Rupiah Melemah Terbatas terhadap Dolar AS Hari Ini 13 Februari 2026

10 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turun tipis pada penutupan perdagangan Jumat, (13/2/2026). Pergerakan rupiah itu seiring pasar wait and see pergerakan dolar AS dan sentimen global.

Rupiah ditutup turun delapan poin atau 0,05% menjadi 16.836 per dolar AS dari sebelumnya 16.828 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah ke level 16.844 per dolar AS dari sebelumnya 16.826 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva menuturkan, kurs rupiah bergerak cenderung konsolidatif di tengah sikap wait and see pasar menanti arah pergerakan dolar AS dan sentimen global.

“Nilai tukar rupiah (bergerak) sangat terbatas dan cenderung konsolidatif. Pasar tampak berada dalam fase wait and see, terutama menanti arah pergerakan dolar AS dan sentimen global,” kata Taufan seperti dikutip dari Antara, Jumat pekan ini.

Pelaku pasar disebut mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta rilis data ekonomi AS yang berpeluang mempengaruhi harapan terhadap penurunan atau penahanan suku bunga.

Pergerakan yield US Treasury dan arus modal ke emerging markets dinilai juga menjadi faktor kunci.

Adapun sentimen domestik berasal dari prospek inflasi, stabilitas cadangan devisa, serta langkah kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valas dan obligasi.

“Selain itu, perkembangan harga komoditas global dan sentimen terhadap pasar saham domestik turut mempengaruhi aliran dana asing dan arah rupiah dalam jangka pendek,” kata Taufan.

USD Loyo, Kurs Rupiah Perkasa Hari Ini Jumat 13 Februari 2026

Sebelumnya, nilai tukar rupiah bergerak menguat pada pembukaan perdagangan hari ini Jumat 13 Februari 2026. Kurs rupiah menguat 2 poin atau 0,01 persen menjadi 16.826 per dolar AS dari sebelumnya 16.828 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai bahwa kurs rupiah dibayangi sikap pasar yang menanti rilis laporan inflasi AS.

“Fokus pasar kini beralih pada laporan inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen) Januari 2026 yang akan dirilis malam ini untuk memperoleh gambaran lebih lanjut mengenai dinamika inflasi AS, di tengah perbedaan ekspektasi terkait waktu potensi pemangkasan suku bunga The Fed,” ungkapnya dikutip dari Antara, Jumat (13/2/2026).

Lebih lanjut, pelaku pasar memperkirakan bahwa data IHK dapat menunjukkan moderasi inflasi, yang berpotensi membuka ruang bagi The Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga kebijakan setelah menahan suku bunga pada rapat pertama tahun ini.

Secara keseluruhan, kata dia, pasar masih mengantisipasi kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026.

Namun demikian, ketidakpastian tetap membayangi terkait potensi penyesuaian neraca The Fed menjelang ekspektasi pengangkatan Kevin Warsh sebagai Chairman pada Mei 2026.

“Meskipun Ketua yang akan datang tersebut sebelumnya dikenal menentang pembelian aset, belakangan ia memberi sinyal keterbukaan untuk berkoordinasi dengan Departemen Keuangan guna membantu meredakan tekanan pada imbal hasil,” ujar Josua.

Sentimen Lain

Sentimen lain juga berasal dari rilis data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga mendorong penguatan dolar AS.

Non-farm Payrolls (NFP) AS meningkat sebesar 130 ribu pada Januari 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang direvisi turun menjadi 48 ribu, serta melampaui ekspektasi pasar sebesar 70 ribu.

Capaian tersebut dinyatakan sebagai kenaikan bulanan terkuat dalam lebih dari satu tahun terakhir.

Sementara itu, ujar Josua, tingkat pengangguran AS secara tak terduga turun menjadi 4,3 persen dari sebelumnya 4,4 persen, mengindikasikan tanda awal stabilisasi pasar tenaga kerja pada 2026.

“Merespons perkembangan tersebut, pelaku pasar menggeser ekspektasi waktu pemangkasan suku bunga The Fed berikutnya menjadi Juli 2026, dari sebelumnya diperkirakan pada Juni 2026,” kata dia.

Read Entire Article
Bisnis | Football |