Liputan6.com, Jakarta - Lionel Messi, nama yang bersinar gemilang di dunia sepak bola, ternyata tak luput dari kontroversi. Sepanjang kariernya yang cemerlang, beberapa skandal telah melibatkan sang megabintang, menimbulkan pertanyaan: bagaimana kontroversi-kontroversi ini memengaruhi citra Messi di mata publik?
Dari kasus penggelapan pajak hingga insiden di Piala Dunia 2022 dan MLS, perjalanan Messi diwarnai berbagai peristiwa yang memicu perdebatan. Meskipun prestasinya di lapangan tetap tak terbantahkan, kontroversi-kontroversi ini menunjukkan sisi lain dari sosok Messi, seorang manusia biasa dengan kelebihan dan kekurangannya.
Artikel ini akan mengulas beberapa kontroversi yang pernah melibatkan Lionel Messi, serta dampaknya terhadap citra globalnya. Kita akan melihat bagaimana reaksi publik dan media terhadap setiap kejadian, serta bagaimana Messi berhasil melewati berbagai ujian tersebut.
Kasus Penggelapan Pajak (2013)
Salah satu kontroversi terbesar yang pernah melibatkan Messi adalah kasus penggelapan pajak pada tahun 2013. Bersama ayahnya, Messi dituduh menggelapkan pajak senilai 4,1 juta Euro. Meskipun akhirnya dihukum, kasus ini sempat mencoreng citranya. Namun, dukungan dari para penggemar tetap kuat, menunjukkan loyalitas yang tinggi meskipun adanya kontroversi.
Kasus ini mengajarkan pentingnya manajemen keuangan yang baik, terutama bagi figur publik seperti Messi. Meskipun hukuman telah dijalani, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang transparansi dan akuntabilitas.
Reaksi publik terhadap kasus ini beragam. Sebagian besar penggemar tetap mendukung Messi, sementara sebagian lainnya mengecam tindakannya. Media pun ramai memberitakan kasus ini, menunjukkan betapa besarnya pengaruh Messi di dunia.
Kontroversi di Hong Kong (2024) dan Insiden di MLS (2025)
Ketidakhadiran Messi dalam pertandingan eksibisi Inter Miami di Hong Kong pada 2024 memicu kemarahan besar. Hal ini dianggap sebagai tindakan tidak profesional dan mengecewakan banyak penggemar yang telah membeli tiket. Penyelenggara pun mengembalikan sebagian uang tiket sebagai bentuk kompensasi.
Di sisi lain, insiden cekikan terhadap asisten pelatih lawan dan perselisihan dengan wasit di MLS pada 2025 menunjukkan sisi temperamen Messi yang terkadang muncul di lapangan. Kontroversi ini juga memicu perdebatan publik tentang standar keamanan liga dan dampaknya terhadap Messi.
Kedua kontroversi ini menunjukkan bahwa Messi, seperti atlet lainnya, juga manusia biasa yang memiliki kelemahan. Meskipun memiliki reputasi yang baik, tidak menutup kemungkinan terjadinya kesalahan.
Insiden Piala Dunia 2022 dan Tindakan terhadap Penggemar Meksiko (2025)
Konfrontasi Messi dengan pelatih Belanda, Louis van Gaal, dan selebrasi provokatifnya setelah pertandingan perempat final Piala Dunia 2022 menimbulkan kontroversi. Meskipun sebagian penggemar menganggapnya sebagai reaksi atas provokasi, tindakannya juga menuai kritik. Perilaku ini dianggap tidak sportif dan tidak pantas untuk seorang pemain bintang.
Sementara itu, tindakan Messi yang dianggap kontroversial terhadap penggemar Meksiko pada 2025 juga memicu kritik tajam. Meskipun detail insiden ini kurang jelas, hal ini menunjukkan bahwa Messi juga menghadapi kritik atas perilakunya di luar lapangan.
Kedua insiden ini menunjukkan pentingnya pengendalian emosi dan perilaku yang sportif, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Pernyataan Presiden Argentina (2024) dan Skandal Rasisme (2024)
Presiden Argentina, Javier Milei, pernah menyebut Messi sebagai pemain terbaik berdasarkan 'skandal', tanpa menjelaskan secara spesifik skandal apa yang dimaksud. Pernyataan ini menimbulkan interpretasi yang beragam dan menambah kompleksitas citra Messi.
Di sisi lain, pemecatan Wakil Menteri Olahraga Nasional Argentina, Julio Garro, karena mendesak Messi meminta maaf atas skandal rasisme yang melibatkan timnas Argentina, menunjukkan betapa sensitifnya isu ini dan dampaknya terhadap citra Messi.
Kedua peristiwa ini menunjukkan betapa kompleksnya citra publik seorang figur terkenal seperti Messi. Pernyataan dan tindakan orang lain dapat memengaruhi persepsi publik terhadapnya.