Miliarder Kanada Stephen Smith Beli 26,9% Saham Majalah The Economist

6 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder Kanada Stephen Smith dan perusahaan induk keluarganya telah mencapai kesepakatan untuk meng-akuisisi saham minoritas di penerbit majalah The Economist.

Mengutip Yahoo Finance, Rabu (18/3/2026), Smith dan Smith Financial Corp telah menandatangani perjanjian membeli 26,9% saham di The Economist Group dari pemegang saham yang ada, Lynn Forester de Rotschild, keluarganya dan yayasan keluarganya.

“Investasi ini mencerminkan dukungan penuh Tuan Smith terhadap tradisi lama the Economist dalam hal independensi editorial yang ketat dan akan memastikan strategi dan operasional the Economist tetap berjalan tanpa terpengaruh,” kata juru bicara Smith.

Kesepakatan itu tunduk pada beberapa syarat penutupan, menurut perusahaan tersebut. Namun, harga transaksi tidak diungkapkan. Situs web Horizont sebelumnya melaporkan Smith sedang mempertimbangkan membeli saham tersebut.

Mengutip the Financial Post, kesepakatan ini menambah satu lagi taipan ke daftar pemilik the Economist yang mencakup dinasti industri Agnelli dari italia dan anggota keluarga Cadbury dan Schroder.

The Economist didirikan pada 1843 oleh pengusaha dan politikus Skotlandia James Wilson, seorang penentang Undang-Undang Jagung Inggris yang membatasi impor biji-bijian untuk menguntungkan elit pemilik tanah setempat. Majalan ini telah berhasil transformasi menjadi publikasi langganan digital dan populer di kalangan elit bisnis dan politik karena analisis yang panjang dan gaya penulisan yang berwawasan.

Kepemilikan saham ini merupakan langkah pertama Smith ke dunia media setelah ia memperoleh sebagian besar kekayaannya yang diperkirakan mencapai USD 3,6 miliar atau Rp 61,12 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 16.980) dengan berinvestasi di pasar hipotek Kanada, ikut mendirikan perusahaan pemberi pinjaman hipotek First National Financial Corp., dan mengakuisisi pemberi pinjaman lainnya sebagai bentuk penentangan terhadap antisipasi terjadinya krisis perumahan.

Forester de Rothschild telah berupaya menjual sahamnya sebagai bagian dari penataan ulang portofolio investasinya dalam jangka panjang, seperti yang dilaporkan Bloomberg sebelumnya.

Miliarder Pemilik Starbucks Tinggalkan Seattle, Ikut Tren Hindari Pajak Tinggi

Sebelumnya, pemilik dan Mantan CEO Starbucks Howard Schultz dilaporkan meninggalkan Seattle, Washington, dan membeli apartemen penthouse mewah di Florida senilai sekitar USD 44 juta. Schultz dan istrinya disebut akan pindah ke Surf Club di Surfside, Florida, sebuah kawasan elite di dekat Miami.

Dikutip dari The Hill, Minggu (15/3/2026), kepindahan ini terjadi ketika pemerintah negara bagian Washington yang dipimpin Partai Demokrat baru saja menyetujui kebijakan pajak baru bagi warga kaya. Pajak tersebut menargetkan individu dengan penghasilan lebih dari USD 1 juta per tahun atau hampir Rp 17 miliar per tahun.

Jika kebijakan tersebut resmi berlaku, para warga kaya akan dikenakan pajak tambahan sekitar 9,9 persen. Dengan pindah dari Washington, keluarga Schultz diperkirakan tidak akan terkena kebijakan pajak tersebut.

Howard Schultz dikenal luas sebagai sosok yang membawa Starbucks menjadi jaringan kedai kopi global. Selain di dunia bisnis, Schultz juga pernah aktif di dunia politik dan sempat mempertimbangkan untuk maju sebagai calon presiden Amerika Serikat pada 2019.

Pada saat itu, ia menyoroti masalah ketimpangan pendapatan yang menurutnya sudah “tidak terkendali”.

“Jika saya mencalonkan diri sebagai presiden dan cukup beruntung untuk menang, saya berjanji akan menangani masalah ketimpangan dalam berbagai cara,” kata Schultz dalam sebuah wawancara saat itu.

Pajak Miliarder jadi Sorotan

Salah satu gagasan yang pernah disampaikan Schultz untuk mengatasi ketimpangan adalah menaikkan pajak bagi kelompok kaya.

“Pemerintah di Washington dan presiden Amerika Serikat perlu menunjukkan kepada rakyat bahwa kami akan menaikkan pajak bagi orang kaya,” ujarnya dalam wawancara lain.

Namun, kebijakan pajak jutawan di negara bagian Washington kini justru menjadi salah satu faktor yang memicu kepindahannya.

Pajak tersebut direncanakan mulai berlaku pada 2028 untuk penghasilan di atas USD 1 juta per tahun.

Pendukung kebijakan ini mengatakan dana yang terkumpul akan digunakan untuk layanan kesehatan, pendidikan, dan program sosial seperti penyediaan makanan gratis bagi anak-anak kurang mampu.

Namun sejumlah pihak menilai pajak tersebut juga akan digunakan untuk pembiayaan layanan pemerintah secara umum.

Beberapa anggota Partai Demokrat bahkan ikut menolak kebijakan tersebut bersama anggota Partai Republik.

Mereka khawatir kenaikan pajak dapat mendorong warga kaya dan pelaku bisnis pindah ke negara bagian lain.

Read Entire Article
Bisnis | Football |