IMF Ungkap Bahaya Baru Harga Minyak: Kapal Lewat Selat Hormuz Tinggal 10%

1 hour ago 3

Liputan6.com, Jakarta - International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional memperingatkan tekanan di pasar energi dunia belum berakhir. Salah satu perhatian utama adalah lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz yang turun drastis.

Direktur Departemen Komunikasi IMF Julie Kozack mengatakan, harga minyak dan gas masih berada pada level tinggi. Bahkan, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz saat ini hanya sekitar sepersepuluh dibandingkan kondisi sebelum perang.

"Arus lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz saat ini hanya sekitar sepersepuluh dari tingkat sebelum perang," ujar Kozack dalam konferensi pers IMF, dikutip Minggu (13/9/2026).

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting dalam perdagangan energi dunia.

IMF juga mencatat sejumlah negara telah menggunakan cadangan minyak dan gas strategis untuk menghadapi tekanan energi. Namun, cadangan tersebut pada akhirnya perlu kembali diisi.

Situasi itu membuat tekanan terhadap pasar energi belum dapat dianggap selesai.

Terlebih, kebutuhan energi juga berpotensi meningkat seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Permintaan Energi Meningkat Dampak Ledakan AI

Menurut Kozack, ledakan penggunaan AI turut meningkatkan kebutuhan energi di sejumlah negara. Pada saat yang sama, musim dingin di belahan bumi utara akan segera tiba dan berpotensi menciptakan tambahan permintaan energi.

"Pada saat yang sama, kita tahu bahwa ledakan perkembangan AI meningkatkan permintaan energi di sejumlah negara," kata Kozack.

IMF menilai kombinasi berbagai faktor tersebut membuat pasar energi masih menghadapi ketidakpastian tinggi.

Harga produk olahan minyak seperti diesel dan bahan bakar pesawat juga disebut masih sangat tinggi.

Kozack menegaskan penggunaan cadangan strategis oleh sejumlah negara bukan solusi permanen karena persediaan tersebut harus kembali dipulihkan.

Ekonomi Global Tumbuh 3%

Kondisi energi juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan IMF dalam melihat perekonomian global. Sejauh ini, ekonomi dunia dinilai masih cukup tangguh menghadapi guncangan energi.

IMF masih melihat pertumbuhan ekonomi dunia berada di sekitar 3%. Namun, lembaga tersebut menegaskan ketidakpastian tetap tinggi.

Tekanan energi yang belum berakhir menjadi salah satu risiko yang dapat memengaruhi prospek ekonomi global ke depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |