Liga Inggris Memanas: Manchester City Siap Mengejar, Arsenal Diuji Mental Juara

3 weeks ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Persaingan perebutan gelar Liga Inggris musim ini semakin mengarah ke drama klasik. Manchester City menegaskan mereka belum menyerah dan siap menantang Arsenal hingga pekan terakhir kompetisi.

Sinyal kebangkitan City terlihat jelas saat mereka mampu bangkit dalam laga krusial melawan Liverpool. Bukan hanya hasilnya, selebrasi berlebihan para pemain dan staf City di Anfield menjadi bukti betapa pentingnya momentum tersebut. Hasil itu memangkas jarak dengan Arsenal menjadi enam poin, dengan 13 pertandingan tersisa yang dipastikan penuh kejutan.

Andai selisih poin tetap berada di angka sembilan, situasinya mungkin terasa nyaris mustahil bagi City. Namun kini, pasukan Pep Guardiola kembali punya harapan realistis untuk menekan sang pemuncak klasemen.

Arsenal sendiri akan menghadapi tantangan berat saat bertandang ke markas Brentford pada Jumat (13/2/2026) dini hari WIB, sementara City menjamu Fulham sehari sebelumnya. Selisih poin bisa saja terpangkas menjadi hanya tiga.

Jadwal Menguntungkan City, Arsenal Tak Bisa Lengah

Jika melihat kalender pertandingan, Manchester City berpotensi memanfaatkan rangkaian laga berikutnya. Mereka akan menjamu Newcastle yang harus tampil di Liga Champions lebih dulu sebelum berturut-turut menghadapi Leeds (tandang), Nottingham Forest (kandang), dan West Ham (tandang).

Puncaknya, City akan berhadapan langsung dengan Arsenal di final Carabao Cup di Wembley pada 22 Maret. Laga tersebut diyakini menjadi penentu psikologis, di mana pemenangnya bakal mendapatkan suntikan kepercayaan diri besar dalam perburuan gelar liga.

Di sisi lain, Arsenal juga menghadapi jalan terjal. Setelah Brentford, The Gunners harus melawan Wolves dan Tottenham di laga tandang, lalu Chelsea di kandang, Brighton di luar, serta Everton sebelum terbang ke Wembley. Tekanan jadwal ini membuat setiap kesalahan bisa berakibat fatal.

Man City Agresif, Guardiola Berjudi?

Menariknya, Manchester City musim ini justru tampil tidak “Guardiola banget”. Perekrutan pemain dan pendekatan bermain mereka terasa lebih pragmatis dan agresif. City seakan memilih jalan all-out demi kejayaan instan.

Hal ini memunculkan spekulasi: apakah Guardiola tengah menyiapkan musim perpisahan dan ingin menutup eranya dengan gelar bergengsi? Atau sekadar strategi adaptasi? Jawabannya mungkin baru akan terungkap di akhir musim.

Di kubu Arsenal, Mikel Arteta kini berdiri di titik paling krusial dalam karier kepelatihannya. Mantan asisten Guardiola itu telah dua kali mendorong City hingga batas maksimal dalam tiga musim terakhir. Kini, ia tampak siap melangkah lebih jauh: merebut gelar liga pertamanya. Secara matematis, Arsenal hanya membutuhkan delapan kemenangan dari 13 laga sisa untuk mencapai 80 poin. Bahkan dengan tambahan empat hasil imbang dan satu kekalahan, mereka bisa menutup musim dengan 84 poin, angka yang sering kali cukup untuk menjadi juara. Namun sejarah menjadi bayang-bayang. City dikenal sebagai tim yang kerap menyalip di tikungan akhir. Faktor ketakutan dan tekanan mental inilah yang menjadi tantangan terbesar Arsenal. Arteta tentu sadar betul bahwa rivalnya memiliki pengalaman dan mental juara yang tak terbantahkan.

Read Entire Article
Bisnis | Football |