Pertamina Mulai Cari Mitra Impor Minyak Mentah dari AS

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM), Yuliot Tanjung mengungkapkan, proses pengadaan minyak mentah impor dari Amerika Serikat (AS) sedang berjalan. Bahkan, tim dari PT Pertamina (Persero) sudah terbang ke AS.

Yuliot mengatakan, ini jadi sumber pengadaan minyak mentah lain selain dari Rusia sebesar 150 juta barel. Dia bilang sudah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri soal rencana impor minyak mentah dari AS.

"Tadi pagi saya juga rapat dengan Kemlu dan juga dengan beberapa Dubes (Duta Besar) itu juga kita atas komitmen itu tim dari Pertamina juga lagi ada di Amerika sekarang," kata Yuliot, ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Tujuan tim Pertamina ke AS itu untuk mencari mitra impor minyak ke Indonesia. Nantinya, dicari perusahaan yang bisa menyuplai kebutuhan RI dengan cepat. Termasuk mekanisme pengirimannya.

"Jadi perusahaan-perusahaan mana yang bisa mensuplai kita dalam waktu cepat dan juga bagaimana pengiriman yang kita harapkan itu berbagai sumber untuk kebutuhan crude kita dan juga untuk kebutuhan LPG dalam negeri itu bisa terpenuhi," beber dia.

Rencana ini sejalan dengan kesepakatan dagang Indonesia dan AS seperti dalam Agreement on Resiprocal Trade (ART) yang diteken beberapa waktu lalu. Setidaknya hingga saat ini Indonesia sudah mengimpor 60% dari kebutuhan 7 juta ton LPG dari Negeri Paman Sam.

"Jadi ya kita berusaha untuk meningkatkan sebagai pemenuhan komitmen kita di ART. Tetapi di dalam-nya kalau kita menambah itu sumbernya dari mana lagi? Untuk crude itu juga sama. Itu yang lagi didetailkan oleh teman-teman Pertamina," sambung Yuliot.

Impor 150 Juta Barel Minyak dari Rusia

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah akan menginpor 150 juta barel minyak mentah (crude) dari Rusia. Impor akan dilakukan bertahap untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir 2026 ini.

Yuliot menjelaskan, rencana ini jadi tindak lanjut atas kunjungan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia ke Rusia beberapa waktu lalu. Adapun, seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan minyak mentah di dalam negeri.

"Sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun," kata Yuliot ditenui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Cari Tambahan Lain

Dia menjelaskan, kebutuhan konsumsi dalam negeri sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara, produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari, artinya ada keperluan pemenuhan 1 juta barel lainnya dari luar negeri.

"Jadi ini bisa dikalkulasikan 150 juta itu juga kurang kita juga mencari tambahan dari negara-negara lain termasuk yang dari Amerika," ucap dia.

Dia menerangkan, impor 150 juta barel minyak mentah ini merupakan kesepakatan antarpemerintah Indonesia dan Rusia. Menurutnya, tak seluruh minyak mentah itu akan diserap oleh PT Pertamina (Persero), tapi juga disebar ke perusahaan swasta atau sektor yang membutuhkan.

"Ini juga ada industri juga ya, kemudian ada kegiatan tambang juga. Jadi kan tidak terkait dengan ini, sepanjang kebutuhan dalam negeri ini kan kita bisa distribusikan untuk bahan baku petrokimia kan juga diperlukan juga," jelas dia.

Diimpor Bertahap

Yuliot mengatakan, impor 150 juta barel minyak dari Rusia tidak bisa dilakukan secara langsung. Ada keterbatasan penyimpanan minyak mentah di Indonesia.

"Skema-nya itu tidak bisa sekaligus. Itu kalau sekaligus itu kita memerlukan oil storage di dalam negeri. Itu akan dilakukan impor secara bertahap," tegas dia.

Dia meyakinkan lagi, jumlah tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumsi minyak mentah RI hingga akhir tahun. "Untuk pemenuhan kebutuhan sampai dengan akhir tahun," ujar dia.

Read Entire Article
Bisnis | Football |