Pemerintah Inggris Desak FIFA Jerat Argentina usai Aksi Politik

10 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Perayaan kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 memicu kontroversi diplomatik setelah para pemain membentangkan spanduk bertuliskan klaim kedaulatan atas Kepulauan Falkland.

Insiden ini mendorong pemerintah Inggris untuk mendesak FIFA agar segera melakukan penyelidikan. Sementara itu, FIFA menyatakan Komite Disiplin independennya tengah mengevaluasi laporan pertandingan dan mempertimbangkan langkah selanjutnya berdasarkan Kode Disipliner FIFA.

Spanduk yang diserahkan oleh penggemar tersebut bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Malvinas adalah milik Argentina". Argentina berhasil melaju ke final setelah mengalahkan Inggris 2-1, dengan gol-gol dari Enzo Fernandez dan Lautaro Martínez membalikkan keunggulan awal Inggris yang dicetak Anthony Gordon.

Nantinya, Argentina akan menghadapi Spanyol pada final di MetLife Stadium, Senin (20/7/2026) pukul 02.00 WIB.

Inggris Desak FIFA Selidiki Insiden Spanduk

Pemerintah Inggris mendesak FIFA untuk menyelidiki tim Argentina menyusul insiden spanduk tersebut. Juru bicara Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan bahwa "Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami."

Ia juga menambahkan bahwa "Penentuan nasib sendiri ada pada penduduk pulau dan komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah." Starmer secara pribadi mendukung seruan penyelidikan FIFA tersebut.

Sekretaris Bisnis Inggris, Peter Kyle, menyebut perilaku para pemain "sama sekali tidak pantas." Dalam pernyataannya kepada BBC, Kyle menekankan bahwa "politik harus dipisahkan dari sepak bola," mengingat salah satu prinsip utama Piala Dunia adalah memisahkan politik dari olahraga.

Bahkan, Pemimpin Liberal Demokrat Ed Davey menyerukan agar para pemain Argentina yang terlihat memegang spanduk itu diskors dari pertandingan final melawan Spanyol.

Aturan FIFA dan Respons Pemerintah Argentina

FIFA dapat menuntut para pemain dan federasi sepak bola Argentina karena kode disiplin melarang "pesan yang tidak pantas untuk acara olahraga," termasuk yang bersifat "politik, ideologis, agama, atau ofensif" di stadion. Denda yang diterapkan FIFA untuk pesan politik berkisar antaraUS$ 5.000-20.000 dolar Amerika Serikat. Namun, sumber yang dekat dengan ESPN, Pedro Ivo Almeida, menyebutkan bahwa FIFA kemungkinan tidak akan membuat keputusan sebelum final.

Di sisi lain, Presiden Argentina Javier Milei menggambarkan perayaan para pemain dengan spanduk tersebut sebagai "sangat valid" dan menyatakan pesan itu "mencerminkan sentimen yang dibagikan oleh semua orang Argentina."

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Meskipun demikian, Milei memperkirakan FIFA akan menjatuhkan sanksi denda kepada tim. "Apa yang dilakukan para pemain dapat dimengerti; mereka terbawa emosi, mereka bertindak impulsif, dan itu kemungkinan akan mengarah pada diskusi tentang denda," kata Milei. Wakil Presiden Victoria Villarruel menunjukkan dukungan yang lebih vokal, mengunggah foto para pemain yang mengangkat spanduk di media sosial dengan keterangan, "Malvinas adalah milik Argentina! Mereka melarang kami membawa [tanda] ke stadion, lupa bahwa kami membawanya dalam darah dan hati kami."

Read Entire Article
Bisnis | Football |