Ironi Manchester United: Ketika Dominan Kuasai Bola, Justru Sulit Menang

6 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Hasil imbang 1-1 Manchester United di kandang West Ham pada lanjutan Premier League 2025/2026, Kamis (12/2) dini hari WIB, menjadi sinyal peringatan bagi tim asuhan Michael Carrick.

Empat kemenangan beruntun terhenti. Lebih dari itu, laga tersebut kembali menyingkap persoalan klasik: United kerap kehilangan efektivitas saat memegang kendali permainan.

Setan Merah nyaris pulang tanpa poin sebelum gol Benjamin Sesko pada menit ke-96 menyamakan kedudukan. Umpan silang Bryan Mbeumo diselesaikan dengan sentuhan tajam di tiang dekat, menyelamatkan hasil di penghujung laga.

Namun di balik drama tersebut, tersimpan paradoks taktis. Ketika bermain reaktif dan menunggu, United terlihat lebih berbahaya. Saat dominan, produktivitas justru menurun.

Dominasi Penguasaan Bola Tanpa Daya Rusak

Dalam pertandingan itu, United mencatat 65 persen penguasaan bola tetapi hanya menghasilkan sembilan percobaan tembakan. Mereka kesulitan membongkar blok rendah West Ham.

Carrick menerapkan formasi dasar 4-2-3-1 yang fleksibel menjadi 3-2-5 saat fase menyerang. Struktur ini dirancang untuk menarik dan meregangkan lini pertahanan lawan.

Amad dan Luke Shaw menjaga lebar permainan. Bruno Fernandes, Bryan Mbeumo, dan Matheus Cunha bergerak di ruang antarlini untuk mencari celah.

Peluang sempat hadir ketika Lisandro Martinez mengirim bola lambung kepada Fernandes. Namun ketidaktepatan timing membuat momen itu terbuang.

United kembali mencoba memanfaatkan bola mati, seperti saat mengalahkan Fulham dan Tottenham. Namun, West Ham punya pemain yang secara fisik sangat siap untuk antisipasi situasi bola mati.

Statistik Menguatkan Paradoks

Data Premier League sejak Agustus 2024 menegaskan ironi tersebut. Saat mencatat penguasaan bola 60 persen atau lebih, United hanya menang empat kali dari 15 laga.

Sebaliknya, ketika penguasaan 49 persen atau kurang, mereka memenangi setengah dari 22 pertandingan. Proyeksi performa itu setara musim 45 poin dibanding 69 poin.

Carrick menyadari aspek ini perlu dibenahi. “Itu sesuatu yang akan kami capai nanti,” katanya.

Jika ingin kembali finis di empat besar untuk pertama kali sejak 2023, Manchester United tak bisa terus terpeleset saat menghadapi tim yang memilih bertahan rendah. Dominasi tanpa ketajaman bukanlah fondasi untuk bersaing di papan atas.

Christian Pulisic Masuk Radar Liverpool, jadi Pengganti Mohamed Salah?

Read Entire Article
Bisnis | Football |