Indonesia dan Singapura Percepat Ekspor Listrik Bersih

7 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia dan Singapura mematangkan rencana kerja sama ekspor listrik bersih yang sekaligus diarahkan untuk mendorong investasi industri teknologi berkelanjutan. Pemerintah memproyeksikan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun di Kepulauan Riau menjadi pusat baru industri hijau di kawasan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan ekspor listrik bersih ke Singapura tidak hanya diposisikan sebagai perdagangan energi semata. Kerja sama tersebut juga diharapkan menjadi pengungkit masuknya investasi global di sektor industri teknologi tinggi.

Pemerintah ingin memanfaatkan ketersediaan energi hijau untuk menarik perusahaan internasional membangun fasilitas produksi maupun pusat teknologi di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK).

Dengan dukungan energi ramah lingkungan, kawasan ini diharapkan dapat berkembang menjadi pusat industri hijau baru di Indonesia sekaligus mendukung transisi energi nasional.

“Saya sudah mendapat laporan bahwa kawasan industri sudah hampir final. Nanti kita akan bangun di wilayah Kepri. Dan ini saya lagi meng-clear-kan. Kalau itu sudah selesai, maka saya pikir ini salah satu kemajuan dalam persiapan,” ujar Bahlil dikutip dari Antara, Minggu (15/3/2026).

Ia menegaskan pengembangan kawasan industri berbasis energi bersih tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam ekonomi hijau global.

Bahas Kerja Sama Energi di Tokyo

Pembahasan terkait kerja sama energi ini juga dilakukan dalam pertemuan antara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan Minister for Manpower Singapura sekaligus penanggung jawab sektor energi, Tan See Leng.

Pertemuan tersebut berlangsung di Tokyo, Jepang pada Minggu (15/3/2026) waktu setempat.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas perkembangan teknis terkait rencana kerja sama energi antara Indonesia dan Singapura.

Senada dengan Bahlil, Tan See Leng menyampaikan bahwa pembahasan teknis yang dilakukan kedua negara telah menunjukkan kemajuan yang positif.

“Saya rasa sebagian besar diskusi teknikal sudah mengalami kemajuan yang baik,” ujar Tan See Leng.

Selain membahas ekspor listrik bersih, kedua negara juga menyinggung rencana pengembangan kawasan industri berkelanjutan di Batam, Bintan, dan Karimun.

Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi strategis karena lokasinya yang dekat dengan Singapura serta memiliki potensi besar untuk pengembangan energi hijau.

Peluang Ekspor Listrik Surya dan Teknologi CCS

Pemerintah Indonesia juga menyiapkan berbagai skema untuk memastikan kebutuhan listrik dalam negeri tetap menjadi prioritas sebelum melakukan ekspor ke negara lain.

Di sisi lain, kerja sama ini juga membuka peluang pengembangan teknologi rendah karbon seperti Carbon Capture Storage (CCS) atau penangkapan dan penyimpanan karbon.

“Yang menyangkut CCS, aturan-aturannya sudah saya persiapkan. Itu kemudian bisa kita lakukan kolaborasi,” kata Bahlil.

Selain itu, pemerintah menawarkan ekspor listrik yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Program ini sejalan dengan rencana pengembangan sistem kelistrikan nasional hingga 100 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka peluang ekspor energi bersih.

Meski demikian, terdapat tantangan dalam implementasinya, terutama terkait harga energi hijau yang masih lebih tinggi dibandingkan energi berbasis fosil.

Namun, kedua negara menilai kerja sama ini menjadi bukti kepemimpinan energi di kawasan ASEAN. Dengan dukungan teknologi dan investasi dari Singapura serta sumber daya energi dari Indonesia, kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat posisi kedua negara dalam rantai pasok energi hijau global.

Implementasi nyata melalui proyek percontohan di kawasan BBK diharapkan dapat segera dimulai sebagai tindak lanjut dari tiga nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani sebelumnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |