Meneropong Prospek Harga Emas di Tengah Sentimen Geopolitik Global

5 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas diperkirakan menguat pada pekan ini. Prediksi harga emas seiring survei emas minggutan Kitco News terbaru menunjukkan wall street dan main street kembali di wilayah bullish. Hal ini setelah kenaikan harga emas selama empat minggu berturut-turut dan optimisme baru terhadap resolusi jangka panjang untuk perang Iran.

Mengutip Kitco, Senin (20/4/2026), 10 analis berpartisipasi dalam survei emas Kitco News dengan sebagian besar analis wall street memprediksi gencatan senjata akan mendorong kenaikan harga emas. Delapan analis atau 80% memperkirakan harga emas naik pekan ini. Sementara dua lainnya yakni mewakili 20% memprediksi koreksi harga emas. Tidak ada yang memperkirakan konsolidasi pada pekan ini.

Sementara itu, 47 suara diberikan dalam jajak pendapat daring Kitco, dengan setimen investor Main Street juga membaik seiring prospek perdamaian. 33 pedagang ritel atua 70% memprediksi harga emas akan naik pekan ini. Sedangkan sembilan lainnya atau 19% memprediksi logam mulia akan turun. Lima investor lainnya mewakili 11% dari total partisipan memprediksi harga emas mendatar pekan ini.

"Naik,” ujar Presiden dan coo Asset Strategies International.

Ia menuturkan, akhir-akhir ini emas dan perak telah diuntungkan dari situasi yang lebih tenangn di Timur Tengah. “Naik seiring dengan gencatan senjata dan turun seiring dengan permusuhan terbuka. Selama gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran serta antara Israel dan Lebanon berlangsung, emas dan perak seharusnya terus pulih dan koreksi baru-baru ini,” kata dia.

Pasar Harus Hati-Hati

Sementara itu, Analis Senior Barchart.com, Darin Newsom memprediksi, harga emas merosot. Ia menuturkan, harga emas untuk kontrak Juni mendekati rata-rata pergerakan 50 hari di USD 4.938,50. Ia menjelaskan, kontrak berjangka emas belum pernah berada di atas indikator momentum teknis sejak 18 Maret. Di sisi lain, kontrak ini juga belum menguji rata-rata pergerakan 50 hari hingga baru-baru ini. Indikator momentum lain, pergerakan harian menunjukkan emas untuk pengiriman Juni berada dalam kondisi jenuh beli dengan pembacaan mendekati atau di atas 90%.

“Apakah semua ini benar-benar berarti sesuatu? Sama sekali tidak. Kita akan lihat apa yang akan terjadi di unggahan media sosial dan berita utama akhir pekan lalu,” ujar dia.

Demikian analis senior FxPro Alex Kuptsikevich menuturkan, harga emas akan turun pekan ini. “Emas perlahan tapi pasti memulihkan kerugiannya dna telah menyentuh area di dekat USD 4.900, di mana MA 50 hari juga berada,” tutur dia.

“Ini sebagai respons terhadap sinyal de-eskalasi antara AS dan Iran.Hal ini akan menekan inflasi dan mengurangi keinginan bank sentral untuk memperketat kebijakan moneter. Kekhawatiran di bidang ini menyebabkan penurunan harga emas selama konflik Timur Tengah. Logam mulia akan didukung oleh ketidakpastian atas kebijakan Gedung Putih dan penurunan kepercayaan yang terkait keyakinan dalam dolar AS,” kata dia.

“Namun, pasar sekarang harus berhati-hati karena potensi reaksi ‘beli rumor, jual fakta’,” Kuptsikevich memperingatkan.

Prediksi Harga Emas secara Teknikal

“Meskipun pasar emas telah mempertahankan tren kenaikannya, laju pertumbuhannya telah melambat.”

“Minggu ini, kami akan memantau dengan cermat perkembangan di sekitar rata-rata pergerakan 50 hari,” ia menambahkan.

“Kenaikan di atas 4.900 akan meningkatkan prospek pergerakan menuju level 5.300 dalam beberapa minggu mendatang. Penurunan dari level ini (skenario pilihan kami) akan mengkonfirmasi terputusnya tren kenaikan.”

Analis senior Kitco, Jim Wyckoff, optimistis terhadap prospek emas dan perak seiring dengan membaiknya prospek perdamaian di Timur Tengah.

“Secara teknis, target harga naik berikutnya bagi para pelaku pasar emas berjangka Juni adalah mencapai penutupan di atas resistensi kuat di USD 5.000,00,” kata Wyckoff.

“Target harga turun jangka pendek berikutnya bagi para pelaku pasar yang pesimis adalah mendorong harga berjangka di bawah dukungan teknis yang kuat di USD 4.500,00. Resistensi pertama terlihat pada level tertinggi minggu lalu di USD 4.895,40 dan kemudian di USD 4.950,00. Dukungan pertama terlihat di USD 4.750,00 dan kemudian di USD 4.700,” ia menambahkan.

Sentimen Harga Emas

Pekan ini tidak akan banyak rilis berita ekonomi, tetapi dengan meredanya konflik Timur Tengah yang telah lama ditunggu-tunggu, pasar mungkin siap untuk memfokuskan kembali perhatian mereka pada data domestik yang dapat membentuk ekspektasi kebijakan Federal Reserve dan, pada gilirannya, arah pergerakan logam mulia.

Pekan dimulai dengan rilis data penjualan ritel AS untuk Maret pada Selasa pagi, dengan banyak analis memperkirakan adanya pelemahan setelah penguatan yang mengejutkan baru-baru ini. Perhatian kemudian akan beralih ke penjualan rumah yang tertunda untuk Maret, yang akan memberikan gambaran tentang sektor perumahan yang sensitif terhadap suku bunga.

Sidang konfirmasi Senat untuk Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve yang baru juga dijadwalkan pada Selasa, meskipun Demokrat masih berupaya untuk menunda sidang tersebut, dengan alasan penyelidikan Departemen Kehakiman yang sedang berlangsung terhadap pejabat Fed saat ini. Warsh diperkirakan menyampaikan catatan yang lunak tentang kebijakan moneter, yang akan mendukung kenaikan harga emas.

Laporan klaim pengangguran mingguan pada Kamis pagi akan memberikan satu-satunya wawasan minggu ini tentang pasar tenaga kerja, yang oleh para analis digambarkan berada dalam fase "perekrutan rendah, pemecatan rendah," dengan klaim yang tetap sangat rendah menurut standar historis, setelah itu para pedagang akan mengamati Flash S&P Global Composite PMI untuk April, sebuah indikator utama aktivitas ekonomi secara real-time.

Minggu ini akan ditutup dengan pembacaan terakhir survei sentimen konsumen Universitas Michigan untuk April, dengan investor ingin melihat apakah sentimen telah memburuk lebih lanjut sejak dimulainya konflik Iran.

Read Entire Article
Bisnis | Football |