Tiga Negara Sepakat Jaga Selat Malaka, Pastikan Tak Ada Blokade seperti Hormuz

5 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menegaskan bahwa Singapura, Malaysia, dan Indonesia memiliki kepentingan strategis yang sama untuk menjaga Selat Malaka tetap terbuka.

Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan global, khususnya di Timur Tengah, yang mulai memberi tekanan terhadap jalur pelayaran internasional.

Balakrishnan mengatakan bahwa ketiga negara yang berada di sepanjang Selat Malaka memiliki mekanisme kerja sama untuk memastikan jalur tersebut tetap bebas dilalui tanpa pungutan.

“Kami tidak mengenakan tol. Kami semua adalah ekonomi yang bergantung pada perdagangan. Kami semua memahami bahwa menjaga jalur ini tetap terbuka adalah kepentingan bersama,” ujarnya dikutip dari Channel News Asia, Kamis (23/4/2026), 

Ia menegaskan, keselarasan strategi antara ketiga negara ini menjadi faktor penting yang tidak selalu dapat ditemukan di kawasan lain.

“Intinya, ketiga negara memiliki kepentingan strategis yang sama dan selaras untuk menjaga jalur ini tetap terbuka. Hal ini tidak bisa dianggap remeh di banyak tempat lain,” tambahnya.

Respons atas Ketegangan Global dan Selat Hormuz

Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran global terkait potensi penutupan Selat Hormuz, yang memicu kekhawatiran akan terganggunya jalur perdagangan internasional.

Balakrishnan menegaskan bahwa pendekatan Asia Tenggara tetap berpegang teguh pada hukum internasional, khususnya United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

“Baik kepada Amerika maupun China, kami telah menyampaikan bahwa kami beroperasi berdasarkan UNCLOS,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hak lintas transit harus dijamin untuk semua pihak dan negaranya tidak akan terlibat dalam upaya menutup jalur pelayaran.

“Hak lintas transit dijamin bagi semua pihak. Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun untuk menutup, menghalangi, atau mengenakan tol di kawasan kami,” tegasnya.

Sikap Singapura di Tengah Rivalitas AS-China

Ketika ditanya apakah Singapura akan memilih antara Amerika Serikat atau China, Balakrishnan menegaskan posisi negaranya yang tidak berpihak.

Ia mengutip pernyataan Perdana Menteri pertama Singapura, Lee Kuan Yew, yang menegaskan prinsip tersebut.

“Untuk mengutip Lee Kuan Yew, kami akan menolak untuk memilih. Cara kami menjalankan kebijakan adalah dengan menilai apa yang menjadi kepentingan nasional jangka panjang Singapura,” ujarnya.

Balakrishnan menambahkan bahwa Singapura tidak ragu untuk mengatakan tidak kepada pihak mana pun, termasuk Washington maupun Beijing.

“Kami akan bermanfaat, tetapi tidak akan dimanfaatkan,” katanya.

Ia juga menilai bahwa hingga saat ini belum ada tekanan besar dari kedua negara terhadap Singapura.

Risiko Konflik Lebih Luas di Masa Depan

Balakrishnan juga menyoroti hubungan ekonomi Singapura dengan Amerika Serikat dan China. Ia menyebut AS memiliki investasi besar di Asia Tenggara, termasuk di Singapura, dengan hasil yang signifikan.

Sementara itu, Singapura juga menjadi salah satu sumber investasi asing terbesar bagi China.

Menurutnya, posisi ini membuat Singapura berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan perkembangan dari kedua negara tersebut.

Namun, ia mengingatkan adanya risiko besar jika hubungan AS dan China memburuk, terutama jika konflik meluas ke kawasan Pasifik.

“Jika mereka sampai berperang di Pasifik, apa yang kita lihat saat ini di Selat Hormuz hanyalah simulasi awal,” ujarnya.

“Variabel terbesar bukan hanya apa yang terjadi di Timur Tengah, tetapi juga apa yang akan terjadi di Pasifik,” pungkas Balakrishnan.

Read Entire Article
Bisnis | Football |