Investasi AI Meningkat, Banyak Perusahaan Belum Rasakan Dampak Bisnis

6 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus meningkat di Asia Tenggara, tetapi banyak perusahaan belum memperoleh dampak bisnis yang signifikan. Laporan AI in Southeast Asia: An Era of Opportunity yang diterbitkan McKinsey dan Singapore EDB pada Februari 2026 mencatat lebih dari 60% perusahaan di kawasan mengalokasikan 11–40% anggaran teknologi untuk AI, tetapi sekitar 60% perusahaan hanya mencatat dampak terhadap EBIT di bawah 5%.

Bahkan, hampir satu dari lima perusahaan belum merasakan manfaat finansial sama sekali.

Founder dan CEO Pesat.AI, Nell VH mengatakan, temuan tersebut menunjukkan implementasi AI di banyak perusahaan masih terbatas pada proyek uji coba dan belum terintegrasi ke dalam proses bisnis secara menyeluruh. Kondisi itu dinilai membuat investasi AI belum mampu menghasilkan nilai tambah yang optimal.

“Banyak perusahaan sudah mengeluarkan anggaran untuk AI, tetapi hasilnya belum terlihat karena implementasinya belum tepat. Yang dibutuhkan bukan hanya teknologi, tetapi juga strategi agar AI benar-benar memberikan dampak bagi bisnis,” ujar Nell di Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Nell menilai perusahaan perlu menyusun strategi implementasi yang selaras dengan kebutuhan operasional agar pemanfaatan AI mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas bisnis. Menurutnya, AI seharusnya menjadi bagian dari proses bisnis, bukan sekadar proyek teknologi.

Pesat.AI menawarkan layanan implementasi AI yang membantu perusahaan memetakan kebutuhan, menyusun strategi, dan menerapkan solusi AI sesuai tujuan bisnis. Perusahaan tersebut juga menekankan pentingnya perlindungan data serta kepatuhan terhadap Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dalam setiap penerapan AI.

Potensi ekonomi AI di Indonesia juga dinilai besar. PwC memproyeksikan teknologi AI dapat memberikan kontribusi hingga US$ 366 miliar terhadap perekonomian Indonesia pada 2030 apabila implementasinya dilakukan secara efektif.

“Melalui layanan AI Agency Indonesia, Pesat.AI ingin membantu lebih banyak bisnis mengubah AI dari sekadar investasi teknologi menjadi solusi yang mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan,” ujar Nell.

Amazon PHK 14 Ribu Karyawan Imbas Investasi di AI

Sebelumnya, Amazon mengatakan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sekitar 14.000 karyawan korporat. Hal ini menandai pengurangan karyawan yang terbaru dalam upaya perusahaan selama beberapa tahun untuk mengendalikan biaya.

Mengutip CNBC, Selasa (28/10/2025), dalam sebuah unggahan blog, perseroan menyebutkan, PHK itu dilakukan untuk membantu perusahaan menjadi lebih ramping dan tidak terlalu birokratis. Perseroan juga berupaya berinvestasi dalam taruhan terbesar termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) generative.

"Generasi AI ini adalah teknologi paling transformatif yang pernah kita lihat sejak internet, dan memungkinkan perusahaan untuk berinovasi jauh lebih cepat dari pada sebelumnya (di segmen pasar yang sudah ada maupun yang benar-benar baru),” tulis Senior Vice President of People Experience and Technology Amazon, Beth Galetti.

"Kami yakin bahwa kami perlu lebih terorganisir, dengan lebih sedikit lapisan dan lebih banyak kepemilikan, untuk bergerak secepat mungkin bagi pelanggan dan bisnis kami," ia menambahkan.

Sebelumnya CNBC melaporkan, PHK Amazon akan menjadi PHK korporat terbesar dalam sejarah Amazon. Reuters melaporkan PHK itu dapat memengaruhi hingga 30.000 karyawan, mengutip sumber yang mengetahui masalah itu.

PHK Terbesar di Industri Teknologi Sejak 2020

Langkah Amazon ini menambah panjang daftar perusahaan teknologi besar yang melakukan efisiensi pada 2025. Menurut data dari Layoffs.fyi, situs yang menggabungkan gelombang PHK di sektor teknologi, pemangkasan ini akan menjadi yang terbesar sejak 2020.

Hingga Oktober, lebih dari 200 perusahaan teknologi telah memberhentikan sekitar 98.000 karyawan di seluruh dunia. Di antaranya, Microsoft telah memangkas sekitar 15.000 pekerja, Meta menghapus 600 posisi di divisi kecerdasan buatan, sementara Google dan Salesforce juga melakukan langkah serupa dengan alasan efisiensi dan peningkatan penggunaan teknologi AI.

Amazon bukan kali pertama melakukan PHK besar-besaran. Sejak 2022, perusahaan yang didirikan oleh Jeff Bezos telah memangkas lebih dari 27.000 karyawan dalam beberapa tahap. Pemangkasan terbaru disebut sebagai bagian dari program efisiensi biaya yang digagas oleh CEO Amazon, Andy Jassy, ​​sejak masa pandemi Covid 19.

"Perusahaan kami sedang mengupayakan harmonisasi struktur perusahaan dengan mengurangi jumlah manajer dan mempercepat proses kerja," ujar Jassy dalam memo internal kepada karyawan beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, penerapan kecerdasan buatan (AI) generatif akan mempengaruhi struktur tenaga kerja Amazon di masa depan. Menurut dia, otomatisasi dan penerapan AI dapat membuat sejumlah posisi tidak lagi dibutuhkan, sekaligus membuka peluang baru di bidang teknologi dan pengembangan sistem berbasis AI

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |