Carlo Ancelotti Bongkar Rahasia Luka Modric: Ini yang Bikin Legenda Kroasia Itu Berbeda

3 weeks ago 22

Liputan6.com, Jakarta - Hubungan antara Carlo Ancelotti dan Luka Modric bukan sekadar pelatih dan pemain biasa. Keduanya telah melewati banyak momen penting bersama di Real Madrid.

Selama dua periode berbeda, Ancelotti dan Modric menjalin kerja sama yang sangat erat. Mereka bukan hanya meraih trofi, tetapi juga membangun pemahaman mendalam satu sama lain.

Kebersamaan mereka dimulai pada 2013 hingga 2015, termasuk saat meraih La Décima yang bersejarah. Setelah itu, mereka kembali bersatu pada periode 2021 hingga 2025 dan kembali mencatatkan kesuksesan besar.

Dari kedekatan itu, Ancelotti memahami betul apa yang membuat Modric tetap berada di level tertinggi. Pengakuannya pun membuka sisi lain dari mentalitas sang gelandang veteran.

Bukan Sekadar Bakat, Ini yang Membuat Modric Istimewa

Ancelotti menilai Modric sebagai sosok yang sangat berbeda dibandingkan pemain lain. Bukan hanya karena bakat dan kualitas tekniknya, tetapi juga karena profesionalismenya yang luar biasa.

Di usia yang hampir menyentuh 40 tahun, Modric masih mampu bersaing di level tertinggi. Menurut Ancelotti, konsistensi menjadi kunci utama yang membuat Modric tetap relevan.

Ia menyoroti bagaimana sang pemain menjaga kondisi fisik dan mentalnya dengan sangat disiplin. “Modric adalah kasus khusus, karena bersama saya tahun lalu, ketika ia berusia 39 tahun, ia tidak pernah absen satu sesi latihan pun," ungkapnya, seperti dikutip dari SempreMilan.

"Ia hadir secara fisik maupun mental, jadi masalahnya lebih umum dan menyangkut ritme semua tim,” sambung Ancelotti.

Ancelotti Soroti Melempemnya Wakil Italia di Eropa

Selain membahas Modric, Ancelotti juga menyoroti performa klub-klub Italia di kompetisi Eropa. Ia mengakui adanya perbedaan signifikan yang membuat tim Serie A kesulitan bersaing.

Menurutnya, masalah utama terletak pada kecepatan permainan yang tertinggal dibandingkan liga lain. Hal ini menjadi faktor penting ketika menghadapi intensitas tinggi di Liga Champions.

Beberapa klub besar Italia bahkan gagal melewati fase awal kompetisi. Situasi ini menunjukkan bahwa kesenjangan kualitas memang masih menjadi persoalan serius.

“Saya setuju dengan [Fabio] Capello, yang menyoroti perbedaan kecepatan antara liga Italia dan liga lainnya. Ketika level permainan di Liga Champions meningkat, sayangnya perbedaan itu menjadi terlihat."

“Bukan kebetulan bahwa juara Italia Napoli, finalis tahun lalu Inter, dan Juventus tidak lolos dari babak pertama, sementara Atalanta, yang lolos, kebobolan sepuluh gol dari Bayern antara leg pertama dan kedua.”

(SempreMilan)

Dilema Barcelona: Harus Rogoh Rp34 Miliar untuk Depak Kiper Veteran Wojciech Szczesny

Read Entire Article
Bisnis | Football |