Harga Emas Perhiasan Hari Ini 13 April 2026: Termurah Sentuh Level Segini

6 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia merosot sekitar 2% menjadi USD 4.700 per ounce pada Senin, (13/4/2026). Koreksi harga emas dunia ini membalikkan kenaikan dari pekan lalu. Lalu bagaimana harga emas perhiasan di pasar domestik?

Mengutip data tradingeconomics.com, harga emas dunia turun 0,88% menjadi USD 4.711,38 pada Senin, 13 April 2026.

Koreksi harga emas terjadi seiring rencana Amerika Serikat (AS) untuk memblokade Selat Hormuz setelah pembicaraan akhir pekan yang gagal dengan Iran meningkatkan kekhawatiran atas memburuknya krisis energi global.

Pembatasan tersebut hanya akan berlaku untuk kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran mulai pukul 10 pagi Waktu Bagian Timur. Negosiasi di Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan, dengan AS menuduh Teheran menolak untuk mengekang ambisi nuklirnya, sementara Iran dilaporkan menginginkan kendali atas selat tersebut, ganti rugi perang, gencatan senjata regional, dan akses ke aset luar negeri yang dibekukan.

Penutupan efektif jalur pelayaran penting ini telah mendorong harga energi naik tajam dan meningkatkan risiko inflasi, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral dapat menunda pemotongan suku bunga atau bahkan memperketat kebijakan lebih lanjut. Dinamika ini telah membebani emas, menyebabkannya turun lebih dari 10% sejak konflik dimulai.

Lalu bagaimana harga emas perhiasan di Raja Emas dan Laku Emas pada Senin, 13 April 2026?

Harga Emas Perhiasan di Laku Emas

Berikut daftar harga emas perhiasan hari ini di Laku Emas:

  • 24K (99%) Rp. 2.427.000
  • 23K Rp. 2.085.000
  • 22K Rp. 1.993.000
  • 21K Rp. 1.906.000
  • 20K Rp. 1.814.000
  • 19K Rp. 1.722.000
  • 18K Rp. 1.630.000
  • 17K Rp. 1.537.000
  • 16K Rp. 1.445.000
  • 15K Rp. 1.355.000
  • 14K Rp. 1.264.000
  • 13K Rp. 1.173.000
  • 12K Rp. 1.081.000
  • 11K Rp. 989.000
  • 10K Rp. 899.000
  • 9K Rp. 807.000

Harga Emas Perhiasan Raja Emas

Berikut daftar harga emas perhiasan hari ini di Raja Emas:

  • K24* Rp 2.430.000
  • K24 Rp 2.210.000
  • K23 Rp 2.080.000
  • K22 Rp 1.989.000
  • K21 Rp 1.900.000
  • K20 Rp 1.809.000
  • K19 Rp 1.718.000
  • K18 Rp 1.629.000
  • K17 Rp 1.538.000
  • K16 Rp 1.447.000
  • K15 Rp 1.358.000
  • K14 Rp 1.267.000
  • K13 Rp 1.176.000
  • K12 Rp 1.087.000
  • K11 Rp 996.000
  • K10 Rp 904.000
  • K9 Rp 816.000
  • K8 Rp 724.000
  • K7 Rp 633.000
  • K6 Rp 544.000
  • K5 Rp 453.000

Pelaku Pasar Kembali Lirik Logam Mulia, Harga Emas Bisa Tembus Level Tinggi

Sebelumnya, survei mingguan emas terbaru dari Kitco News menunjukkan pelaku pasar, baik dari Wall Street maupun Main Street, mulai kembali melirik emas. Hal ini terjadi setelah adanya gencatan senjata selama dua pekan terkait konflik Iran, serta tren kenaikan harga emas selama tiga minggu berturut-turut.

Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, memperkirakan harga emas akan terus naik meski bergerak tidak stabil.

“Emas perlahan terus menguat. Pergerakannya memang tidak merata, tetapi saya percaya kita sudah melihat titik terendah pasca pemboman Iran,” ujarnya dikutip dari Kitco, Senin (13/4/2026).

Ia juga menyoroti faktor lain yang memengaruhi harga emas, yakni penjualan emas oleh Turki dalam jumlah besar.

Menurut Day, saat ini emas berada dalam kondisi yang menguntungkan.

“Jika gencatan senjata bertahan dan tercapai kesepakatan, maka faktor moneter akan kembali dominan. Namun jika konflik kembali memanas, peran emas sebagai aset safe haven akan kembali menguat,” jelasnya.

Analis Berbeda Pendapat, Harga Emas Dinilai Sulit Diprediksi

Namun, tidak semua analis sepakat harga emas akan terus naik. Analis pasar senior di Barchart.com, Darin Newsom, justru melihat potensi pelemahan dalam jangka pendek.

“Dalam jangka pendek, kontrak berjangka Juni tampaknya mendekati puncak, sehingga momentum bisa berbalik turun,” katanya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa analisis teknikal saat ini kurang dapat diandalkan. Sementara itu, faktor fundamental menunjukkan bank sentral global masih terus membeli emas akibat ketidakstabilan global.

Pandangan lebih optimistis disampaikan oleh Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan.

“Saya masih percaya penurunan harga emas sebelumnya terlalu berlebihan. Kita berpotensi menuju level USD5.000 bahkan lebih,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan, retaknya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat atau Israel dapat memicu tekanan harga emas dalam jangka pendek.

Emas Bergerak Sideways, Risiko Stagflasi Menguat

Kepala strategi pasar SIA Wealth Management, Colin Cieszynski, menilai harga emas saat ini cenderung bergerak dalam rentang tertentu (sideways) setelah reli besar sebelumnya.

Menurut dia, emas kini bergerak di kisaran USD4.400 hingga USD5.200.

“Setelah lonjakan besar, wajar jika terjadi koreksi dan konsolidasi. Saat ini kita berada di tengah rentang tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa arah harga emas sangat dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik yang berubah cepat.

“Kondisi saat ini membuat pergerakan harga sulit diprediksi. Bahkan pernyataan saja bisa langsung menggerakkan pasar,” katanya.

Dari sisi inflasi, Cieszynski menilai kenaikan harga emas sebelumnya sudah mencerminkan ekspektasi inflasi yang tinggi. Namun, ia juga mengingatkan potensi risiko stagflasi yang semakin meningkat akibat gangguan di pasar energi.

Dalam survei tersebut, sebanyak 50% analis Wall Street memperkirakan harga emas akan naik dalam waktu dekat. Sementara itu, 63% investor ritel juga optimistis terhadap kenaikan harga emas pekan depan.

Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih memilih bersikap netral karena tingginya ketidakpastian global yang memengaruhi arah pergerakan emas.

Read Entire Article
Bisnis | Football |