Bukan Cuma Modal, Ini Tantangan yang Dihadapi UMKM

22 hours ago 17

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Jakarta Pusat mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk naik kelas.

Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Pusat Teguh Agung Hartanto mengatakan, saat ini tantangan yang dihadapi UMKM lebih kompleks. Salah satunya kemampuan untuk membaca data.

"Kami melihat bahwa tantangan UMKM hari ini bukan hanya soal modal, tetapi juga soal kemampuan membaca data dan menangkap peluang," ujar Teguh dikutip dari Antara, Jumat (8/5/2026).

Menurut Teguh, penguatan UMKM menjadi penting karena sektor tersebut memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Data Kementerian Koperasi dan UKM (2024) menunjukkan, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07%.

Berkaca dari hal itu, HIPMI melalui program Scale Up Jakpus: Baca Data, Buka Peluang, Tingkatkan Omzet UMKM JakPus mendorong UMKM untuk terus tumbuh dan naik kelas. Program tersebut sebagai upaya mendorong literasi terhadap peluang investasi serta kolaborasi antardaerah untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pengusaha UMKM di Jakarta Pusat.

Melalui program itu, kata dia, HIPMI Jakarta Pusat ingin hadir sebagai penggerak ekosistem yang mampu menghubungkan pelaku usaha dengan akses pasar, investasi, dan kolaborasi yang nyata.

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61%, HIPMI Ungkap Sektor Ini jadi Penopang

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal I 2026 memang memberi sinyal positif. Namun, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia  tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil yang dihadapi pelaku usaha di lapangan.

"Secara agregat ini masih sesuai target, tapi kalau dilihat dari perspektif pelaku usaha, gambarnya tidak sesederhana angka headline,” ujar Anggawira kepada Liputan6.com, Selasa (5/5/2026).

Ia menjelaskan, pertumbuhan saat ini masih ditopang oleh sejumlah sektor yang relatif kuat. Di antaranya pertambangan dan hilirisasi mineral seperti nikel dan tembaga yang tetap berjalan dengan dukungan harga komoditas yang stabil. Aktivitas ini turut memberi efek berantai ke kawasan industri dan ekspor.

Selain itu, sektor konstruksi dan infrastruktur juga masih bergerak seiring belanja pemerintah dan proyek strategis nasional. Aktivitas transportasi dan logistik ikut terdorong meningkatnya mobilitas barang dan orang, sementara sektor energi baik migas maupun kelistrikan menguat seiring tingginya permintaan dari industri.

Sejumlah Sektor Hadapi Tantangan

Namun, di sisi lain, Anggawira menyoroti sejumlah sektor yang justru masih menghadapi tekanan. Industri manufaktur padat karya seperti tekstil dan alas kaki, misalnya, belum sepenuhnya pulih akibat lemahnya permintaan global dan tekanan impor. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan biaya produksi yang menggerus margin usaha.

"UMKM dan perdagangan tradisional juga belum merasakan lonjakan permintaan yang signifikan. Daya beli memang ada, tapi cenderung selektif, terutama di luar kota besar,” katanya.

Sektor properti dan real estat pun masih tertahan oleh suku bunga yang relatif tinggi serta kehati-hatian konsumen kelas menengah. Sementara industri yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi tekanan tambahan akibat pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya produksi.

Read Entire Article
Bisnis | Football |