Kenapa Iran Masih 'Perkasa' Meski Sudah Dikeroyok Rudal AS-Israel?

4 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Perang antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel memasuki hari keenam, namun Teheran masih belum terlihat menunjukkan tanda-tanda takluk apalagi bertekuk lutut terhadap AS.

Alih-alih menyerah, Iran masih terus melancarkan serangan balasan yang membuat AS ikut kerepotan lantaran menyasar situs-situs militernya di negara-negara sekutunya di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar serangan balasan Iran memang berhasil dicegat AS dan negara-negara Arab. Namun beberapa rudal dan drone Iran berhasil lolos dari pencegatan sistem pertahanan rudal AS hingga memicu kerusakan hingga kebakaran di situ-situs strategis di kawasan.

Sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Qatar, Kuwait, hingga Siprus juga kena imbas serangan Iran, lantaran menampung pangkalan militer AS yang jadi target serangan balasan Teheran.

Semua ini terjadi kala Iran juga harus menelan pil pahit kematian pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei, dan sejumlah komandan militer dalam serangan AS-Israel di hari terakhir Februari lalu.

Peperangan ini juga terjadi kala Iran masih terkena isolasi dan embargo internasional sehingga memiliki akses terbatas untuk membeli senjata ataupun material pembuatannya.

Apa yang menyebabkan Iran bisa bertahan sejauh ini meski getol perang dengan AS-Israel?

'Miskalkulasi' Amerika

Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menilai resiliensi Iran terbentuk karena keteledoran dan keserampangan Amerika sendiri. 

Menurut Yon, AS dan Israel terlalu mudah menyepelekan Iran sehingga salah perhitungan terkait seberapa besar kekuatan Iran sesungguhnya.

Yon menuturkan Presiden Donald Trump, yang kekeh melancarkan serangan ke Iran terlepas dari keengganan jajaran militer AS dan Kongres, telah menggampangkan kekuatan Iran yang sebenarnya tidak pernah diketahui publik hingga intelijen sesungguhnya.

"Tentu soal persenjataan Iran, terutama misil dan rudal jarak jauh, itu kan tidak sepenuhnya bisa diprediksi oleh Amerika Serikat atau Israel soal seberapa banyak dan besarnya ya karena mereka (Iran) banyak menyimpan alutsista di bawah tanah, tidak terekspos," ucap Yon kepada CNNIndonesia.com pada Rabu (4/3).

[Gambas:Video CNN]

"Nah bisa saja kemudian Amerika-Israel miskalkulasi berkaitan dengan kemampuan dan daya tahan iran, cenderung underestimate lah," paparnya menambahkan.

Miskalkulasi AS ini, kata Yon, terlihat dari klaim Trump yang meyakini bisa membuat Iran takluk lewat serangan udara gabungannya dalam hitungan pekan, termasuk dengan membunuh Khamenei.

"Dia (Trump) berharap kematian Khamenei mendorong rakyat Iran akan turun ke jalan, mengambil alih kekuasaan. Ternyata kan tidak. Justru semangat perlawanan yang semakin kuat dari rakyat Iran mendukung untuk melawan balik dengan retaliasi yang lebih hebat karena pemimpin mereka terbunuh," kata Yon.

Swasembada alutsista

Selain itu, pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia Sya'roni Rofii menilai embargo sanksi hingga isolasi internasional ternyata justru membuat Iran makin "mandiri", termasuk soal merakit dan membuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) seperti rudal dan drone.

Meski selama puluhan tahun berada di bawah sanksi ketat Amerika dan berbagai sanksi multilateral lain, Iran tetap mampu membangun dan mempertahankan industri pertahanan domestik serta memproduksi berbagai sistem persenjataan secara mandiri.

Hal ini bukan berarti sanksi AS sepenuhnya gagal, melainkan karena Teheran mengadaptasi strategi untuk mengakali pembatasan dan menekankan kemandirian.

Embargo dan isolasi internasional, kata Sya'roni, berhasil membuat Iran dipaksa mengandalkan teknologi dalam negeri.

"Ilmuwan Iran dituntut untuk berinovasi di tengah embargo. Dan itu berhasil. Kedua, prinsip yang ditanamkan kepemimpinan Iran: menanamkan semangat perlawanan terhadap Barat. Sehingga dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi semangatnya sama yakni menjadi bangsa mandiri," ucap Sya'roni kepada CNNIndonesia.com.

Dikutip CNBC International, Iran bukan hanya bisa swasembada alutsista. Teheran bahkan telah mengekspor persenjataan mereka dan menjadi pemasok penting drone militer dan rudal bagi Rusia sejak invasi skala penuh Moskow ke Ukraina dimulai pada 2022.

Hal itu dikonfirmasi sendiri oleh Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Pada Februari 2025 lalu, Laksamana Muda Habibollah Sayyari mengeklaim Iran memproduksi lebih dari 90% peralatan tempurnya sendiri.

Sayyari menuturkan kemampuan itu muncul sebagai dampak dari puluhan tahun sanksi yang membuat Iran tidak bisa memperoleh berbagai platform canggih seperti pesawat atau kapal perang baru.

"Sayyari, yang merupakan Wakil Komandan Angkatan Darat Iran untuk urusan koordinasi, mengatakan pada Kamis bahwa Angkatan Bersenjata Iran mampu memenuhi seluruh kebutuhan pertahanan. Iran tidak lagi meminta peralatan dari negara asing," demikian dilaporkan IRNA.

Baca di halaman berikutnya >>>


Read Entire Article
Bisnis | Football |