai kritik dari mantan pemain sekaligus pandit sepak bola Inggris, Tim Sherwood. Ia menilai gestur Enzo tidak mencerminkan karakter seorang pemimpin di lapangan.

Menurut Sherwood, sikap tersebut justru memberi kesan bahwa sang kapten tidak mengambil tanggung jawab atas performa buruk tim. Ia bahkan meragukan kelayakan Enzo mengenakan ban kapten.

“Ia seperti ingin membuat pertunjukan. Itu bukan sosok yang ingin saya lihat sebagai kapten,” ujar Sherwood dalam analisisnya.

Kepemimpinan Dipertanyakan

Sherwood menegaskan bahwa seorang kapten seharusnya menunjukkan kepemimpinan saat pertandingan berlangsung, bukan setelah peluit akhir dibunyikan. Ia menilai kontribusi Enzo di lapangan belum cukup untuk mengangkat performa tim yang tengah terpuruk.

Lebih jauh, ia mengkritik sikap Enzo yang dinilai terlalu individualistis. Dalam kondisi sulit seperti saat ini, menurutnya, pemain justru harus tampil sebagai pemersatu tim, bukan sebaliknya.

“Ia harusnya memimpin, mengorganisir, dan mengangkat rekan-rekannya. Bukan malah terlihat bermain untuk dirinya sendiri,” tegas Sherwood.

Masalah Lebih Dalam di Tubuh Chelsea

Kritik Sherwood tidak hanya berhenti pada individu pemain. Ia menilai Chelsea tengah mengalami masalah struktural yang lebih besar, termasuk hubungan antara pemain dan pelatih.

Menurutnya, para pemain terlihat tidak sepenuhnya bermain untuk pelatih mereka saat ini. Ia juga menyinggung bahwa pergantian manajer yang terus terjadi bukanlah solusi utama.

Sejumlah nama pelatih yang pernah menangani Chelsea seperti Mauricio Pochettino, Graham Potter, hingga Enzo Maresca disebut sebagai korban dari situasi internal klub yang belum stabil.

Sherwood menilai perubahan harus dimulai dari dalam, baik dari pemain maupun manajemen. Tanpa perbaikan mendasar, ia meragukan Chelsea bisa segera keluar dari tekanan yang sedang mereka hadapi saat ini.

Klasemen Liga Inggris 2025/2026

Momen Unik Piala Dunia: Pemberontakan Timnas Prancis di Afrika Selatan

Read Entire Article
Bisnis | Football |