Kekayaan Bos Produsen Chip CXMT Zhu Yuming Melonjak Rp 216 Triliun Usai IPO

7 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Chairman produsen chip memori China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), Zhu Yiming telah menambah kekayaan lebih dari US$ 12 miliar atau Rp 216,26 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.020). Kenaikan kekayaan Zhu Yiming ini bertambah setelah pencatatan saham perusahaan CXMT di Bursa Efek Shanghai pada Senin, (27/7/2026).

Saham CXMT melonjak 465,82% menjadi 49 yuan, berdasarkan data Google Finance, Senin pekan ini. Lonjakan harga saham CXMT ini seiring investor berebut untuk mendapatkan sebagian saham perusahaan yang telah bangkit dari ketidakjelasan untuk bersaing dengan pesaing seperti Samsung dan Micron di tengah booming permintaan yang dipicu oleh artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Demikian mengutip Forbes, Senin pekan ini.

CXMT, atau ChangXin Memory Technologies, termasuk di antara banyak produsen chip yang telah memperoleh keuntungan besar dari booming kecerdasan buatan atau AI. Bisnis perseroan berkembang pesat karena China mendorong kemandirian yang lebih besar dalam teknologi mutakhir sambil menghadapi keterbatasan akses ke mesin pembuatan chip canggih karena pembatasan yang dipimpin Amerika Serikat.

Mengutip AP, Perusahaan tersebut mengumpulkan setidaknya US$ 8,6 miliar atau Rp 155,35 triliun dari penawaran saham, dengan harga 8,66 yuan (US$ 1,3) per saham. CMXT mencatatkan saham STAR Bursa Efek Shanghai yang mirip Nasdaq, juga dikenal sebagai Papan Inovasi Sains dan Teknologi.

Ini adalah IPO terbesar kedua di China daratan setelah penawaran saham US$ 22,1 miliar atau Rp 399,23 triliun oleh Agricultural Bank of China di Shanghai dan Hong Kong pada 2010.

CXMT adalah salah satu produsen chip memori DRAM (dynamic random access), terbesar di dunia, sejenis semikonduktor yang digunakan dalam segala hal mulai dari server AI hingga mobil dan elektronik konsumen seperti ponsel pintar dan komputer pribadi.

"CXMT memainkan peran penting dalam dorongan AI China, khususnya dalam menghadapi kontrol ekspor AS,” ujar, peneliti di Brookings Institution dan ahli dalam kebijakan teknologi China, Kyle Chan.

Pembatasan AS juga telah melarang China mengimpor chip memori HBM, atau memori bandwidth tinggi, jenis DRAM berkinerja tinggi.

Profil Zhu Yuming

Zhu Yiming mengenggam kepemilikan saham kecil di perusahaan tersebut yang kini menjadi perusahaan terbesar yang tercatat di bursa saham di China.

Zhu belajar di Amerika Serikat (AS) dan merupakan penduduk tetap Singapura. Selain CXMT, Ia juga memiliki saham di Giga Device, perusahaan produsen chip yang juga tercatat di Bursa Shanghai yang didirikan pada 2024. Secara gabungan, total kekayaan miliarder ini mencapai US$ 15,9 miliar atau Rp 286,54 triliun. Berdasarkan data Forbes pada 21 Juli, kekayaan Zhu sekitar US$ 3,7 miliar atau Rp 66,84 triliun.

Mengutip vnexpress.net, Zhu merupakan lulusan Universitas Tsinghua, salah satu universitas terkemuka di China. Ia belajar fisika, dan kemudian tertarik apda semikonduktor.

Alih-alih mengambil pekerjaan sebagai tutor, seperti yang dilakukan banyak teman sekelas Zhu, ia bekerja sebagai programmer. Ia menghasilkan sekitar 300.000 yuan atau Rp 800,28 juta (asumsi yuan terhadap rupiah di kisaran 2.668) pada akhir 1990-an, saat itu penghasilan rata-rata tahunan di China sekitar 10.000 yuan atau Rp 26,67 juta, menurut majalah alumni Tsinghua.

Seiring proyek perangkat lunaknya semakin melibatkan perangkat keras, ia tertarik pada sirkuit terpadu, bidang di mana China sangat tergantung pada pemasok asing.

Selanjutnya ia memperoleh gelar pascasarjana dari dari Stony Brook University di New York dan menetap di Amerika Serikat. Zhu bekerja untuk beberapa perusahaan teknologi, termasuk pengembang chip memori Monolithic System Technologies.

