Ungkit Era Xabi Alonso, Komentar Kylian Mbappe Isyaratkan Kekacauan Internal Real Madrid

16 hours ago 17

Liputan6.com, Jakarta - Kampanye kompetisi musim 2025/2026 berjalan sebagai sebuah periode yang dipenuhi oleh tekanan masif bagi Real Madrid. Klub raksasa asal Spanyol tersebut dinilai gagal mempertahankan konsistensi performa mereka, kendati sempat memperlihatkan dominasi yang kuat pada fase awal musim.

Bermacam persoalan, baik yang terjadi di dalam maupun di luar lapangan hijau, terus bermunculan dalam beberapa minggu belakangan. Kondisi pelik tersebut pada akhirnya membuat tensi di dalam ruang ganti Los Blancos menjadi semakin memanas menjelang bergulirnya akhir musim.

Hasil positif berupa kemenangan 2-0 atas Real Oviedo rupanya belum sanggup meredam gejolak yang ada secara total. Rilis komentar yang diutarakan oleh Kylian Mbappe selepas laga justru memantik lahirnya spekulasi anyar terkait harmonisasi hubungan antar-penggawa tim.

Bomber berkebangsaan Prancis tersebut secara blak-blakan membeberkan rasa kecewanya atas penurunan drastis performa tim pada paruh kedua musim ini. Berbagai kalangan menilai bahwa pernyataan menohok dari Mbappe tersebut dialamatkan kepada Vinicius Junior, walaupun ia tidak menyebutkan nama sang rekan secara eksplisit.

Komentar Mbappe Jadi Isyarat Kuat

Kylian Mbappe tidak menampik bahwa Real Madrid sejatinya sempat mempunyai identitas serta skema permainan yang sangat jelas pada awal musim. Kendati demikian, seluruh catatan positif tersebut mendadak berubah haluan ketika kompetisi mulai memasuki putaran kedua.

“Kami memulai musim dengan baik, lalu kami kehilangan segalanya di paruh kedua musim,” ujar Mbappe. “Itu sangat menyakitkan. Saya merasa kami punya gaya bermain, struktur, dan kami kehilangan semuanya.”

Pernyataan tersebut sontak memicu beragam analisis dan interpretasi dari sejumlah media olahraga di Spanyol. Mayoritas laporan mengorelasikan ucapan tersebut dengan adanya friksi internal yang menyeret nama Vinicius Junior serta mantan juru taktik tim, Xabi Alonso.

Benih-benih ketegangan itu disinyalir berakar ketika Vinicius memperlihatkan gestur emosional yang berlebihan saat ditarik keluar dalam laga bertajuk El Clasico pada Oktober silam. Momentum negatif tersebut dipercaya menjadi awal mula retaknya jalinan komunikasi antara Alonso dengan faksi pemain tertentu di ruang ganti.

Awal Positif Berubah Jadi Kekacauan Gara-gara Vinicius Junior

Ketika masih berada di bawah komando Xabi Alonso, armada Real Madrid sejatinya mampu menyuguhkan performa yang sangat mengesankan di awal musim. Skuad Los Blancos sukses mengemas 13 kemenangan dari 14 laga perdana mereka, sekaligus memimpin perburuan gelar La Liga dengan keunggulan tujuh poin di puncak klasemen.

Gaya permainan Real Madrid pada periode tersebut dinilai jauh lebih rapi secara struktur serta mengedepankan aspek kedisiplinan. Selain itu, tim juga sanggup memperlihatkan taji di panggung Liga Champions berkat implementasi strategi kepelatihan yang sangat matang. Namun, roda berputar pasca-insiden yang melibatkan Vinicius dalam laga El Clasico. Keharmonisan hubungan Alonso dengan beberapa pilar tim dikabarkan merenggang, hingga berujung pada hilangnya dukungan internal bagi sang pelatih asal Spanyol tersebut. Puncak dari disharmoni tersebut terjadi pada bulan Januari, di mana Alonso secara resmi dibebastugaskan dari jabatannya. Keputusan krusial dari manajemen ini yang kemudian dianggap sebagai titik balik negatif bagi perjalanan Real Madrid di musim ini.

Read Entire Article
Bisnis | Football |