Ledakan Tambang di Shanxi China Ungkap Dugaan Pelanggaran Sistemik

1 hour ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Kemarahan publik meningkat di China setelah ledakan di tambang batu bara Liushenyu di Provinsi Shanxi menewaskan sebanyak 82 orang dan melukai lebih dari 120 lainnya.

Insiden tersebut disebut sebagai bencana tambang terburuk di China dalam lebih dari 15 tahun terakhir.

Ledakan terjadi pada Jumat lalu di Shanxi, wilayah yang dikenal sebagai pusat industri batu bara China. Tragedi itu membangkitkan kembali ingatan publik ke era 2000-an, ketika kecelakaan tambang mematikan sering terjadi di China.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di media sosial China, banyak warganet mempertanyakan bagaimana bencana sebesar itu masih bisa terjadi di tengah klaim peningkatan standar keselamatan industri tambang.

"Ini sangat menyayat hati, begitu banyak nyawa berharga hilang. Kapan keselamatan benar-benar menjadi prioritas?" tulis seorang pengguna Weibo.

Pihak berwenang China mengatakan penyebab ledakan masih dalam penyelidikan. Namun, temuan awal menunjukkan Tongzhou Group, perusahaan yang mengoperasikan tambang swasta tersebut, melakukan "pelanggaran ilegal serius."

Dalam konferensi pers pada Sabtu lalu, otoritas berjanji melakukan penyelidikan secara ketat dan menghukum pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Hingga kini, Tongzhou Group belum memberikan pernyataan resmi.

Pelanggaran prosedur keselamatan

Media pemerintah China melaporkan para pengelola perusahaan telah dikenai "langkah pengendalian," meski tidak dijelaskan lebih lanjut bentuk tindakan tersebut.

Selain itu, seluruh operasi di empat tambang batu bara milik Tongzhou Group di Shanxi diperintahkan berhenti sementara.

Pihak berwenang juga belum memerinci pelanggaran keselamatan yang ditemukan di tambang Liushenyu. Namun media pemerintah menyoroti sejumlah dugaan masalah di lokasi.

Laporan menyebut sebagian pekerja tidak membawa alat pelacak wajib ke dalam tambang. Selain itu, cetak biru tambang yang diberikan perusahaan kepada otoritas disebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan, sehingga menyulitkan proses penyelamatan.

Media pemerintah juga melaporkan jumlah pekerja di dalam tambang saat ledakan terjadi mencapai dua kali lipat dari angka resmi perusahaan.

"Mengapa ada lebih dari 100 pekerja yang tidak terdaftar muncul begitu saja?" tulis seorang pengguna Weibo.

"Apakah untuk melampaui batas produksi? Mengurangi biaya? Atau menyembunyikan jumlah pekerja saat kecelakaan terjadi?" lanjutnya.

Tongzhou Group dilaporkan telah menerima dua sanksi administratif pada 2025 terkait pelanggaran keselamatan kerja.

Pada 2024, tambang Liushenyu juga masuk daftar nasional tambang batu bara dengan "bahaya serius" yang dirilis Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China.

"Insiden ini memperlihatkan lemahnya pengawasan harian dan rendahnya konsekuensi atas pelanggaran, sehingga perusahaan terus mengulang pelanggaran," tulis pengguna Weibo lainnya.

Ratusan ribu komentar dan unggahan mengenai tragedi tersebut bermunculan di media sosial China.

Kekhawatiran keluarga korban

Berbeda dari beberapa bencana sebelumnya, kritik publik kali ini lebih banyak diarahkan kepada perusahaan dibanding pemerintah.

Pada era 2000-an, kecelakaan tambang mematikan sangat sering terjadi di China hingga banyak kasus tidak dilaporkan media besar kecuali jumlah korban mencapai puluhan orang.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China berupaya memperbaiki industri tersebut melalui penguatan regulasi keselamatan, kerja sama dengan pakar internasional, dan penutupan tambang ilegal.

Mantan pemimpin redaksi Global Times, Hu Xijin, mengatakan peningkatan keselamatan tambang batu bara di China tidak boleh mengalami kemunduran.

"Masih ada banyak ruang untuk perbaikan dalam keselamatan tambang batu bara, dan menutup celah ini sangat mendesak," tulis Hu di Weibo.

Sementara itu, operasi penyelamatan masih berlangsung untuk mencari sedikitnya dua orang yang masih hilang. Ratusan personel dikerahkan ke lokasi, sementara anggota keluarga korban menunggu kabar di luar area tambang.

Seorang pria yang belum berhasil menghubungi saudaranya sejak ledakan mengatakan dirinya belum berani memberi tahu orang tuanya.

"Mereka bilang dua orang hilang, tapi siapa yang tahu apakah angka itu akurat? Kami benar-benar tidak tahu," katanya kepada AFP.

(tim)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Bisnis | Football |