Miliarder Ini Ingatkan Perang di Timur Tengah Dapat Berubah jadi Bencana Global

2 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder sekaligus CEO Louis Vuitton Moet Hennessy (LVMH), Bernard Arnault mengatakan, pemulihan raksasa barang mewah itu bergantung penyelesaian perang di Timur Tengah. Ia menilai, perang di Timur Tengah dapat berujung pada bencana global.

“Anda pasti telah memperhatikan dunia sekarang berada dalam krisis yang sangat serius di Timur Tengah. Ini sangat sulit diprediksi,” kata Arnault pada rapat tahunan LVMH, Kamis, 23 April 2026, dikutip dari Channel News Asia, Jumat, (24/4/2026).

Bernard Arnault menuturkan, grup itu dapat kembali tumbuh di semua bisnis-nya pada 2026 yang meliputi fesyen dan tas tangan hingga hotel serta minuman keras kelas atas. Hal itu diprediksi jika perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran tidak berlarut-larut.

“Jika tidak, kita harus menghadapi krisis,” ujar dia.

Ia menambahkan, hal itu dapat berubah menjadi bencana global dengan perkembangan ekonomi yang sangat serius dan sangat sensitif. “Dan pada saat itu, siapa yang dapat mengatakan bagaimana hasilnya,” ujar Bernard Arnault.

Perang di Timur Tengah, yang mengancam akan menurunkan pengeluaran konsumen di seluruh dunia, telah menunda pemulihan permintaan barang mewah yang diantisipasi setelah beberapa tahun yang penuh gejolak.

Grup yang terdaftar di Paris di balik Louis Vuitton dan Dior mengatakan pekan lalu perang tersebut menurunkan pertumbuhan penjualan kuartal pertama yang mencapai 1 persen secara organik. Penjualan LVMH di beberapa pusat perbelanjaan di Timur Tengah turun hingga 70 persen pada awal Maret, tak lama setelah pecahnya perang.

AS dan Iran terlibat dalam kebuntuan di Selat Hormuz, menyebabkan gangguan besar pada pasar pengiriman dan energi global. Kedua negara saling menuduh melanggar perjanjian gencatan senjata dalam beberapa hari terakhir dan putaran baru pembicaraan damai belum dimulai.

Arnault telah membina hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump, yang telah dikenalnya sejak keduanya bekerja di bidang real estat di New York pada tahun 1980-an. Ia menghadiri pelantikan Trump pada Januari tahun lalu.

Peran Sang Anak

Arnault juga menepis pertanyaan dari investor mengenai perencanaan suksesi di grup yang dikendalikan keluarga tersebut, sebuah topik yang semakin menjadi perhatian pemegang saham.

“Saya akan menjawab ini sekali dan untuk selamanya. Anda memperbarui kontrak saya tahun lalu dengan 99% suara untuk 10 tahun ke depan. Jadi kita akan membicarakan semua ini lagi dalam tujuh atau delapan tahun,” ujar dia.

Adapun lima anak Arnault memiliki peran operasional yang signifikan di LVMH dan masing-masing diundang untuk berbicara singkat kepada investor yang hadir untuk pertama kalinya.

Mereka menguraikan pekerjaan mereka mulai dari Jean yang termuda berusia 27 tahun yanng mengawasi pembuatan jam tangan di Louis Vuitton. Selain itu anak tertua Delphine yang menjabat sebagai Chief Executive Dior. Keempat saudara kandung tertua juga memegang kursi di dewan direksi grup barang mewah itu.

“Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan pemegang saham dan pemegang saham saya selalu diberi informasi mengenai informasi mengenai aktivitas masing-masing dari mereka, yang semuanya sangat fokus pada bidang tertentu, dan yang semuanya sangat brilian di bidangnya,” kata Arnault.

Adapun Arnault masuk jajaran miliarder versi Forbes. Ia berada di posisi ke-10 dalam daftar miliarder dunia versi real time Forbes.  Total kekayaan Arnault dan keluarga mencapai USD 148,6 miliar atau Rp 2.576 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.340) pada 24 April 2026.

Kekayaan Miliarder Bernard Arnault Merosot Rp 856,30 Triliun

Sebelumnya, saham raksasa barang mewah LVMH turun 26% di tengah penurunan pendapatan akibat konflik Timur Tengah dan nilai tukar. Hal itu berdampak terhadap kekayaan miliarder Bernard Arnault. Kekayaan Chairman dan CEO LVMH Bernard Arnault turun hampir USD 50 miliar atau Rp 856,30 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.130).

Mengutip Forbes, ditulis Rabu (15/4/2026) CEO LVMH Bernard Arnault merupakan orang terkaya di Eropa dan menduduki peringkat pertama dalam daftar miliarder Forbes pada 2019 dan 2024. Ia pernah mencatat kekayaan mencapai USD 233 miliar atau Rp 3.990 triliun.

Saat ini, miliarder berusia 77 tahun tersebut memiliki kekayaan USD 151 miliar atau Rp 2.586 triliun dan turun peringkat kesembilan orang terkaya di dunia, di belakang CEO Nvidia Jensen Huang. 

Adapun LVMH melaporkan pendapatan sebesar 19,1 miliar euro pada kuartal pertama 2026, turun 6% dari kuartal pertama 2025,  meskipun pertumbuhan organik tetap positif sebesar 1% dengan selisih antara dua angka itu hampir sepenuhnya disebabkan tekanan nilai tukar sebesar 7%.

Kinerja LVMH

Terlepas dari pertumbuhan organik yang positif dari tahun ke tahun, pendapatan turun hampir 16% dari kuartal akhir 2025. Harga saham anjlok sekitar 26% pada 2026, awal tahun terburuk perusahaan dalam sejarah, lebih buruk dari pada krisis keuangan 2008, pandemi COVID-19 dan meletusnya gelembung dot com, menurut analisis Bloomberg.

Koreksi harga saham telah menghapus hampir USD 50 miliar dari kekayaan pendiri dan CEO Bernard Arnault, yang memiliki sekitar 50% saham LVMH dan memegang saham minoritas di Hermes dan Birkenstock

Perusahaan melaporkan pertumbuhan organik positif atau netral di sebagian besar kategori bisnisnya termasuk anggur dan minuman keras, parfum dan kosmetik, jam tangan dan perhiasan, serta ritel selektif kecuali penurunan organik sebesar 2% di divisi fesyen dan barang kulit yang mencakup merek Louis Vuitton, Christian Dior, Celine, Givenchy, Marc Jacobs, dan produsen koper Rimowa.

Perusahaan menyebutkan dampak dari konflik di Timur Tengah sebagai pendorong utama penurunan penjualan di divisi fesyen dan barang kulit.

Read Entire Article
Bisnis | Football |