Mengecam Kegagalan Italia: Sistem Hancur Sejak Skandal Calciopoli

3 weeks ago 21

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi sepak bola Italia kini sedang terpuruk setelah dipastikan tidak akan berpartisipasi dalam ajang Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Kegagalan yang menyakitkan ini memicu reaksi keras serta kemarahan dari mantan direktur Juventus, Luciano Moggi.

Moggi berpendapat bahwa keterpurukan Azzurri bukanlah suatu ketidaksengajaan. Ia menilai ada kerusakan sistemik yang telah merusak inti sepak bola Italia selama kurang lebih dua dekade terakhir.

Keadaan ini dipandang sebagai refleksi dari ketidakmampuan para pemimpin federasi dalam menjalankan tugas mereka. Kini, masyarakat menunggu apakah akan ada langkah transformasi yang konkret atau hanya sekadar janji-janji tanpa bukti di tengah kekecewaan besar ini.

Moggi secara terang-terangan menyalahkan pihak-pihak yang ia anggap sebagai penyebab utama tragedi olahraga ini. Ia memberikan analisis tajam mengenai keterkaitan masa lalu dengan tuntutan perubahan besar untuk masa depan.

Kutukan Pasca Calciopoli dan Keruntuhan Sistem

Moggi menghubungkan krisis saat ini dengan skandal besar yang pernah mengguncang Italia pada tahun 2006. Baginya, kesuksesan di Berlin saat itu merupakan penutup dari periode kepemimpinan yang solid di dalam skuat nasional.

"Ingatlah bahwa hasil besar terakhir adalah pada tahun 2006, saat kita memenangi Piala Dunia dengan struktur kepemimpinan yang tangguh," kenang Moggi via TuttoMercatoWeb.

Ia berkeyakinan bahwa sejak peristiwa Calciopoli meledak, landasan utama sepak bola Italia mulai hancur dan kehilangan jati dirinya. Semenjak masa itu, reputasi Italia di kancah internasional terus menurun karena minimnya usaha perbaikan yang signifikan.

"Dari titik itu, dengan munculnya fajar Calciopoli, sepak bola Italia telah tamat," tegas pria yang sempat menjadi figur dominan di Serie A tersebut.

Desakan Mundur untuk Gabriele Gravina

Kritik pedas Moggi diarahkan langsung kepada Presiden FIGC, Gabriele Gravina, yang dinilai telah gagal total. Bagi Moggi, ketidakmampuan menembus kualifikasi Piala Dunia berkali-kali adalah bukti kuat bahwa kepengurusan saat ini sudah tidak layak dipertahankan.

"Tim nasional adalah cermin dari sistem. Jika kita tersingkir tiga kali, itu berarti ada sesuatu yang rusak secara fundamental di tingkat dasar," cetusnya saat berbicara di Radio Tutto Napoli.

Moggi memakai tamsil yang cukup keras guna menggambarkan situasi di tubuh Federasi Sepak Bola Italia sekarang. Ia mendesak adanya pergantian di posisi puncak organisasi demi memulihkan nama baik sepak bola mereka.

"Ikan membusuk dari kepalanya, dan oleh karena itu Gabriele Gravina harus menyingkir. Dia tidak beruntung dan juga tidak mampu menjalankan tugasnya," semprot Moggi dengan nada penuh emosi.

Jadwal BRI Super League usai Libur Lebaran: Semen Padang vs Persib, Bhayangkara vs Persija

Read Entire Article
Bisnis | Football |