Pada 2004, Zhu memutuskan memulai bisnis sendiri. Dengan dukungan dari Li Jun, sesame alumni Tsinghua, Zhu diperkenalkan kepada investor modal ventura Hsun K Chou. Hsun K Chou investasikan US$ 100.000 atau Rp 1,8 miliar, dan menyewakan garasi kepadanya dengan biaya rendah.

Membangun CXMT

Bekerja sama dengan insinyur Shu Qingming, Zhu mendirikan perusahaan rintisan desain semikonduktor GigaDevice, dan mengubah desain chip-nya menjadi prototipe chip memori yang berfungsi.

Kemudian, ia mengumpulkan dana tambahan sebesar US$ 920.000 atau Rp 16,61 miliar dari kelompok alumni Universitas Tsingua. Selanjutnya ia memindahkan GigaDevice ke Beijing, China. Perusahaan desain semikonduktor ini berkembang menjadi salah satu perancang chip terkemuka di China. Perseroan melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Saham Shanghai pada Agustus 2016.

Pada tahun yang sama, Zhu bermitra dengan pemerintah Hefei di China Timur untuk meluncurkan proyek yang kemudian menjadi CXMT.

Tidak seperti GigaDevice, yang mendesain chip sambil melakukan outsourcing manufaktur, CXMT berupaya memproduksi chip memori sendiri, yang membutuhkan investasi miliaran dolar AS dalam pabrik fabrikasi dan proses pengembangan selama bertahun-tahun.

Pada 2018, Zhu meninggalkan GigaDevice untuk fokus sepenuhnya pada perusahaan baru itu, dan berjanji tidak menerima gaji hingga perusahaan itu menghasilkan keuntungan.

CXMT memproduksi chip DRAM utama hasil pengembangan sendiri pertama pada 2019, memberikan pijakan yang berarti bagi China di pasar yang telah lama didominasi oleh produsen luar negeri.

Perusahaan mengalami kerugian, dan menerima miliaran dolar AS dukungan pemerintah. “Perusahaan telah mendapatkan manfaat dari dukungan pemerintah yang sangat besar, yang merupakan satu-satunya alasan mengapa perusahaan dapat memasuki industri memori yang sangat padat modal,” ujar Profesor Tufts University dan penulis buku Chip War kepada New York Times.

Pangsa Pasar

Nasib perusahaan berubah ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence memicu booming chip memori global yang mendorong kenaikan harga dan permintaan untuk produk memori canggih.

Mengutip AP, pendapatan perusahaan melonjak menjadi 50,8 miliar yuan atau US$ 7,5 miliar. Jumlah itu setara Rp 135,55 triliun (asumsi kurs yuan terhadap rupiah di kisaran 2.668). Lonjakan pendapatan itu seiring permintaan yang pesat akibat perkembangan AI dalam tiga bulan pertama 2026, meningkat lebih dari 700% dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Counterpoint Research, sebuah perusahaan riset teknologi, CXMT adalah produsen chip memori DRAM terbesar keempat di dunia pada 2025 berdasarkan pengiriman, yang menguasai sekitar 8% pasar global. Samsung Electronics menyumbang 36%, SK Hynix 29%, dan Micron sekitar 24%.

Dalam tiga bulan pertama tahun ini, CXMT menyumbang sekitar 9% dari pengiriman global. Pada 2028, pangsa pasarnya diperkirakan oleh Counterpoint Research akan mencapai sekitar 11%. Namun, perusahaan riset tersebut memperkirakan CXMT kemungkinan membutuhkan setidaknya 15% pangsa pasar global agar kompetitif dalam jangka panjang.

“Pembatasan perdagangan pada peralatan tetap menjadi tantangan utama bagi CXMT,” ujar Direktur riset di Counterpoint yang mengkhususkan diri dalam semikonduktor memori, MS Hwang.

Beberapa anggota parlemen AS juga baru-baru ini menyerukan kepada pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memblokir perusahaan Amerika agar tidak membeli chip memori CXMT karena kekhawatiran keamanan nasional dan ekonomi.

CXMT adalah salah satu dari banyak perusahaan China yang menurut Pentagon memiliki hubungan dengan militer Tiongkok. Beijing telah menolak sebutan tersebut dalam sebagian besar kasus.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |