Harga Emas Kembali Cerah, Simak 2 Pemicunya

9 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan pada perdagangan Rabu. Ada dua alasan yang menjadi pendorong lonjakan harga emas. Pertama muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan damai. Kedua pelemahan nilai tukar dolar AS.

Mengutip CNBC, Kamis (7/5/2026), harga emas di pasar spot naik 2,7% menjadi USD 4.678,95 per ons, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 27 April. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga menguat 2,7% ke posisi USD 4.690,20 per ons.

Adanya sinyal kesepakatan damai antara AS dengan Iran meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi dan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Di saat yang sama, indeks dolar AS turun 0,5%. Pelemahan dolar membuat logam mulia yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga meningkatkan daya tarik emas.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan optimisme terhadap tercapainya kesepakatan akhir antara AS dan Iran menjadi pemicu utama penguatan harga emas dalam jangka pendek.

“Optimisme mengenai kesepakatan final antara AS dan Iran telah memicu setidaknya sedikit kelegaan jangka pendek di pasar emas, dengan harga minyak yang lebih rendah, kekhawatiran inflasi yang mereda, serta perubahan ekspektasi terhadap langkah The Fed pada akhir tahun nanti,” ujar Grant.

Pasar Tetap Waspadai Perkembangan Konflik Timur Tengah

Meski demikian, Peter Grant menilai pasar masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Saya tidak akan mengatakan bahwa situasi sepenuhnya aman. Pasar akan terus bergerak mengikuti perkembangan berita dari Timur Tengah,” katanya.

Sumber dari mediator Pakistan serta sumber lain yang mengetahui proses mediasi menyebut Washington dan Teheran kini semakin dekat menuju kesepakatan memorandum satu halaman untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk.

Laporan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan tersebut langsung memicu penurunan tajam harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global turun hingga mendekati USD100 per barel.

Turunnya harga minyak dinilai dapat mengurangi tekanan inflasi global. Sebaliknya, jika harga minyak tetap tinggi, bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama guna menekan tekanan harga.

Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas biasanya kurang diminati karena tidak memberikan imbal hasil bunga seperti instrumen investasi lainnya.

Investor Menanti Data Tenaga Kerja AS

Fokus investor kini tertuju pada rilis laporan ketenagakerjaan bulanan Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada Jumat waktu setempat.

Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah ekonomi AS masih cukup kuat sehingga Federal Reserve tetap mempertahankan kebijakan moneternya, atau justru mulai melemah sehingga membuka peluang pemangkasan suku bunga.

Sebelumnya, laporan ADP National Employment menunjukkan jumlah tenaga kerja sektor swasta AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada April.

Selain emas, sejumlah logam mulia lain juga mengalami kenaikan harga. Harga perak spot melonjak 5,5% menjadi USD76,81 per ons. Kemudian platinum naik 3,5% menjadi USD2.020,50 per ons, sementara palladium menguat 3,9% ke level USD1.543,76 per ons.

Read Entire Article
Bisnis | Football |