Barcelona Hancur Lebur! 3 Catatan dari Kekalahan 0-4 Lawan Atletico Madrid di Copa del Rey

9 hours ago 20

Liputan6.com, Jakarta - Barcelona menelan kekalahan telak 0-4 dari Atletico Madrid pada leg pertama semifinal Copa del Rey, Jumat (13/2) dini hari WIB di Stadion Metropolitano. Hasil ini langsung mengguncang ambisi Blaugrana di kompetisi domestik.

Kekalahan tersebut mungkin terasa lebih menyakitkan dibanding tersingkirnya mereka dari Liga Champions UEFA musim lalu. Saat itu Barcelona tetap tampil kompetitif, sedangkan kali ini mereka tak berdaya sepanjang laga.

Sejak menit awal, Atletico tampil dominan dan agresif. Barcelona gagal mengimbangi intensitas permainan tuan rumah dan sudah tertinggal empat gol bahkan sebelum turun minum.

Walau tak kebobolan lagi di babak kedua, skor akhir tidak mencerminkan sepenuhnya tekanan yang mereka alami. Kini, jalan menuju final Copa del Rey tampak menanjak curam dan menuntut keajaiban di leg kedua.

Bencana Taktis dan Mental di Era Flick

Laga di Metropolitano menjadi salah satu performa terburuk Barcelona di bawah Hansi Flick. Tim kehilangan kontrol, disiplin posisi, serta ketajaman dalam transisi menyerang.

Atletico Madrid tampil dengan intensitas dua kali lipat. Mereka menutup ruang dengan cepat, memenangkan duel-duel penting, dan memanfaatkan celah di lini pertahanan tinggi Barcelona.

Serangan balik cepat tuan rumah berkali-kali membongkar struktur pertahanan Blaugrana. Koordinasi lini belakang buruk, sementara lini tengah gagal memutus alur permainan lawan.

Di sisi lain, Barcelona kesulitan membangun serangan. Operan sering terputus, tekanan lawan sulit dilewati, dan permainan kombinasi yang biasanya menjadi identitas tim nyaris tak terlihat.

Kontroversi VAR dan Hilangnya Momentum

Meski kekalahan ini pantas secara performa, situasi perwasitan kembali menjadi perbincangan. Barcelona harus menerima keputusan VAR yang memakan waktu hingga delapan menit untuk membatalkan gol.

Jeda panjang tersebut mengganggu ritme permainan dan meredam momentum yang sempat muncul di awal babak kedua. Intensitas Barcelona menurun setelah keputusan itu diumumkan.

Penjelasan soal gangguan sistem semi-otomatis dan penggunaan garis manual untuk mengecek offside memunculkan pertanyaan baru. Dalam situasi yang sangat tipis dan sistem bermasalah, interpretasi seharusnya berpihak pada penyerang.

Terlepas dari polemik tersebut, fakta di lapangan tetap jelas: Barcelona tidak tampil pada level yang dibutuhkan untuk semifinal.

Misi Comeback: Antara Harapan dan Realitas

Defisit empat gol membuat Barcelona berada di tepi jurang eliminasi. Secara matematis peluang masih terbuka karena semifinal dimainkan dua leg.

Leg kedua akan memberi keuntungan tersendiri. Dukungan publik kandang, kembalinya Pedri, Raphinha, dan Marcus Rashford, serta kondisi lapangan yang lebih ideal bisa menjadi faktor pembeda.

Namun, membalikkan ketertinggalan 0-4 bukan perkara mudah. Dalam sejarah sepak bola modern, comeback dengan margin sebesar itu tergolong langka.

Barcelona membutuhkan malam yang nyaris sempurna: empat gol untuk memaksakan adu penalti dan lima gol untuk menang langsung. Tanpa performa kolektif yang jauh lebih solid, Copa del Rey bisa saja berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan.

Sumber: Barca Universal

Pasangan Rodi Terpilih Pimpin PSSI Pers hingga 2029

Read Entire Article
Bisnis | Football |