RI Mau Impor 150 Juta Barel Minyak dari Rusia, Dapat Harga Diskon?

2 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung menyebut pemerintah akan mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia. Lantas, apakah pembelian atas kerja sama antarpemerintah ini mendapat harga diskon?

Yuliot menyampaikan, pembelian minyak mentah dari Rusia tersebut akan menggunakan harga pasar. Dia mengaku tak mengetahui apakah akan mendapatkan harga khusus atas penyediaan kebutuhan energi nasional tadi.

"Ini kan ya kita ikut harga pasar. Itu kalau ada diskon itu kita kan ya juga enggak tahu kan," ujar Yuliot, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Adapun pengadaan minyak mentah ini dilakukan secara bertahap karena terbatasnya kapasitas penyimpanan di Tanah Air. Pengadaan 150 juta minyak ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga akhir 2026, tahun ini.

"Kemarin kan sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun," katanya.

Dia menerangkan, ada dua opsi skema impor. Yakni. dilakukan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Layanan Umum (BLU). Pihaknya tengah menyusun regulasinya.

"Jadi sekarang kita tinggal instrumen bagaimana kita mengimpornya. Apakah langsung Badan Usaha Milik Negara atau ini ada BLU? Ini dua opsi ini lagi kita siapkan payung regulasinya," ucap Yuliot.

Pertimbangan

Ada beberapa pertimbangan dari munculnya dua opsi tersebut. Impor yang dilakukan BUMN dikhawatirkan menimbulkan konsekuensi, karena telah terikat kontrak dengan pihak lain. Sementara itu, ada kemudahan yang ditawarkan jika dilakukan oleh BLU kementerian/lembaga.

"Karena kalau ini BUMN itu kan juga ada konsekuensi dan juga kalau BLU itu apa kemudahan ya termasuk pembiayaan itu juga lagi kita bahas antara kementerian lembaga ya kemudian itu juga dengan badan usaha termasuk bagaimana pada saat impor jalur mana yang akan digunakan," jelas dia.

"(Jika BUMN impor) bagaimana proses pengadaan ya, kemudian bagaimana pembiayaan itu kan konsekuensinya proses pengadaan. Kalau di BUMN kan harus melalui tender terlebih dulu ya kalau ini kan skemanya adalah G2G. Jadi untuk ini konsekuensi itu yang saya maksudkan," sambung Yuliot menjelaskan konsekuensi jika impor dilakukan BUMN.

Impor 150 Juta Barel Minyak dari Rusia

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah akan menginpor 150 juta barel minyak mentah (crude) dari Rusia. Impor akan dilakukan bertahap untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir 2026 ini.

Yuliot menjelaskan, rencana ini jadi tindak lanjut atas kunjungan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia ke Rusia beberapa waktu lalu. Adapun, seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan minyak mentah di dalam negeri.

"Sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun," kata Yuliot ditenui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Buat Memenuhi Kebutuhan 2026

Dia menjelaskan, kebutuhan konsumsi dalam negeri sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara, produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari, artinya ada keperluan pemenuhan 1 juta barel lainnya dari luar negeri.

"Jadi ini kan bisa dikalkulasikan 150 juta itu juga kurang kita juga mencari tambahan dari negara-negara lain termasuk yang dari Amerika," ucap dia.

Dia menerangkan, impor 150 juta barel minyak mentah ini merupakan kesepakatan antarpemerintah Indonesia dan Rusia. Menurutnya, tak seluruh minyak mentah itu akan diserap oleh PT Pertamina (Persero), tapi juga disebar ke perusahaan swasta atau sektor yang membutuhkan.

"Ini kan juga ada industri juga ya, kemudian ada kegiatan tambang juga. Jadi kan tidak terkait dengan ini, sepanjang kebutuhan dalam negeri ini kan kita bisa distribusikan untuk bahan baku petrokimia kan juga diperlukan juga," jelas dia.

Read Entire Article
Bisnis | Football |