Ikatan Scaloni-Messi: Duo Lionel yang Mengantar Argentina ke Ambang Sejarah

4 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Kiprah Timnas Argentina yang kini berada di ambang sejarah Piala Dunia 2026 tak lepas dari duet Lionel Scaloni di pinggir lapangan dan Lionel Messi sebagai motor permainan. Relasi istimewa keduanya menghadirkan stabilitas yang jarang dimiliki Albiceleste.

Kedekatan itu tumbuh sejak tahun-tahun awal Messi di tim nasional. Menurut laporan tersebut, Messi pernah bercerita bahwa Scaloni termasuk sosok pertama di skuad yang menyambutnya dengan hangat ketika ia mulai menapaki karier internasional.

Kombinasi pengaruh di ruang ganti dan peran kunci di lapangan mengubah wajah Argentina: dari masa-masa kelam pasca-2018 menuju peluang menorehkan capaian baru pada edisi 2026.

Dari Dua Operan ke Ikatan Panjang

Kisah bersama Duo Lionel dapat ditarik ke 2005 saat Messi debut melawan Hungaria. Hanya 45 detik setelah masuk dari bangku cadangan, ia menerima kartu merah. Dalam durasi singkat itu, Messi cuma mendapat dua operan, dan keduanya datang dari Scaloni. Kontak pertama di lapangan itu menjadi awal ikatan panjang mereka.

Setahun berselang pada Piala Dunia 2006, setelah Messi mencetak gol ke gawang Serbia–Montenegro di fase grup, pemain pertama yang menghampirinya di lorong stadion dan merangkul dari belakang untuk memberi selamat adalah Scaloni.

Selisih usia mereka sembilan tahun. Namun sejak momen-momen awal itu, hubungan di tim nasional kerap digambarkan hampir menyerupai figur ayah dan anak, sebuah kedekatan yang belakangan menjadi fondasi stabilitas Argentina.

Krisis 2018 dan Munculnya Nakhoda Murah AFA

Argentina memasuki fase sulit pada 2018. Jorge Sampaoli didatangkan mahal dari Sevilla, tetapi pendekatan pressing ketat dengan garis pertahanan tinggi tak cocok dengan lini belakang yang cenderung lamban.

Perjalanan fase grup berjalan terseok: imbang melawan Islandia, kalah 0-3 dari Kroasia, lalu lolos berkat kemenangan menegangkan atas Nigeria lewat gol Messi dan tendangan voli Marcos Rojo. Di 16 besar, Argentina tumbang 3-4 dari Prancis. Sampaoli kemudian meninggalkan jabatannya.

Dalam kondisi keuangan yang terbatas, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) menunjuk Scaloni. Saat itu ia merupakan asisten Sampaoli di Piala Dunia 2018 sekaligus pelatih tim U-21. Awalnya, mandat yang diberikan hanya untuk menangani enam laga persahabatan hingga akhir tahun.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Setelah kegagalan-kegagalan sebelumnya, Messi dilanda frustrasi berat di Barcelona dan sempat mundur dari tim nasional usai kekalahan lewat adu penalti dari Cile pada final Copa America 2016. Scaloni memahami Argentina tetap membutuhkan Messi. Ia melibatkan asistennya, Pablo Aimar—idola masa kecil Messi—dalam panggilan telepon kepada sang kapten. Scaloni memaparkan visinya tentang skuad yang diremajakan dengan Messi sebagai pilar. Messi akhirnya luluh. Sejak momen itu, performa Albiceleste perlahan membaik dan mencapai puncaknya dengan gelar Piala Dunia 2022, trofi ketiga Argentina dalam sejarah turnamen. Di edisi 2026, mereka kembali memburu sukses serupa. Argentina harus melewati Inggris di semifinal, dan jika lolos, akan menghadapi Spanyol yang sebelumnya menggulung Prancis.

Read Entire Article
Bisnis | Football |