Isi Pesan Presiden Iran Pezeshkian buat Mengetuk Hati Warga AS

11 hours ago 15

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuliskan pesan buat mengetuk hati warga Amerika Serikat dan masyarakat dunia di tengah meningkatnya konflik Iran dengan AS-Israel.

Melalui unggahan di media sosial X, pada Rabu (1/4), ia menegaskan Iran tidak memusuhi rakyat Amerika, tetapi menentang kebijakan pemerintah yang merugikan negaranya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pesannya, Pezeshkian menekankan Iran sebagai salah satu peradaban tertua di dunia tidak pernah memulai perang di era modern.

Iran tidak pernah memilih jalur agresi, ekspansi, kolonialisme, ataupun dominasi, meski menghadapi invasi, tekanan, dan intervensi kekuatan global.

"Dan meskipun memiliki keunggulan militer atas banyak negara tetangganya, Iran tidak pernah memulai perang. Namun, Iran dengan tegas dan berani telah menolak mereka yang menyerangnya," tulis Pezeshkian.

Pezeshkian menegaskan rakyat Iran tidak memandang bangsa lain sebagai musuh, termasuk warga AS, Eropa, maupun negara-negara Arab.

"Ini adalah prinsip yang mengakar kuat dalam budaya dan kesadaran kolektif Iran, bukan sikap politik sementara. Oleh karena itu, menggambarkan Iran sebagai ancaman tidak sesuai dengan realitas sejarah maupun fakta yang dapat diamati saat ini," tulis Pezeshkian.

Ia juga menilai citra Iran sebagai ancaman global dibentuk oleh kepentingan politik dan ekonomi pihak tertentu yang membutuhkan musuh untuk membenarkan dominasi militer serta tekanan internasional.

"Dalam lingkungan seperti itu, jika ancaman tidak ada, maka ancaman itu diciptakan. Dalam kerangka kerja yang sama, AS telah memusatkan sebagian besar pasukan, pangkalan, dan kemampuan militernya di sekitar Iran, sebuah negara yang, setidaknya sejak berdirinya Amerika Serikat, belum pernah memulai perang," tulis sang Presiden.

Ia juga menyinggung kehadiran militer AS yang luas di sekitar wilayah Iran. Menurut Pezeshkian, tindakan militer AS justru menunjukkan ancaman dari keberadaan pasukan asing di kawasan.

"Apa yang telah dilakukan Iran adalah respons terukur yang didasarkan pada pembelaan diri yang sah, dan sama sekali bukan inisiasi perang atau agresi," tulisnya.

Dalam surat itu, ia juga mengulas sejarah hubungan Iran dan AS yang awalnya tidak bermusuhan.

"Hubungan antara Iran dan AS pada awalnya tidak bermusuhan, dan interaksi awal antara rakyat Iran dan Amerika tidak diwarnai dengan permusuhan atau ketegangan," imbuhnya.

Menurutnya, titik balik hubungan kedua terjadi setelah kudeta 1953 yang didukung AS untuk menggagalkan nasionalisasi sumber daya Iran, yang memicu ketidakpercayaan rakyat Iran terhadap Washington.

"Ketidakpercayaan ini semakin dalam dengan dukungan AS terhadap rezim Shah, dukungannya terhadap Saddam Hussein selama perang yang dipaksakan pada 1980-an, pemberlakuan sanksi terpanjang dan terlengkap dalam sejarah modern, dan akhirnya, agresi militer tanpa provokasi, yang diluncurkan dua kali di tengah negosiasi terhadap Iran," tulis Pezeshkian.

Meski menghadapi berbagai tekanan, Pezeshkian menilai Iran justru berkembang di sejumlah sektor, termasuk pendidikan, teknologi, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur.

"Ini adalah realitas yang terukur dan dapat diamati, yang berdiri sendiri terlepas dari narasi yang dibuat-buat," ucapnya.

Pezeshkian juga mengkritik serangan terhadap fasilitas energi dan industri Iran yang disebut sebagai tindakan yang menargetkan rakyat sipil serta berpotensi memperluas ketidakstabilan global.

"Mereka menciptakan ketidakstabilan, meningkatkan biaya manusia dan ekonomi, dan melanggengkan siklus ketegangan, yang menanam benih kebencian yang akan bertahan selama bertahun-tahun. Ini bukanlah demonstrasi kekuatan; ini adalah tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi yang berkelanjutan," tukasnya.

Dalam bagian akhir pesannya, Pezeshkian kembali menyinggung peran Israel yang menurutnya memengaruhi kebijakan AS terhadap Iran serta mengalihkan perhatian dunia dari konflik Palestina.

"Apakah 'America First' benar-benar termasuk dalam prioritas pemerintah AS saat ini?" tanyanya.

Ia kemudian mengajak warga AS dan masyarakat internasional untuk menilai konflik secara objektif dan memilih jalur dialog dibanding konfrontasi.

"Saat ini, dunia berada di persimpangan jalan. Melanjutkan jalan konfrontasi lebih mahal dan sia-sia daripada sebelumnya. Pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan adalah nyata dan penting; hasilnya akan membentuk masa depan bagi generasi mendatang," ucapnya.

"Sepanjang ribuan tahun sejarahnya yang membanggakan, Iran telah bertahan lebih lama daripada banyak agresor. Yang tersisa dari mereka hanyalah nama-nama yang ternoda dalam sejarah, sementara Iran tetap bertahan, tangguh, bermartabat, dan berbangga," tutupnya.

(rnp/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Bisnis | Football |