Momen Unik Piala Dunia: Kemenangan Politik Timnas Italia di Kepemimpinan Fasisme

6 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia selalu menyajikan drama dan momen tak terlupakan, namun edisi 1938 di Prancis menyimpan cerita unik yang sarat akan intrik politik. Timnas Italia berhasil mempertahankan gelar juara dunia mereka, sebuah prestasi gemilang yang tercapai di tengah gelombang protes anti-fasis yang meluas. Kemenangan ini bukan hanya tentang sepak bola, melainkan juga cerminan dari pengaruh kuat rezim Benito Mussolini terhadap olahraga.

Di bawah kepemimpinan pelatih legendaris Vittorio Pozzo, skuad Italia menghadapi tekanan besar, baik di dalam maupun di luar lapangan. Mereka harus berjuang melawan tim lawan sekaligus menghadapi cemoohan dan hinaan dari penonton yang menentang ideologi fasisme. Momen-momen krusial, seperti hormat fasis sebelum pertandingan, menjadi simbol perlawanan dan penegasan identitas di mata rezim.

Kisah kemenangan Italia pada Piala Dunia 1938 ini menjadi pengingat akan bagaimana olahraga dapat bersinggungan dengan politik, sebuah dinamika yang terus relevan hingga perhelatan akbar seperti piala dunia 2026 mendatang. Peristiwa ini menyoroti bagaimana sebuah rezim dapat memanfaatkan popularitas sepak bola sebagai alat propaganda.

Pengaruh Fasisme di Sepak Bola Italia

Rezim fasis di bawah Benito Mussolini sangat menyadari potensi sepak bola sebagai alat propaganda yang efektif. Mereka menginvestasikan sumber daya besar untuk meregenerasi sepak bola Italia, menjadikannya instrumen penting dalam pembangunan identitas nasional dan kekuatan negara. Piagam Viareggio tahun 1926 menjadi tonggak penting yang mengubah “calcio” menjadi permainan fasis, dengan pembentukan liga nasional Serie A.

Tujuan utama dari reformasi ini adalah ganda: pertama, untuk membentuk rasa identitas nasional yang kuat di kalangan masyarakat Italia. Kedua, untuk menciptakan struktur kompetisi yang lebih kuat dan kompetitif, yang pada akhirnya akan menghasilkan tim nasional yang mampu bersaing dengan yang terbaik di dunia.

Pelatih Vittorio Pozzo, yang juga seorang jurnalis, menanamkan semangat militerisme yang kuat ke dalam timnya. Ia mengisolasi skuad dalam “ritiro” atau retret, memaksa pemain dari klub rival untuk sekamar guna meredakan persaingan internal. Suasana kamp pelatihan yang ia ciptakan lebih mirip dengan angkatan bersenjata, lengkap dengan taktik motivasi nasionalistik seperti kunjungan ke pemakaman perang.

Piala Dunia 1938 diselenggarakan di tengah ketegangan politik global yang meningkat, terutama di Prancis. Hubungan antara Prancis dan Italia memburuk drastis akibat pernyataan anti-Prancis dan pro-Franco yang dilontarkan Mussolini pada Mei 1938. Sentimen anti-fasis di Prancis sangat kuat, dan banyak yang tidak menyukai rezim fasis Italia yang semakin otoriter. Pembunuhan Carlo Rosselli, seorang intelektual anti-fasis Italia yang diasingkan di Prancis, pada Juni 1937, semakin memperkeruh suasana. Rosselli, bersama saudaranya Nello, dibunuh di Normandy oleh kelompok sayap kanan ekstrem Prancis, Cagoule. Peristiwa ini menambah daftar panjang alasan bagi warga Prancis dan Italia yang diasingkan untuk menentang rezim Mussolini. Ketika tim Italia tiba di Marseille, mereka disambut oleh sekitar 3.000 demonstran anti-fasis Prancis dan Italia. Meskipun pers Italia berusaha melaporkan penerimaan yang sopan, kenyataannya adalah kehadiran tim Italia, sebagai representasi langsung dari rezim fasis, menjadi sasaran utama protes. Fasisme telah mempolitisasi sepak bola, dan tim Italia menuai konsekuensinya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |