Harga Bahan Baku di Indonesia Bisa Naik Imbas Perang AS-Iran, Tak Cuma BBM

10 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan, Budi Santoso mewanti-wanti kenaikan harga imbas memanasnya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Penutupan Selat Hormuz oleh pihak Iran menghambat jalur perdagangan internasional.

Budi memandang hambatan ini meningkatkan harga minyak mentah. Hal tersebut, turut mengerek biaya logistik hingga bahan baku industri.

"Nah ya pasti kan nanti minyak atau bahan baku lainnya jadi naik ya," kata Budi, di Kantor Kemendag, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Penutupan Selat Hormuz, kata Budi, berpotensi mengerek harga minyak mentah dunia. Alhasil, harga bahan bakar minyak (BBM) juga terpengaruh. Pada akhirnya, biaya produksi industri juga ikut meningkat.

"Ya misalnya kan bahan bakar ya, pastikan akan naik ya. Pasti kalau itu memang benar-benar terjadi, ya sekali lagi mudah-mudahan enggak ya," harapnya.

Budi menyampaikan, ketika bahan baku tersebut naik, maka kinerja ekspor juga terpengaruh. Meskipun, kata dia, dampaknya dirasakan semua negara. "Kalau itu benar-benar terjadi ya memang akan berdampak ke industri kita, ke ekspor kita, tidak hanya di Indonesia, ya ke semua lah, ke semua negara," ucap dia.

Penguatan Konsumsi Domestik

Budi menambahkan, saat ini ekonomi Indonesia ditopang dari konsumsi domestik. Dengan begitu, ketergantungan terhadap impor bisa semakin dikurangi.

"Jadi ya kita harus memberdayakan itu, tetap menjaga itu. Kalau di sektor perdagangan ya bagaimana kita tetap meningkatkan daya beli kita, ya di masyarakat dengan produk-produk kita. Ya itu yang paling penting sebenarnya," ujarnya.

Gun meningkatkan daya beli itu, Budi mengeklaim pemerintah sudah mengguyur banyak stimulus ekonomi. "Saya pikir banyak ya stimulus yang telah diberikan oleh pemerintah. Dan kita akan terus melakukan gerakan-gerakan bersama swasta, ya untuk meningkatkan daya beli kita, untuk meningkatkan daya beli kita di pasar domestik," beber dia.

Harga Minyak Dunia Naik Imbas Perang

Sebelumnya, Harga minyak dunia sempat terkerek imbas memanasnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Lantas, apa kenaikan ini akan membebani subsidi energi di Tanah Air?

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto menilai ada kemungkinan kenaikan harga minyak dunia kembali naik seiring eskalasi di Timur Tengah. Namun, soal kemungkinan membebani subsidi, harus dilihat tingkat kenaikan harga minyak dunia ke depan.

"Ya mangkanya harus perlu dilihat. Sustain enggak? Apakah (harga minyak dunia) naiknya tinggi terus?," kata Seto, ditemui di Kantor Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Senin (2/3/2026).

Beban Subsidi Bertambah?

Diketahui, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh USD 78,2 per barel. Angka ini lebih tinggi dari Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 dengan USD 70 per barel.

Seto mengatakan, kenaikan harga minyak dunia ini masih harus dipantau kedepannya. Kemudian, baru bisa didapat hitungan pengaruhnya terhadap beban APBN atas subsidi energi.

"Kalau kita lihat kemarin perang Rusia, Ukraina, atau kemarin yang tahun lalu serangan Israel ke Iran, kan sempat naik tapi langsung turun lagi. Jadi kita lihat lah. Mungkin satu minggu ke depan," tutur dia.

Biaya Logistik Naik

Dia menjelaskan lagi, penutupan Selat Hormuz berkepanjangan bisa semakin menekan harga energi. Termasuk juga pengaruhnya terhadap biaya logistik.

"Kalau itu harus dilihat. Makanya kalau nanti selat hormusnya eskalasinya terus, selat hormusnya ditutup, ya mungkin itu akan... cukup problematik lah," kata dia.

"Tapi ya tadi saya bilang, kita sabar, kita lihat satu minggu ke depan, ya mudah-mudahan kita doakan ini bisa cepat selesai gitu ya. Ada jalan damai lah," imbuh Seto.

Read Entire Article
Bisnis | Football |