Ruben Amorim Dipecat Manchester United, Begini Reaksi Media Portugal

1 month ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Manchester United resmi memecat Ruben Amorim dari kursi pelatih pada Selasa (05/01/2026). Keputusan itu diambil setelah rangkaian hasil mengecewakan yang membuat Setan Merah kian menjauh dari target bersaing di papan atas.

Keputusan pemecatan itu diambil tak lama setelah Man United bermain imbang 1-1 melawan Leeds United di pekan ke-20 Liga Inggris 2025/2026. Usai pertandingan, Amorim emosional dan menantang manajemen klub secara terbuka.

Rekornya adalah yang terburuk dari semua manajer tetap Man United di era Premier League, dengan persentase kemenangan hanya 31,9 persen. Performa tim dan perilaku yang tidak konsisten itulah yang akhirnya menyebabkan pemecatannya oleh direktur sepak bola Jason Wilcox dan CEO Omar Berrada.

Pemecatan Amorim langsung memicu beragam reaksi, terutama dari media Portugal yang menilai kegagalan tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada klub. Sorotan tajam diarahkan pada pendekatan taktik sang pelatih yang dinilai terlalu kaku sejak awal kedatangannya di Old Trafford.

Keras Kepala soal Taktik Jadi Awal Kejatuhan Amorim

Media Portugal menilai Ruben Amorim gagal membaca konteks besar Manchester United sejak hari pertama. Alih-alih menyesuaikan diri, pelatih berusia 40 tahun itu justru memaksakan ide yang belum tentu cocok dengan materi pemain yang dimilikinya.

Sistem 3-4-3 yang menjadi ciri khas Amorim terus digunakan meski performa tim tidak kunjung membaik. Para pengamat menilai pendekatan itu membuat permainan United mudah ditebak dan jauh dari kata menghibur.

Berbicara di Record, dikutip dari Goal, komentator Nuno Felix mengatakan: "Pelatih tidak dapat dibebaskan dari kesalahan. Amorim mendekati pengalaman pertamanya di luar negeri dengan kekakuan yang berlebihan dalam ide-idenya, hampir dogmatis."

"Ia bersikeras pada model dan prinsip yang tidak sesuai dengan profil skuad, menunjukkan sedikit fleksibilitas strategis, dan lambat memahami bahwa, di klub sebesar ini, adaptasi adalah kebutuhan sehari-hari. Sikap keras kepala ini merugikan waktu dan kredibilitasnya, baik di dalam maupun di luar struktur klub," cetusnya.

MU Klub Tanpa Arah yang Jelas

Namun kritik Nuno Felix tidak berhenti pada sosok Amorim semata. Ia menilai Manchester United sendiri telah lama berada dalam lingkaran masalah yang sama, siapa pun pelatih yang datang silih berganti.

Halaman berikutnya

Sejarah pasca-Sir Alex Ferguson disebut menjadi bukti bahwa kegagalan bukan fenomena baru di mana nama-nama besar seperti Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, hingga Erik ten Hag disebut tak mampu keluar dari problem struktural klub. Menurut Felix, akar masalah United terletak pada absennya rencana sepak bola jangka menengah dan panjang. Klub dinilai lebih sibuk menjaga citra global ketimbang membangun fondasi tim yang kompetitif. "Tetapi sejarah United baru-baru ini menunjukkan bahwa Amorim bukanlah pengecualian, ia adalah sebuah kontinuitas. Sebelum dirinya, David Moyes, Louis van Gaal, Ole Gunnar Solskjaer, dan Erik ten Hag semuanya gagal. Pelatih dengan profil, ide, dan rekam jejak yang sangat berbeda. Mereka semua menyerah pada masalah struktural yang sama: sebuah klub tanpa strategi sepak bola jangka menengah/panjang yang jelas." "Skuad yang tidak seimbang dan terlalu besar, tanpa kepemimpinan yang kompetitif. Dan yang terpenting, manajemen yang berorientasi bukan pada kesuksesan olahraga, tetapi pada eksploitasi komersial merek. "Keluarga Glazer" mengubah United menjadi mesin pencetak uang di mana sepak bola menjadi hal sekunder dan pelatih dapat dibuang begitu saja.” "Amorim gagal karena ia tidak beradaptasi. United terus gagal karena tidak lagi mengenali dirinya sendiri di cermin. Dan selama kejayaan masa lalu membentuk perdebatan publik dan prioritasnya adalah keuntungan, Old Trafford akan terus menjadi panggung pemecatan, bukan pembangunan kembali," tegasnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |