Ketika AC Milan Beralih dari Formasi 3-5-2 ke 4-3-3 untuk Bongkar Pertahanan Rendah Cremonese

2 weeks ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Kemenangan 2-0 AC Milan atas Cremonese pada pekan ke-27 Serie A tidak lahir secara instan. Milan harus bekerja keras menembus pertahanan lawan yang disiplin dan terorganisir.

Sepanjang laga, Rossoneri sempat terlihat buntu. Skema awal dengan pendekatan yang lebih berhati-hati membuat aliran serangan Milan mudah dibaca, terutama ketika Cremonese memilih bertahan rendah dan rapat.

Namun, situasi berubah di paruh akhir pertandingan. Pelatih Massimiliano Allegri mengambil keputusan taktis penting dengan menambah daya gedor di lini depan.

Perubahan itu bukan hanya soal pergantian pemain, tetapi juga pendekatan permainan. Milan akhirnya menemukan celah dan mengunci kemenangan melalui gol telat Strahinja Pavlovic dan Rafael Leao.

Pergeseran ke 4-3-3 dan Dampaknya di Lapangan

Di babak kedua, Milan beralih ke formasi 4-3-3. Skema ini memberi mereka lebar serangan yang lebih konsisten serta kehadiran ekstra di kotak penalti lawan.

Allegri menempatkan Niclas Fullkrug di antara Christian Pulisic dan Rafael Leao. Perubahan ini menandai pendekatan yang lebih langsung dan agresif.

Sebelumnya, Milan kesulitan memaksimalkan peluang. Leao dan Pulisic sempat mendapatkan situasi satu lawan satu di babak pertama, tetapi gagal berujung gol. Struktur 3-5-2 membuat serangan Milan kerap berhenti di area sepertiga akhir.

Dengan tiga penyerang, tekanan Milan meningkat. Garis pertahanan Cremonese terdorong lebih dalam, membuka ruang bagi second line untuk masuk dan akhirnya menghasilkan gol penentu.

Risiko Lebih Besar, Hasil Lebih Nyata

Perubahan taktik ini tentu tidak tanpa risiko. Milan menjadi lebih terbuka terhadap serangan balik. Salah satu momen berbahaya terjadi saat skema 5 lawan 4 berujung tembakan melambung dari Vandeputte.

Namun, inilah harga yang harus dibayar ketika menghadapi tim dengan blok rendah. Formasi 3-5-2 Milan sebelumnya dinilai terlalu mudah ditebak dan minim variasi untuk mempercepat tempo permainan.

Skema tiga penyerang memberi solusi situasional. Milan mampu meningkatkan intensitas dan memaksa lawan bertahan lebih dalam, sesuatu yang sulit dilakukan dengan pendekatan sebelumnya.

Pada akhirnya, entah itu kebetulan atau sebab-akibat langsung, fakta di papan skor jelas: Milan memenangkan pertandingan setelah beralih ke 4-3-3 pada setengah jam terakhir.

Keyakinan Allegri dan Batas Eksperimen

Meski perubahan itu sukses, Allegri menegaskan bahwa ia tidak terobsesi pada angka di papan taktik. Baginya, formasi hanyalah alat, bukan tujuan.

“Saat ini, ini adalah solusi di pertengahan pertandingan, lalu kita lihat bagaimana hasilnya," buka Allegri.

"Saat ini, saya tidak tertarik pada formasi; kita memiliki target yang terlalu besar untuk dicapai dengan tim-tim di belakang yang terus menekan,” kata Allegri.

Pernyataan ini menegaskan sikap pragmatis sang pelatih. Perubahan ke 4-3-3 bersifat kontekstual, bukan fondasi utama permainan Milan.

Sumber: SempreMilan

AC Milan Taklukkan Cremonese di San Siro, Perubahan Taktik Max Allegri Jadi Sorotan

Read Entire Article
Bisnis | Football |